10 Kabar Baik Penanganan Virus Corona di Yogyakarta dan Indonesia

10 Kabar Baik Penanganan Virus Corona di Yogyakarta dan Indonesia

Jumlah kasus Virus Corona (COVID-19) di Indonesia dan khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang masih terus bertambah dari hari ke hari.

Namun begitu, ada sejumlah kabar baik yang bisa menumbuhkan optimisme kita dalam melawan penyebaran Virus Corona.

Berikut beberapa di antaranya :

1. Angka kesembuhan lebih besar

Berdasarkan data Senin (11/5/2020), jumlah total kasus positif COVID-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebanyak 159 kasus. Dengan jumlah pasien yang sembuh di Yogyakarta sebanyak 61 orang.

Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kasus positif COVID-19 yang meninggal sebanyak 7 orang. Sementara pasien positif COVID-19 yang saat ini masih dirawat sebanyak 91 orang.

2. PDP Negatif Lebih Banyak

Demikian juga dengan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menunjukan angka negatif lebih banyak dibandingkan dengan PDP yang meninggal.

Jumlahnya yakni PDP negatif sebanyak 807 orang, PDP meninggal sebanyak 11 orang serta PDP yang masih dalam proses yakni 136 orang.

3. Pemetaan klaster penyebaran Virus Corona

Meskipun jumlahnya masih terus bertambah, namun Satgas COVID-19 di DIY telah berhasil memetakan sejumlah klaster penyebaran Virus Corona.

Terkini, yakni klaster supermarket di Sleman.

Berdasarkan data Senin (11/5/2020), klaster penyebaran virus corona dari sebuah supermarket di Sleman menyebabkan 13 orang positif COVID-19.

Tentu saja langkah contact tracking terhadap klaster-klaster penyebaran ini akan memudahkan mendeteksi secara dini orang-orang yang berisiko tertular virus corona.

4. Rapid Test Massal

Rapid Test massal terus digelar di Kabupaten dan Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal ini tentu bermanfaat untuk mendeteksi dini penyebaran Virus Corona.

Semisal di Gunung Kidul yang akan menggelar Rapid Test massal di 30 puskesmas.

Pemeriksaan ini difokuskan pada kelompok masyarakat tertentu.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul, Sumitro mengatakan sebanyak 2.020 alat RDT disiapkan untuk pemeriksaan massal tersebut.

“Pemeriksaan dilakukan mulai Selasa (12/05/2020) hingga Sabtu (16/05/2020), serentak di 30 Puskesmas di Gunungkidul,” kata Sumitro lewat jumpa pers, Senin (11/05/2020) sore.

Sasaran pemeriksaan Rapid Test massal ini antara lain 1,020 tenaga kesehatan di Puskesmas yang memiliki risiko tinggi, 238 ODP, serta 2 PDP dengan bejalan ringan.

Rapid Test juga ditujukan bagi 123 warga terkait Jemaah Tabligh, 610 pendatang dari wilayah transisi lokal, serta 27 pekerja migran.

Tak hanya itu, beberapa kabar baik secara nasional juga menambah keyakinan kita bahwa wabah virus corona ini mampu diatasi oleh seluruh elemen bangsa.

Beberapa kabar itu antara lain ;

1. BNPB prediksi kasus virus corona melandai pada Juni mendatang

Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Lilik Kurniawan memprediksi kasus COVID-19 di Indonesia mulai melandai pada bulan Juni mendatang.

Namun, Menurut Lilik, hal itu dapat terwujud apabila seluruh masyarakat berkontribusi dalam penanganan wabah ini.

“Kalau ini bisa kita lakukan bersama-sama, Insya Allah kita akan bisa melalui ini dengan baik,” kata Lilik dalam diskusi daring, Senin (11/5/2020).

“Mungkin setelah Mei ini, Juni sudah mulai landai dan nanti Insya Allah September kita sudah mulai menurun dan harapannya nanti di akhir tahun sudah baik,” sambung dia.

Kendati demikian, ia mengungkapkan, wabah COVID-19 belum dapat dipastikan akan benar-benar tuntas.

Sebab, hingga saat ini, belum ditemukan vaksin atas virus tersebut.

Menurutnya, pemerintah Indonesia juga sedang berusaha mengembangkan vaksin untuk COVID-19.

2. Pemetaan genom virus corona bertambah

Para ilmuwan Indonesia berhasil menambah pemetaan materi genetik dari virus corona penyebab Covid-19 yang menginfeksi pasien di Indonesia.

Saat ini, ada 9 isolat virus yang telah berhasil diurutkan.

Sebelumnya, ada tiga isolat yang telah dipetakan oleh tim ilmuwan Eijkman. Jadi, ada penambahan sebanyak 6 isolat.

“Jadi, dari Eijkman ada 7 (isolat yang berhasil diurutkan), kemudian 2 dari Unair” ungkap Direktur Lembaga Biologi Molekular Eijkman Profesor Amin Soebandrio sebagaimana dikutip Kompas.com, Minggu (10/5/2020).

Tiga di antaranya telah menunjukkan hasil analisis, sedangkan 6 sisanya masih berada dalam proses analisis.

Analisis genom ini dapat membantu ilmuwan melihat apakah virus corona di Indonesia memiliki kekerabatan dengan salah satu virus di negara lain.

4. Penggunaan tes cepat molekuler (TCM)

Selain menggunakan tes polymerase chain reaction (PCR), pemerintah kini juga menggunakan tes cepat molekuler (TCM) untuk memeriksa spesimen pasien Covid-19.

Tes ini mulai digunakan di satu laboratorium rumah sakit darurat Wisma Atlet, Kamis (7/5/2020).

Setidaknya, ada 15 mesin TCM yang teresebar di laboratorium seluruh Indonesia. Hasil tes menggunakan TCM terbilang cukup cepat, yaitu kurang lebih 2 jam.

Mengutip Kompas.com, 8 Mei 2020, ada 143.453 spesimen yang diperiksa dengan real-time PCR yang selama ini telah berjalan. Sementara itu, 328 lainnya diperiksa dengan TCM.

5. Indonesia terima 101 dukungan internasional

Setidaknya, ada 101 dukungan internasional dan dana bantuan senilai 80.134.024 dollar AS yang telah diterima oleh Indonesia untuk menangani pandemi corona.

Melansir Kompas.com, 6 Mei 2020, dukungan tersebut terdiri atas 9 dukungan pemerintah, 82 dukungan non pemerintah, dan 10 organisasi internasional.

Secara rinci, dukungan yang telah terealisasi sebesar 27.949.405 dollar AS. Sehingga, masih ada sekitar 52.184.619 dollar AS dukungan yang belum terealiasi.

Adapun dukungan pemerintah datang antara lain dari Amerika Serikat, epang, Uni Emirat Arab, China, Vietnam, Singapura, Australia, dan Korea Selatan.

Sedangkan dukungan non pemerintah antara lain datang dari Perancis, Rusia, Jepang, China, Vietnam, Singapura, dan Korea Selatan. Total dukungan non pemerintah ini mencapai 32.949.084 dollar AS.

6. Ventilator buatan UI lulus uji produk

Ventilator atau alat bantu pernapasan berbiaya rendah yang tengah dikembangkan oleh Universitas Indonesia (UI) telah lulus uji produk di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Jakarta.

Pada tahap awal, UI menargetkan akan memproduksi sebanyak 1.000 ventilator dalam waktu satu bulan.

Nantinya, ventilator tersebut akan diserahkan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19 melalui penggalangan donasi berbagai pihak yang dikoordinir Ikatan Alumni Fakultas Teknik UI (Iluni FTUI).

Sumber : https://jogja.tribunnews.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *