Yudian Wahyudi: Daya Tahan Pancasila Melebihi Ideologi Asing

Yudian Wahyudi: Daya Tahan Pancasila Melebihi Ideologi Asing

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyebut ideologi Pancasila memiliki daya tahan yang lebih kokoh dibanding ideologi asing di dunia. Hal itu disebabkan karena Pancasila mengadopsi nilai-nilai yang terkandung dalam tiga elemen, yakni agama, nasionalis, dan sosialis.

Menurut Yudian, ketahanan Pancasila tak lepas dari hasil renungan Presiden Pertama RI, Soekarno. Saat usianya masih 18 tahun, Bung Soekarno sudah mendalami beragam ideologi yang kala itu sudah lebih dulu eksis. Ketiga elemen ideologi tadi kemudian menginspirasi Soekarno untuk membentuk sebuah asas berbangsa dan bernegara bernama Pancasila pada 1 Juni 1945.

Yudian mengatakan, kekuatan Pancasila juga terlihat dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk. Pancasila terbukti berdiri kokoh dengan nilai Ketuhanan dan Kemanusiaannya meski sering mendapat ancaman dari ideologi asing. Ketahanan Pancasila berimplikasi pada ketahanan bangsa.

Menurutnya, hal ini tidak terjadi di negara lain. Ia membandingkan Indonesia yang dijajah jauh lebih lama dibanding negara India namun sanggup mengambil kemerdekaan lebih dulu.

India yang dijajah Inggris selama kurang lebih 200 tahun baru merdeka pada 1947. Sementara Indonesia yang dijajah Belanda dan Jepang selama lebih dari 350 tahun mampu merdeka dua tahun sebelumnya, yakni pada 1945.

India sendiri pasca Kemerdekaan justru mengalami perpecahan antara warga muslim dengan penganut agama Hindu yang kemudian lahir negara Pakistan.

“Kendati sudah merdeka, negara negara muslim lain kemudian terpecah pecah. Berbeda dengan Indonesia yang tetap bersatu. Ini merupakan berkat dari konsep asas negara yang dirumuskan Soekarno,” kata Yudian dalam webinar bedah buku “Asas Kehidupan Berbangsa dan Bernegara: Jejak Pemikiran Soekarno” karya Prof. Hamka Haq, Selasa, (18/8).

Di negara-negara muslim, kata Yudian, perpecahan begitu dominan terjadi akibat kelemahan idelologi yang dipegang. Arab Saudi, sebagai negara yang dinilai merepresentasikan Khilafah Islamiyyah justru bertolak belakang dengan konsep negaranya saat ini yang berupa kerajaan.

“Negara Arab Saudi tidak mendirikan khilafah, namun justru kerajaan yang padahal dikutuk oleh umat Islam sejak jaman Dinasti Mua”awiyah,” tegas Yudian.

Arab Saudi tidak sendirian dalam melahirkan kemerdekaan kerajaannya pada 1932. Raja Abdul Aziz II yang berkuasa saat itu, disokong oleh Inggris menyerang Riyadh dan Ha’il yang kemudian dapat merebutnya dari kekuasaan Turki Utsmani. Sewaktu Perang Dunia I berkecamuk, Turki Utsmani menarik mundur angkatan bersenjatanya dari negeri Arab.

Arab Saudi dan Turki Utsmani merupakan umat muslim yang memiliki ideologi yang berbeda. Namun Saudi bersekongkol oleh Inggris yang secara ideologi tentu berbeda dengan keyakinan umat muslim. Yudian menyebut kemerdekaan Arab Saudi inipun adalah bentuk pengkhianatan dari khilafah Dinasti Utsmani yang kala itu menguasai jazirah Arab.

Dalam konteks Dinasti Utsmani, Yudian juga menjelaskan fenomena perpecahan yang terjadi di internal dan eksternal kekuasaan. Menurutnya, jika ideologi Turki Utsmani memiliki kekuatan yang kokoh, seharusnya tidak terjadi perpecahan, bahkan konflik berdarah dengan kelompok lain yang secara teologi masih satu keyakinan.

Turki Utsmani berkuasa lebih dari enam abad. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian Asia, Afrika, dan Eropa. Puncak kejayaan Utsmani berlangsung pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1566). Akan tetapi, pasca itu Utsmani semakin lemah karena konflik internal dan kalah perang melawan bangsa Eropa. Kerajaan Utsmani pun akhirnya diganti dengan Republik Turki pada masa kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk.

Dari fenomena itu, kata Yudian, bangsa muslim di negara lain umumnya kerap berseteru pada sesamanya. Padahal, konflik itu tak lepas dari masalah ideologi dan seringkali bersinggungan dengan politik.

Namun, ia menyebut Pancasila berbeda dengan negara-negara tersebut. Pancasila justru muncul dari nilai kemajemukan bangsa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan yang dicetuskan Bung Karno untuk menyatukan berbagai elemen bangsa pun terjadi secara damai tanpa harus memakan korban.

Soekarno, kata Yudian, sudah mengamati pergolakan ideologi dan politik yang terjadi pada saat di dunia. Hal tersebut lah yang mengilhaminya untuk membentuk sebuah konsep negara berasaskan Pancasila.

Jika Arab Saudi justru mengkhianati Turki Utsmani dengan membentuk kerajaan sendiri, Pancasila justru mempersatukan kerajaan-kerajaan yang awalnya terjajah di Nusantara. “Tapi di Indonesia, betapa hebatnya bangsa Indonesia ini yang hari itu berada di bawah proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta,” kata Yudian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *