Waspadai Ancaman Radikalisme Di Tengah Wabah Covid-19

Waspadai Ancaman Radikalisme Di Tengah Wabah Covid-19

Pemerintah harus tegas dan integratif dalam menangani pandemi wabah virus corona atau Covid-19.

Sebab, selain wabah, ancaman lainnya mulai muncul di tengah masyarakat yaitu krisis multidimensi.

Pernyataan itu menyeruak dari diskusi online yang digelar Lembaga Kajian Dialektika (LKD) dengan tema “Ancaman Radikalisme di Tengah Wabah Pandemi Covid-19”, Jumat (17/04/2020) malam.

Salah satu pembicaranya, Rezky Tuanany (Pemuda Bravo 5) mengatakan, pemerintah harus melakukan penerapan kebijakan dalam penanganan Covid-19 bukan hanya dalam hal penanganan di sektor kesehatannya saja.

Tapi juga efek lain yang muncul di masyarakat, yaitu persoalan ekonomi dan ancaman terhadap situasi keamanan dan ketertiban.

“Akibat wabah pandemi ini, kita tahu bahwa sektor usaha banyak yang lumpuh. Banyak orang yang tidak bisa bekerja. Termasuk generasi milenialnya. Nah, ini yang juga harus segera diatasi oleh pemerintah. Harus ada kebijakan untuk generasi milenial yang terimbas secara ekonomi akibat penyebaran wabah,” katanya.

Akibat lumpuhnya usaha di sektor ekonomi, lanjut Rezky, berpotensi menimbulkan ancaman terhadap gangguan keamanan dan ketertiban.

“Karena itulah, peran TNI, Polri dan BIN harus makin dikedepankan dan diperkuat dengan berbagai dukungan lintas sektor,” tutur Rezky.

Ancaman munculnya radikalisme di tengah penanganan pandemi Covid-19 itu dapat memicu konflik sosial.

Sebagai contoh, kata Rezky, soal kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang memberikan prioritas pada warga dari kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan.

Sementara, dari kalangan perantau dan milenial belum ada program khusus.

Menurutnya, karena ruang aktivitas ekonominya tertutup, kondisi itu berpotensi melahirkan paham radikal di tengah masyarakat.

Sebab radikalisme bisa disebabkan oleh dua hal, yakni penyebaran ideologi dan faktor ekonomi.

“Dan saat ini, radikalisme paling potensial disebabkan oleh ekonomi,” Rezky menegaskan.

Perlu diperhatikan, Rezky melanjutkan, interaksi orang-orang terkini lebih sering berbentuk virtual untuk menghindari kontak fisik demi mencegah penyebaran Covid-19.

Akibat dari situasi itulah pandemi Covid-19 bisa membawa perubahan yang ekstrem di tengah masyarakat, terutama potensi penyebaran paham radikalisme.

Potensi penyebaran paham radikal di tengah pandemi Covid-19 juga disampaikan oleh Jenny Saragih dari Young Interfaith Peacemaker Community.

Menurutnya, mahasiswa dan pelajar menjadi kelompok yang paling rawan terpapar paham radikal.

“Peluang mereka terpapar dengan isu-isu radikalisme dan terorisme jadi semakin tinggi, karena waktu yang digunakan di ruang virtual saat pandemi Covid-19 ini lebih banyak,” kata Jenny.

Untuk mencegahnya, Jenny mengusulkan adanya dialog yang mendalam yang membahas tentang prasangka-prasangka atau kesalahpahaman yang menyebabkan tindakan intoleran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *