Toleransi dan Nilai Kemanusiaan Fondasi Perdamaian Dunia

Toleransi dan Nilai Kemanusiaan Fondasi Perdamaian Dunia

Suarayogyakarta.com – Kesepakatan bersama untuk menjunjung nilai kemanusiaan merupakan salah satu upaya mewujudkan perdamaian dunia. Kondisi itu mensyaratkan toleransi dalam setiap benak manusia.

Hal ini dibahas dalam Forum Eurasia Centrist Democratic International (CDI) yang diadakan di Hotel Hyatt, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (24/1/2020). CDI adalah organisasi yang terdiri atas partai-partai lintas negara yang berhaluan demokrasi, moderat, dan anti-radikalisme.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi salah satu anggota perkumpulan tersebut setelah bergabung pada 2019. Pada 2020, PKB ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tahunan.

”Saat ini, khususnya bagi negara yang menganut demokrasi, sedang dihadapkan pada tantangan serius, yaitu masalah intoleransi, penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, diskriminasi, ataupun kekerasan berbasis etnis, agama, radikalisme, dan terorisme. Kebebasan berekspresi yang dijamin teknologi informasi dimanipulasi untuk menyebarkan hal negatif,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin saat menjadi pembicara kunci pada forum itu.

Wapres Amin menuturkan, kondisi itu merusak kehidupan harmonis yang telah terbangun sejak lama. Terjadi kegaduhan yang mengancam demokrasi. Dialog dan kesepakatan bersama untuk saling menerima terkesan diabaikan. Untuk itu, semua pihak yang mencintai perdamaian bertugas memajukan dialog dan kesepakatan itu demi menciptakan keharmonisan.

Selanjutnya, Amin ingin mengajak semua pihak merefleksikan nilai universal dari agama berupa pencerahan. Agama hadir untuk menyelesaikan persoalan umat manusia sehingga mencapai kehidupan yang damai. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, agama dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadi sumber konflik.

”Nilai-nilai luhur tentang perdamaian dan kesetaraan perlu digaungkan kembali dan dijalinkan dalam kehidupan generasi muda untuk mewujudkan perdamaian dunia. Demi mewujudkan masa depan manusia yang lebih baik, damai lahir dan batin,” ujar Wapres.

Franz Magnis-Suseno, rohaniwan Katolik, mengungkapkan, secara umum, kondisi toleransi antarumat beragama di Indonesia masih tinggi. Negara dengan mayoritas agama Islam ini mengakui keberadaan umat beragama lainnya.

Namun, ia melihat, masih ada hal yang perlu disoroti. Tidak semua umat beragama atau penganut kepercayaan tertentu belum sepenuhnya bebas dalam mewujudkan ekspresi keagamaannya. Entah dengan pelarangan pembuatan tempat ibadah ataupun adanya ancaman bagi umat yang akan beribadah.

”Jadi ada kekurangan. Hanya 2-3 persen masyarakat yang mengalaminya. Ini termasuk komunitas agama-agama tradisional. Kita seharusnya toleran terhadap mereka juga. Kondisi ini perlu diperbaiki dan itu menjadi tugas negara,” tuturnya.

Franz Magnis-Suseno menambahkan, masyarakat masih harus banyak belajar menerima perbedaan. Jangan sampai ada perasaan terancam karena ada kelompok lain yang punya keyakinan berbeda. Umat beragama perlu saling mendukung satu sama lain dalam menjalankan ibadah masing-masing. Kondisi itu niscaya menjamin terciptanya kehidupan harmonis dalam keberagaman.

Selanjutnya, dia menyatakan, forum itu membawa harapan untuk kehidupan bertoleransi yang semakin baik. Sebab, pertemuan antara perkumpulan partai Eropa yang kebanyakan berbasis Kristen dan PKB yang berbasis Islam itu menghasilkan kesepakatan bersama untuk menciptakan perdamaian. ”Keduanya bersama-sama menjunjung tinggi kemanusiaan. Saya juga bisa katakan kemanusiaan yang adil dan beradab,” ucapnya.

Presiden CDI Andres Pastrana Arango menyampaikan, dialog lintas agama bagi kehidupan politik merupakan hal penting bagi organisasinya. Ia melihat bagaimana PKB melakukan upaya tersebut dalam menjalankan kehidupan berbangsa. Menurut dia, perlu dibangun persaudaraan bagi seluruh umat manusia di dunia.

”Perlu kita bangun dunia yang penuh perdamaian, lebih inklusif, menghargai HAM, dan keadilan sosial bagi semua. Hari ini, kita tegaskan, kompromi kita adalah untuk membangun harkat manusia yang beradab,” ucap Pastrana.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, umat manusia harus menemukan landasan bersama guna mengelola perbedaan. Konflik dicegah dengan mengupayakan dialog damai. Tidak dimungkiri, agama kerap kali digunakan sebagai senjata bagi sekelompok orang untuk memunculkan pertikaian.

Namun, lanjut Muhaimin, keadaan ini bisa ditangkal dengan menanamkan prinsip persaudaraan yang mendasarkan pada perilaku adil sederajat tanpa membeda-bedakan. Tidak ada pula rasa kebencian dan keinginan untuk saling menyingkirkan.

”Yang kita butuhkan adalah upaya tulus dan konkret untuk menawarkan prinsip (perdamaian) ini kepada dunia dan mengundang siapa pun yang berkehendak baik dari setiap agama dan bangsa untuk menerima prinsip ini sebagai landasan peradaban global yang menumbuhkan kerja sama dan saling menghormati,” kata Muhaimin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *