RUU Cipta Kerja disebut jadi kunci penting mencapai pertumbuhan ekonomi

RUU Cipta Kerja disebut jadi kunci penting mencapai pertumbuhan ekonomi

Jakarta – Indonesia menapaki usia ke-75 tahun tepat pada tanggal 17 Agustus 2020. Memasuki usia ke-75, perekonomian Indonesia sedang mengalami pertumbuhan negatif akibat pandemi Covid-19. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar -5,32% yoy pada kuartal 2-2020.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan terjebak di angka 5%. 

Menurutnya untuk bisa mempertahankan 5% saja sebenarnya sulit. Ia menyebutkan, sebelumnya negara China juga mengalami pertumbuhan yang selalu di atas 10%, namun dalam tiga tahun terakhir China hanya tumbuh di kisaran 6%. 

“Kita tidak terjebak sih, karena size ekonomi Indonesia untuk mempertahankan 5% saja itu sebenarnya sulit,” Ujar Iskandar saat dihubungi KONTAN, Senin (17/8). 

Menurutnya, jika ingin ingin tumbuh di atas 5% seharusnya kegiatan ekspor dan investasi perlu didorong. “karena kalau hanya mengandalkan konsumsi dalam negeri dan ekspor maka ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 5%,” tambahnya. 

Untuk itu, saat pemerintahan baru kedua di era Presiden Joko Widodo telah menetapkan lima program prioritas yakni seperti infrastruktur, sumber daya manusia serta transformasi ekonomi yang berorientasi pada kegiatan ekspor. 

Sehingga, sumber daya alam yang diproses menjadi barang industri juga bernilai dan mampu memiliki daya saing yang tinggi.  “Tentu saja untuk menghasilkan itu diperlukan investasi yang besar juga. Gimana untuk menarik investasi? Ya diperlukan iklim usaha yang baik, Indeks Kemudahan Berbisnis (EODB) yang baik, perijinan yang cepat dan mudah,” ujarnya.

Untuk itu, saat pemerintahan baru kedua di era Presiden Joko Widodo telah menetapkan lima program prioritas yakni seperti infrastruktur, sumber daya manusia serta transformasi ekonomi yang berorientasi pada kegiatan ekspor. 

Sehingga, sumber daya alam yang diproses menjadi barang industri juga bernilai dan mampu memiliki daya saing yang tinggi.  “Tentu saja untuk menghasilkan itu diperlukan investasi yang besar juga. Gimana untuk menarik investasi? Ya diperlukan iklim usaha yang baik, Indeks Kemudahan Berbisnis (EODB) yang baik, perijinan yang cepat dan mudah,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *