Tanya Jawab tentang Rasisme dan Diskriminasi Papua

Tanya Jawab tentang Rasisme dan Diskriminasi Papua

Belakangan ini isu rasisme dan diskriminasi Papua kembali mencuat. Ada persepsi negatif dan anggapan bahwa mahasiswa Papua sebagai sumber masalah. Berikut pandangan Bambang Purwoko, Ketua Gugus Tugas Papua (GTP) UGM.

Apa pendapat Anda tentang munculnya kembali isu rasisme dan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua?

Harus dibedakan antara rasisme dan persepsi tentang rasisme. Kadang-kadang sesuatu yang bukan rasis, dianggap sebagai rasis.

Tetapi rasisme bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat mana saja. Tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa terhadap mahasiswa Papua misalnya, tetapi bisa juga oleh orang Papua terhadap orang Jawa.

Juga harus dibedakan antara diskriminasi dan penerimaan sosial kelompok masyarakat yang satu terhadap kelompok masyarakat yang lain. Ketika satu kelompok masyarakat tertentu tidak bisa sepenuhnya menerima kedatangan kelompok masyarakat lain, tidak bisa dikatakan sebagai sikap diskriminasi. Harus dilacak akar masalahnya.

Kalau sekarang tiba-tiba hangat, sangat mungkin bahwa itu adalah bagian dari “perjuangan” untuk mengangkat kembali isu rasisme dan diskriminasi untuk kepentingan politik tertentu, yang dilakukan oleh aktivis gerakan politik Papua.

Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Secara positif hal ini bisa kita anggap sebagai sesuatu yang bagus. Ini perlu untuk menyadarkan kita semua, apapun latar belakang agama ataupun kesukuan kita, untuk bisa lebih toleran dalam kata-kata dan tindakan. Jangan hanya manis di mulut tapi busuk di hati.

Pengalaman saya dan beberapa teman dari GTP UGM berdialog dengan tokoh dan warga masyarakat (Dusun Jetis desa Wedomartani, Dusun Onggomertan Desa Maguwoharjo) dua tahun lalu, rasisme terhadap mahasiswa Papua dan diskriminasi memang nyata ada dalam kata-kata dan tindakan mereka.

Sungguh sangat menyakitkan ketika kami harus mendengar pernyataan keras yang rasis dan diskriminatif dari saudara-saudara kita di Jogja, padahal sebagian mereka juga sama-sama pendatang di Jogja.

Apa yang sebaiknya harus dilakulan?

Hal semacam ini secara sosial menjadi “PR” atau pekerjaan rumah yang harus kita benahi. Harus dibangun komunikasi dan sosialisai yang baik agar ada persepsi yang benar terhadap saudara-saudara kita dari Papua. Agar ada penerimaan yang baik terhadap kehadiran mahasiswa Papua di Jogja. Ini menjadi PR kita.

Selain itu juga ada PR untuk saudara-saudara kita mahasiswa Papua. Para mahasiswa sebagai kelompok intelektual adalah duta atau utusan yang mencerminkan masyarakat Papua secara luas. Apa yang dilakukan mahasiswa Papua di Jogja memberi gambaran tentang keseluruhan masyarakat Papua.

Buktikan bahwa mahasiswa Papua di Jogja adalah pembelajar yang baik: rajin belajar, disiplin, tekun, tepat waktu. Buktikan bahwa mahasiswa Papua di Jogja bisa berperilaku sopan, hidup damai dengan lingkungan, tidak suka membuat keributan.

Buktikan bahwa mahasiswa Papua datang ke Jogja benar-benar datang untuk kuliah, bukan gemar demo politik kibarkan bendera melawan negara.

Selain hal-hal di atas, hal penting apa yang juga harus dilakukan mahasiswa Papua?

Menurut saya, mahasiswa Papua harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Berpikir, berkata, dan berperilaku positif: tidak mabuk, tidak makan dan buang ludah pinang sembarangan, bergaul baik dengan masyarakat sekitar, patuhi hukum dan peraturan yang berlaku.

Contoh paling konkretnya bagaimana?

Kita bisa melihatnya dari hal-hal keseharian yang sederhana. Apakah para mahasiswa rajin berangkat kuliah tepat waktu? Atau santai-santai dan sering terlambat bahkan tidak mengerjakan tugas dan tidak ikut ujian?

Apakah kalau naik sepeda motor selalu memakai helm? Punya SIM? Atau sebaliknya? Naik sepeda motor tanpa SIM tanpa helm, bahkan berboncengan tiga orang dan tidak mematuhi rambu-rambu di jalan?

Apa yang saya katakan ini bukan sekadar persepsi atau opini. Ini pengalaman langsung bertahun-tahun berinteraksi dengan mahasiswa Papua di Jogja. Juga mendengar cerita dan curhat aparat keamanan yang sering bertugas di jalan.

Itulah PR serius yang harus dikerjakan dan diperbaiki oleh setiap mahasiswa Papua.

Tadi disebutkan kalau semua itu Anda melihatnya secara positif. Kalau secara negatif bagaimana?

Secara negatif, diangkatnya isu rasisme dan diskriminasi oleh kelompok-kelompok tertentu, khususnya aktivis gerakan politik Papua, adalah bagian dari strategi gerakan untuk membangkitkan sentimen anti Indonesia.

Perlakuan sebagian kecil masyarakat non Papua terhadap para mahasiswa Papua sebagaimana saya contohkan di atas, dianggap sebagai representasi sikap masyarakat luas, dan juga representasi sikap negara terhadap orang Papua.

Bagaimana sebenarnya respon negara terhadap permasalahan ini?

Nah itu dia. Di satu sisi kita berusaha membangun sikap baik masyarakat terhadap mahasiswa Papua, di sisi lain memang masih terdapat kebijakan-negara negara yang belum benar-benar akomodatif terhadap permasalahan sosial politik Papua. Pendekatan pembangunan yang gencar dilakukan, dianggap mengabaikan terhadap persoalan HAM dan kebutuhan dasar masyarakat Papua.

Tentang pelanggaran HAM sebenarnya banyak yang merupakan warisan masa lalu, tetapi terus direproduksi untuk menekan negara.

Pendekatan keamanan juga terlihat ambivalen. Di satu sisi aparat keamanan bersikap tegas dan keras terhadap mahasiswa Papua, tetapi seolah membiarkan gerakan-gerakan separatis bersenjata di Papua yang nyata-nyata melawan negara.

Aparat keamanan sangat sigap membongkar dan menangkap mereka yang dianggap “terduga teroris” di luar Papua, tetapi di Papua teroris-teroris bersenjata itu dibiarkan saja.

Kembali ke masalah mahasiswa, mengapa masih ada persepsi tentang rasisme dan diskriminasi?

Ya itu kombinasi antara persepsi ataupun sikap masyarakat dan sikap dari para pejabat negara/pejabat daerah yang tidak sepenuhnya mendukung keberadaan mahasiswa Papua.

Mahasiswa Papua dipersepsi sebagai sumber masalah, sehingga menyebabkan rendahnya penerimaan sosial oleh warga dan pejabat di sini.

Sayangnya, persepsi negatif tersebut seringkali mudah menemukan bukti nyatanya.

Ibarat telur dan ayam, entah mana yang lebih dulu menjadi sumber masalah: persepsi atau kelakuan negatif sebagian kecil mahasiswa Papua (yang sangat merugikan mayoritas mahasiswa Papua lainnya).

Cobalah ini kita renungkan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *