PSP UGM: Pendidikan Karakter Jadi Filter Intoleransi

PSP UGM: Pendidikan Karakter Jadi Filter Intoleransi

Tren kelompok intoleran dan pelaku teror disebut berubah dari kalangan pesantren ke kalangan dengan dasar pendidikan karakter yang rendah. Pendidikan karakter mampu mencegah kerusakan bangsa, termasuk yang ditimbulkan oleh intoleransi, radikalisme agama, dan terorisme.

Hal ini mengemuka di diskusi ‘Menangkal Gerakan Intoleran, Radikalisme, dan Tindakan Sosial-Budaya Tak Wajar Melalui Pendidikan Karakter’ di Kantor Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Jumat (28/2). Kegiatan ini digelar oleh Pusat Studi Pancasila UGM, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, dan Yayasan Sinergi Bangsa.

Salah satu pembicara, eks narapidana kasus terorisme, Saifuddin, menyatakan saat ini terjadi perubahan tren kelompok teroris yang berlatar belakang preman. “Berbeda dengan dulu yang mayoritas berasal dari pesantren,” ucap anggota jaringan teroris Hambali di kasus bom Bali ini.

Hal itu terjadi lantaran seseorang memiliki pikiran yang tidak logis dan masifnya propaganda kelompok radikal. “Jika tidak memiliki filter karakter, paham radikal dapat menyusup kepada siapa saja,” lanjut Saifuddin yang menyesali perbuatannya karena menyebabkan kerusakan berskala besar di masa lalu.

Peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Diasma Sandi Swandaru, menjelaskan pembangunan bangsa dan karakter menjadi kunci untuk mencegah kerusakan di Indonesia. Banyak negara dibentuk karena kesamaan wilayah, agama, bahasa, suku, dan warna kulit, tapi Indonesia dibentuk di atas segala perbedaan itu. Untuk itu, cara pandang dalam membangun bangsa yang besar harus disiapkan.

“Berdasar riset, kepribadian manusia pada awalnya terlahir baik dan akan dibentuk melalui sosialisasi dan pendidikan. Keberhasilan seseorang 80% dipengaruhi karakter dan 20% ditentukan kemampuan akademik. Dari aspek itulah, pendidikan karakter bangsa, sejak dini, sangatlah penting untuk menjaga masa depan Indonesia,” ujarnya.

Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Aturan ini, kata Diasma, dapat digunakan sebagai landasan untuk mewujudkan masyarakat maju. “Pelajar dan pemuda saat ini 100% memikul kemajuan dan masa depan bangsa Indonesia,” tutur dia di depan para pelajar yang mengikuti diskusi ini.

Direktur Eksekutif Yayasan Sinergi Bangsa Hendro Muhaimin menyatakan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki basis kebudayaan, pendidikan, dan kemajemukan yang luar biasa. “Tentunya ini menjadi lahan yang sangat potensial bagi lahirnya aksi radikal, baik yang dilatarbelakangi oleh sentimen agama, suku, dan golongan, maupun latar belakang lainnya,” ucapnya.

Untuk itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono menyampaikan, pihaknya telah menginstruksikan agar sekolah-sekolah di Sleman menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan ini disisipkan di setiap pelajaran sehingga dapat membentuk watak siswa.

“Di tengah kemajuan teknologi informasi, terjadi gempuran kebudayaan yang dapat mencerabut anak didik dari akar budaya. Oleh karena itu, pendidikan karakter dapat digunakan sebagai penangkal atau filter budaya,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *