Peristiwa di AS tidak tepat disamakan untuk menyuarakan kasus Papua

Peristiwa di AS tidak tepat disamakan untuk menyuarakan kasus Papua

Salah satu orang yang pertama kali mengaitkan #Blacklivesmatter dengan kasus-kasus di Papua adalah Veronica Koman, pengacara yang banyak menangani kasus HAM di Papua, serta mencuitkan sejumlah cuitan dengan tagar #Papuanlivesmatter.

Veronica tak menampik menggunakan momentum kematian George Floyd, warga Amerika Serikat keturunan Afrika, untuk yang disebutnya “membangkitkan kesadaran untuk menghentikan rasisme terhadap orang kulit hitam, termasuk pada masyarakat Papua”.

“Karena di mana-mana sekarang momentumnya kesadaran‚Ķ ada di berbagai negara. Misalnya di Australia sini mulai berdengung kencang ‘Aboriginal Lives Matter’… Kemudian di Eropa juga sama,” ujar Veronica, yang kini masih berstatus tersangka dugaan provokasi dalam peristiwa di asrama mahasiswa Papua di Surabaya tahun 2019.

“…Jadi di mana-mana, di dunia lagi bergulir kebangkitan akan kesadaran hentikan rasisme terhadap orang berkulit hitam. Memang namanya untuk fighting injustice (melawan ketidakadilan), nggak ada salahnya juga untuk menaikkan awareness soal ini.”

Namun, Rumadi Ahmad, Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Politik, Hukum, Keamanan dan HAM mengatakan kasus George Floyd tak seharusnya dikaitkan dengan apa yang terjadi di Indonesia.

“Apa yang terjadi di AS tidak perlu dibawa ke Indonesia. Apa yang terjadi di AS tidak sama dengan apa yang terjadi di Indonesia. Saya yakin masyarakat Indonesia juga paham hal itu,” kata Rumadi.

“Masyarakat perlu waspada jika ada pihak-pihak yang mau memanaskan situasi politik Indonesia dengan memanfaatkan kasus George Floyd.”

Seberapa populer cuitan ‘Papuan Lives Matter’?

papua
Image captionMassa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua Sejawa-Bali melakukan aksi unjuk rasa damai di Depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019).

Menurut data Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, dalam periode 27 Mei hingga 3 Juni siang hari, cuitan yang mengandung kata-kata Papuan Lives Matter mencapai puncaknya di tanggal 29 dan 30 Mei.

Saat itu, jumlah cuitan mengenai Papuan Lives Matter mencapai lebih dari 7.500.

Lebih dari 70% cuitan itu menunjukkan sentimen negatif. Akun yang paling banyak dikomentari netizen adalah akun Veronica Koman.

“[Kata Papuan Lives Matter di Twitter] tinggi karena ada tagar #Blacklivesmatter di dunia,” kata Rustika.

papua

Namun, kata Rustika, tidak semua cuitan itu asli.

“Ada bot-nya. Atau ikut-ikutan bikin tagar supaya potensi keterbacaan cuitannya lebih besar. Jadi mereka me-mention tagar, tapi isinya hal lainnya yang tidak berhubungan,” kata Rustika.

‘Pemerintah serius membangun Papua’

Merespons sejumlah kasus yang disebutkan Emanuel Gobay, Rumadi Ahmad, Tenaga Ahli Utama Kedeputian V KSP mengatakan “diskriminasi terhadap siapapun tidak boleh terjadi.”

“Pemerintah berupaya dengan sangat serius untuk melakukan pembangunan di Papua, untuk pemerataan dan keadilan bagi rakyat Papua. Memang tidak ada yang sempurna. Kalau masih ada kekurangan harus diperbaiki bersama,” ujarnya.

Meski begitu, Rumadi mengatakan, semua pihak termasuk pemerintah Indonesia harus belajar dari kasus George Floyd.

“Persoalan rasialisme itu hal yang sangat serius. AS yang sudah ratusan tahun merdeka saja masih menyimpan bara rasialisme yang sangat dalam,” ujarnya.

Sementara itu, tagar yang sama #Papualivesmatter juga dicuitkan pihak TNI yang menunjukkan sejumlah kegiatan mereka di Papua. Tagar itu diikuti pula tagar #WelovePapua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *