Pemerintah Percepat Diversifikasi Pangan Lokal

Pemerintah Percepat Diversifikasi Pangan Lokal

Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot upaya diversifikasi pangan lokal demi menurunkan konsumsi beras nasional. Konsumsi beras ditargetkan turun dari 92,90 kilogram (kg) per kapita per tahun pada tahun ini menjadi 85 kg per kapita per tahun pada 2024.

Diversifikasi juga diharapkan dapat menumbuhkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) pangan sebagai penyedia pangan lokal. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Kementan mengupayakan diversifikasi pangan sebagai salah satu program peningkatan ketersediaan pangan di era normal baru.

Program ini sebagai Cara Bertindak (CB) 2 yang mencakup diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal yang fokus pada komoditas pangan lokal tertentu, pemanfaatan pangan lokal secara masif, dan pemanfaatan lahan pekarangan.

“Kita kampanyekan gerakan diversifikasi pangan lokal. Kita nyatakan diverifikasi pangan lokal adalah kekayaan dan budaya bangsa. Bukan hanya beras yang kita miliki, tapi kita juga punya berbagai pangan lain, ada ubi-ubian, jagung, sorgum, sagu, kentang, labu, dan lainnya” ujar SYL di Jakarta, kemarin.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi mengungkapkan, terdapat banyak potensi pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan, yang dapat diidentifikasi dan didorong agar tiap provinsi mempunyai komoditas pangan lokal andalan.

“Diversifikasi pangan adalah bagaimana kita tidak bergantung pada pangan tertentu khususnya beras. Kita punya kearifan lokal untuk diangkat sebagai komoditas alternatif pengganti beras, itu yang harus kita dorong di semua daerah” ujar Agung.

Kementan telah meminta setiap daerah untuk fokus pada satu atau dua komoditas pangan lokal sumber karbohidrat nonberas agar potensi pangan lokal dapat secara optimal dikembangkan sesuai keunggulan wilayah. BKP Kementan juga telah memetakan sasaran lokasi pengembangan pangan lokal dan action plan yang mencakup ketersediaan bahan baku, aksesibilitas, dan pemanfaatannya.

Sesuai peta itu, terdapat enam pangan lokal sumber karbohidrat yang potensial dikembangkan, yaitu singkong, talas, sagu, kentang, pisang, dan jagung.

“Untuk mencapai target 85 kg per kapita pada 2024, produksi pangan lokal itu harus naik dan yang penting ada yang mengolah, saat ini permintaan terus meningkat, kita akan bantu dorong pemasarannya melalui Pasar Mitra Tani di seluruh provinsi. Pangan lokal ini bisa dikonsumsi langsung sebagai pengganti nasi. Itu yang kita harapkan, kita dorong ini sebagai bahan pangan pengganti beras,” jelas Agung.

Dalam peta jalan (roadmap) penurunan konsumsi beras yang dibuat Kementan, penurunan konsumsi beras selama lima tahun (2020-2024) adalah sebesar 7% setara dengan 1,78 juta ton atau 2 kg per kapita per tahun senilai Rp 17,78 triliun.

Dengan target tersebut maka konsumsi ubi kayu, kentang, jagung, sagu, talas, dan pisang sebagai sumber karbohidrat juga ditargetkan meningkat (substitusi 7% kebutuhan beras). Melalui upaya intervensi (percepatan diversifikasi pangan lokal) jika pada 2019 konsumsi beras masih 94,90 kg per kapita, pada 2020 turun menjadi 92,90 kg per kapita, pada 2021 menjadi 90,90 kg per kapita, pada 2022 sebesar 89 kg per kapita, pada 2023 menjadi 87 kg per kapita, dan pada 2024 menjadi 85 kg per kapita.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop dan UKM) Teten Masduki juga mendukung gerakan diversifikasi pangan lokal yang digagas Kementan karena dinilai berpengaruh cukup besar dan bisa menjadi kekuatan ekonomi baru karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kemenkop juga menyiapkan program penguatan warung sembako yang akan menjadi rantai perdagangan distribusi pangan.

“Secara teknis, kami juga menyiapkan segala sesuatu dari sisi hilir sedangkan sisi hulu disiapkan Kementan. Kami akan siapkan ribuan warung di Jabodetabek yang terhubung lewat aplikasi termasuk inventory management-nya agar produk pangan mudah didapatkan masyarakat,” ujar Teten.

Secara garis besar, Kemenkop dan UKM serta Kementan akan saling berkoordinasi, kerja sama yang akan dilakukan adalah mengintegrasikan petani skala kecil dengan pengusaha dan membuat lini bisnis go digital dan memberikan pendampingankepada petani mengenai perkembangan terbaru dalam dunia usaha.

SYL menyambut baik kerja sama tersebut, mengingat pertanian adalah sektor terkuat selama pandemic Covid-19 dan berkontribusi besar terhadap kinerja ekspor nasional.

“Kami apresiasi Kemenkop dan UKM dalam menciptakan warung yang bisa menjadi sarana diversifikasi pangan,” ujar SYL.

Dengan diversifikasi maka diharapkan pangan lokal memiliki daya saing, tidak hanya sebatas pangan untuk dikonsumsi tapi ada nilai tambahnya. Pangan lokal bisa diolah menjadi produk bermanfaat dan bernilai jual tinggi, semakin tinggi nilai jualnya semakin tinggi pasar ekspornya, pangan lokal bisa dijadikan santapan ringan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *