Netralitas ASN Tentukan Kesuksesan Pilkada

Netralitas ASN Tentukan Kesuksesan Pilkada

JAKARTA – Kunci sukses Pilkada Serentak 2020 tidak hanya bergantung pada partisipasi masyarakat. Lebih dari itu, kesuksesan pilkada juga terletak bergantung kenetralan Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Bagaimana netralitas ASN sangat menentukan,” ujar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Tjahjo Kumolo mengatakan, dalam Webinar Netralitas dan Kewaspadaan Politisasi ASN dalam Pilkada Serentak Tahun 2020.

Tjahjo meminta ASN tidak memihak kepada salah satu pasangan calon, terutama apabila pasangan tersebut merupakan petahana. Tjahjo meminta penyelenggara pemilu dan aparat penegakan hukum untuk memberikan sanksi jika ada para ASN yang terbukti melakukan pelanggaran.

Badan Pegawas Pemilu (Bawaslu) disebutnya harus melakukan pengawasan lebih ketat lagi.

“Kalau ada pasangan calon ikut menggerakkan, apalagi petahana menekan anak buah, baik anggaran, program dan perannya, saya kira segera diberikan sanksi yang tegas,” tegasnya.

Tjahjo juga berharap partai politik (parpol) tidak menggerakkan ASN untuk mengatrol suara di Pilkada Serentak 2020. Tjahjo mengingatkan, kebijakan menjaga netralitas ASN sudah menjadi kesepakatan bersama antara Komisi II DPR RI, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP), Komisi Pemilihan Umum, dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

“Kami harap pada Pilkada 2020 ada komitmen seluruh parpol, komitmen para calon untuk tidak menggerakkan ASN-nya. Netralitas ASN dalam Pilkada ini sudah menjadi kesepakatan antara Komisi II, Kemendagri, DKPP, KPU, Bawaslu,” ujar Tjahjo.

Politik Kekerabatan
Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, netralitas ASN akan semakin memburuk jika ditambah lagi dengan persoalan politik kekerabatan di partai politik setiap daerah.

Karena itu, Titi menyarankan agar dibuat suatu peraturan yang mereformasi kelembagaan partai politik agar parpol tidak lagi mengutamakan sistem politik kekerabatan dalam rekrutmen politik.

Titi mengatakan itu penting juga dilakukan di samping merombak regulasi pemilihan umum itu sendiri, supaya netralitas ASN dapat dijaga dari sektor hulu menuju hilir pemilihan umum.

“Ketika kita ingin mengatasi politisasi ASN, maka sebenarnya kita berangkat dari persoalan mendemokratisasikan pemilu dari hulu ke hilir, dari sektor regulasi hingga reformasi kelembagaan partai politik,” kata Titi.

Kualitas parpol yang kurang baik saat ini kata dia disebabkan seringnya parpol mengeluarkan politik kekerabatan dan melibatkan ASN untuk kerja-kerja pemenangan pemilu.

“Itu juga kontribusinya besar, begitu pak. Jadi mungkin kalau kita bicara netralitas ASN juga tidak lepas dari reformasi partai politik kita pak. Artinya, kelindan-nya tadi dengan politik kekerabatan yang tidak diformulasikan dengan prinsip-prinsip rekrutmen politik yang demokratis,” jelasnya.

Sebelumnya, Rabu (5/8), Direktur Pengawasan dan Pengendalian Badan Kepegawaian Negara (BKN), Achmad Slamet Hidayat menyampaikan, hingga bulan Juli 2020 terdapat 456 pelanggaran terkait netralitas ASN. Slamet menyebut, ada dua faktor penyebab pelanggaran netralitas masih banyak dilakukan.

Pertama, faktor eksternal. Faktor ini disebabkan adanya intervensi politik oleh birokrasi para inkamben yang berada di wilayah kerja. Seringkali para petahana mengintervensi para ASN untuk melakukan ketidaknetralan agar dirinya kembali terpilih.

Kedua karena faktor internal. Faktor ini, kata Slamet, disebabkan adanya hubungan kekerabatan antara ASN dengan salah satu pasangan calon.

“Adanya keinginan ASN untuk tetap menduduki posisi tertentu kemudian adanya hubungan kedekatan kekeluargaan, dan sebagainya,” kata Slamet, dalam diskusi daring bertajuk “ASN Netral, Birokrasi Kuat dan Mandiri”.

Slamet mengatakan, para pasangan calon memiliki alasan untuk menggandeng ASN. Salah satunya karena ASN memiliki akses terhadap fasilitas negara, termasuk beberapa ASN yang menjadi pengelola anggaran.

“Posisi ini sangat menarik dan memikat. Di samping itu, di beberapa wilayah, khususnya di daerah, ASN memiliki kedudukan dan pengaruh yang sangat besar di masyarakat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *