Menyiapkan Sawah Besar di Kapuas

Menyiapkan Sawah Besar di Kapuas

PILIHAN pemerintah untuk membangun lumbung pangan baru di Kapuas, Kalimantan Tengah, benar adanya. Dari 12 kecamatan di kabupaten ini, 5 di antaranya layak menjadi kawasan pertanian terintegrasi tahap pertama.

“Bisa jadi lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa. Kelima kecamatan itu ialah Tamban Catur, Bataguh, Kapuas Murung, Pulau Petak, dan Kapuas Timur,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi.

Di Tamban Catur, potensi la­hannya mencapai 5.742 hektare. Untuk SDM-nya sudah tersedia 103 kelompok tani, beranggotakan 4.470 orang. Daerah ini makin berdaya karena ada dukungan empat Kelembagaan Ekonomi Petani.

Untuk memantapkan kesiap­an di Kapuas, Kementerian Pertanian menerjunkan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Leli Nuryati. “Kami juga melakukan identifikasi potensi wilayah pertanian lain di enam kecamatan yang akan menjadi sentral pengembangan food estate tahap pertama. Identifikasi ini bertujuan mengetahui semua potensi SDM, sumber daya alam, dan kelembagaan ekonomi pendukung lainnya, seperti Bumdes dan koperasi,” tutur Leli.

Di Sumatra Selatan, dalam upaya mendukung ketahanan pangan, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang mengoperasikan pabrik pupuk NPK II. Pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 4 hektare itu memiliki kapasitas produksi 2 x 100 ribu ton per tahun.

“Kami melakukan diversifikasi produk melalui pengembangan pupuk majemuk NPK. Kami berharap Pusri mampu memberikan solusi pertanian yang terintegrasi sesuai tuntutan pasar,” ungkap Direktur Utama PT Pusri, Mulyono Prawiro.

NPK merupakan pupuk majemuk yang dibutuhkan tanaman dan berfungsi untuk meningkatkan hasil pertanian maupun perkebunan. Penggunaan NPK sejalan dengan program pemerintah untuk melakukan pemupukan berimbang.

Sementara itu, saat memasuk­i musim kemarau, petani di sejumlah daerah di Jawa Barat memilih menanam palawija. “Lahan-lahan tadah hujan sudah tidak ditanami padi. Petani memilih jagung, kacang tanah, singkong, dan ubi,” kata Sunardi, petani di Kabupaten Tasikmalaya.

Sumber: https://mediaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *