Ancaman Covid-19 di Tanah Air hingga saat ini belum mereda. Hal itu terjadi karena kembali terjadi kenaikan kasus selama tiga pekan terakhir yang disebabkan oleh Covid-19 Omicron subvarian baru BA.4 dan BA.5.
Subvarian baru ini dianggap tidak mematikan meski cenderung lebih cepat dalam penyabarannya. Berbagai pihak memperingatkan agar masyarakat waspada. Selain Presiden Jokowi dan Menkes Budi Gunadi Sadikin, sejumlah epidemiolog dan praktisi kesehatan melontarkan peringatan yang sama.
Berbagai pelonggaran yang dilakukan pemerintah Indonesia menjadi sorotan dari Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra.
“Kita harus sadar Covid-19 belumlah hilang atau berakhir dari Indonesia,” kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (11/6/2022).
Hermawan juga menggarisbawahi soal vaksinasi. Ketika grafik pandemi sudah mulai melandai, orang lupa akan pentingnya vaksinasi Covid-19.
Menurut Hermawan laju vaksinasi menurun. Vaksinasi booster masih di bawah 50% dari cakupan vaksinasi dosis kedua.
Sedangkan menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Siti Nadia Tarmidzi, angka vaksinasi booster yang belum mencapai 50% tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia belum mencapai standar vaksinasi Covid-19 yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk status endemi.
Standar endemi dari WHO adalah cakupan vaksinasi Covid-19 sebanyak 70 persen dari seluruh populasi penduduk.
“Sampai saat kurang lebih baru 168 juta masyarakat yang mendapatkan vaksinasi secara lengkap. Jadi kalau kita bandingkan, ini kurang lebih adalah 62 persen dari total populasi,” ujar Nadia dalam gelar wicara “Tangkal Virus Yang Bermutasi dengan Vaksin Booster,” Senin (13/6/2022).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa dosis kedua belum tercapai. Pertama, banyak penduduk yang belum bisa mendapatkan suntikan dosis kedua lantaran telah positif Covid-19. Walaupun gejalanya ringan, namun masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan penyuntikan.
Kedua, situasi yang terus membaik membuat masyarakat merasa tidak perlu mendapatkan perlindungan dengan melengkapi vaksinasi Covid-19 sampai dengan dosis kedua.
“Artinya edukasi harus terus kita ingatkan bahwa situasi pandemi Covid-19 ini belum selesai,” ujar Nadia.
Ketiga, adanya beberapa penduduk yang masih terhambat dengan permasalahan geografis. Petugas kesehatan membutuhkan waktu untuk mencapai daerah-daerah tertentu.
“Jumlah secara provinsi yang belum mendapat atau belum mencapai 70 persen itu hanya antara 6- 7 provinsi lagi. Tapi kalau kita berbicara kabupaten, kota memang masih cukup banyak tersebar ya. Bahkan di provinsi yang sudah secara total mencapai angka 70 persen, ternyata masih ada juga kabupaten kotanya yang belum mencapai 70 persen,” ujar Nadia.
Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan percepatan dengan membuka sentra vaksinasi lebih banyak, kembali mengajak para tokoh masyarakat menyosialisasikan pentingnya upaya vaksinasi, serta menjelaskan bahwa pandemi belum selesai.
Keempat, penting memerangi hoax yang menyebabkan masyarakat menjadi ragu-ragu untuk menerima vaksin dosis kedua.
Menkes Budi mengatakan akan meningkatkan vaksinasi booster atau vaksinasi dosis ketiga Covid-19 sebagai langkah pencegahan peningkatan kasus Covid-19.
Budi menyebutkan pada bulan Juni dan Juli ini semua negara bersiap-siap pada gelombang Covid-19 berikutnya.
“Pengamatan kami gelombang BA.4 dan BA.5 biasanya puncaknya tercapai 1 bulan sesudah penemuan kasus pertama. Seharusnya Minggu kedua dan ketiga Juli 2022 ini akan melihat puncak kasus dari penularan BA.4 dan BA.5 ini,” kata Budi saat memberikan keterangan pers secara daring, Senin (13/6/2022).
Dikatakannya, jika laju vaksinasi booster di masyarakat berjalan baik, maka ada kemungkinan kasus tidak akan tinggi. Pasalnya, masyarakat yang sudah divaksin dosis ketiga memiliki daya tahan imunitas enam bulan.
Menurutnya, jika hal tersebut bisa dijaga, maka Indonesia akan menjadi satu negara yang pertama-tama dalam 12 bulan tidak mengalami lonjakan kasus Covid-19.
“Karena biasanya setelah 6 bulan lonjakan kasus itu terjadi,” ucapnya.
Untuk itu, Budi mengimbau masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster sehingga bisa meningkatkan kekebalan atau imunitas tubuh masyarakat untuk melindungi sampai enam ke depan.
“Mudah-mudahan Iduladha dan 17 Agustusan 2022 kita pun bisa merayakan hari raya dan hari kemerdekaan itu dengan baik,” ujarnya.
