Stop Rasisme, Rawat Keberagaman dengan Pemberdayaan SDM Papua

Stop Rasisme, Rawat Keberagaman dengan Pemberdayaan SDM Papua

Peristiwa rasisme ataupun diskriminasi menjadi evaluasi penting bagi negara dalam merespons dan menangani persoalan Papua. Termasuk dalam menampung aspirasi serta tuntutan mahasiswa Papua di mana pun mereka berada. 

Tindakan-tindakan yang terjadi Agustus 2019 lalu di sejumlah kota seperti di Surabaya, Malang, Semarang, Manokwari, dan Sorong, harus dihentikan dan diproses secara hukum untuk memastikan ketidakberulangan.

Begitu juga adanya jaminan perlindungan hak asasi manusia, persamaan di depan hukum, kesetaraan dan keadilan bagi mahasiswa serta rakyat Papua.

Wakil Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo mengungkapkan, rasisme muncul karena ada sikap superioritas dari kelompok tertentu terhadap kelompok yang lain berdasarkan perbedaan warna kulit, etnis, agama, maupun lainnya.

Oleh karena itu, dia menolak segala bentuk rasisme terhadap orang maupun kelompok tertentu.

“Indonesia ini kan bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika yang berati bersatu di dalam keberagaman. Rasisme memang ada, tetapi cara menyikapi penolakan terhadap rasisme tidak harus dengan kerusuhan, poinnya itu di situ,” katanya saat diskusi webinar bertajuk Papua Dalam Keberagaman Indonesia yang digelar KOMPAS TV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *