Pentingnya Penerapan Nilai Moderasi Beragama Bagi Generasi Milenial Di Era Digital

Pentingnya Penerapan Nilai Moderasi Beragama Bagi Generasi Milenial Di Era Digital

Suarayogyakarta – Dalam beragama, semua sepakat bahwa kasih sayang, empati, rasa damai, menghormati dan saling menghargai adalah sikap yang harus diterapkan dan dirasakan di tengah kehidupan bermasyarakat. Terlebih dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan keberagaman seperti beragamnya suku, budaya, dan keyakinan dalam beragama. Maraknya teknologi informasi yang semakin canggih mengakibatkan pengaruh gaya hidup dan pola pikir generasi milenial cenderung menirukan gaya hidup orang-orang barat yang sangat jauh berbeda dengan tradisi dan kehidupan yang ada di Negara ini.

Hampir setiap hari bahkan setiap saat, generasi milenial tidak lelah untuk selalu mencomot dan membagikan informasi atau konten-konten yang viral di media sosial yang salah satunya adalah tentang moderasi dalam beragama, tanpa memikirkan infromasi tersebut benar atau salah.

Menurut Prof. Dr. KH. Zainal Abidin M.Ag, Beliau merupakan Guru Besar di IAIN Palu, Sulawesi Tengah dan dikenal sebagai tokoh islam modern. Dalma acara Workshop bina moderasi Islam bagi generasi milenial yang digelar Kanwil Kemenag Sulteng, di Palu, Rabu (26/6/2019), Beliau menyampaikan pendapatnya kepada Kementrian Agama, Organisasi Agama, dan Tokok-tokoh Agama bahwasannya perlu mengenalkan moderasi dalam beragama bagi kalangan milenial, dari mulai usia produktif sampai generasi muda yang melek terhadap perkembangan teknologi informasi, terutama media sosial.

Beberapa tahun belakangan ini, kaum milenial menjadi satu kelompok yang paling menjadi sorotan publik. Begitu dekatnya generasi milenial dengan teknologi informasi, kehidupan sehari-hari generasi pengguna Smartphone dan media sosial ini selalu bergelimang informasi, salah satunya adalah informasi atau konten keagamaan sehingga mereka memiliki jaringan yang sangat luas dan lebih sering berhubungan dengan berbagai kultur, gaya berfikir, bahkan beraneka ragam keyakinan. Tak heran jika banyak dari generasi milenial ini (termasuk muslim) banyak yang terpengaruh oleh ajaran keagamaan yang tersebar di internet.

Pada satu sisi, generasi milenial muslim mempunyai hasrat belajar agama yang besar. Dengan menjadikan ketaatan beragama sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan mereka. Mereka juga beranggapan bahwa identitas dan atribut yang menjadi petunjuk bahwa dirinya adalah muslim, dengan memakan makanan yang halal, mengunjungi wisata yang halal, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, generasi milenial ini lazimnya belum mempunyai kemampuan dalam psikis dan spiritual. Hasrat beragama yang begitu besar, dengan psikis dan spiritual yang masih lemah, terlebih lagi mudahnya mengakses sebuah konten keagamaan yang membuat generasi milenial muslim sensitif akan terpengaruhnya berbagai ideologi lain di media sosial. Salah satunya, ideologi tentang radikalisme aga yang memperdayai mereka dalam pandangan kezaliman dalam beagama.

Dengan upaya penerapan nilai-nilai dalam moderasi bergama bagi generasi milenial di era digital ini yang bertujuan untuk membentuk generasi yang moderat dan tidak mudah terpengaruh oleh dunia maya.

Adapun mengenai bagaimana cara menanamkan moderasi beragama terhadap generasi milenial di era digital ini, Rois Syuriah PWNU Sulawesi Tengah mengemukakan:

  1. Dapat memanfaatkan media sosial dengan baik dalam penyebaran nilai-nilai moderasi beragama.
  2. Mengikutsertakan generasi melenial dalam kegiatan positif yang konkret di masyarakat.
  3. Memerlukan ruang dialog dengan generasi milenial, baik dalam lingkungan rumah, sekolah maupun masyarakat dalam menafsirkan agama dengan tidak mendoktrin.
  4. Dapat memaksimalkan fungsi keluarga sebagai kunci pembaharuan karakter yang positif.

Oleh karena itu, mereka harus mempunyai jangkauan wawasan keagamaan yang inklusif, akan tetapi pada waktu yang sama mempunyai kekuatan akidah yang stabil. Disinilah penerapan nilai-nilai moderasi beragama perlu ditanamkan. Di samping itu, penerapan nilai-nilai moderasi beragama akan menjadi penangkis dari mencoloknya penyebaran paham radikalisme di media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *