Menangani Covid-19 dengan Nilai-nilai Pancasila.

Menangani Covid-19 dengan Nilai-nilai Pancasila.

Pancasila telah berperan besar dalam percepatan penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Hal ini dikarenakan dasar negara yang 1 Juni lalu merayakan hari jadinya yang ke-75 tersebut benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Pancasila adalah Philosophische Grondslag yang bermakna norma dasar. Keberadaan Pancasila menjadi landasan dalam mitigasi penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok tersebut. Lalu adakah hubungan penanganan Covid-19 dan Pancasila?

Pancasila memang sudah selayaknya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih di masa darurat seperti sekarang ini. Bukan hanya diteriak-teriakkan dengan mengaku yang paling Pancasilais. Tidak hanya dihapalkan sebagai materi pelajaran yang mungkin keluar saat ujian sekolah. Bukan pula sebagai pajangan di ruangan kerja. Ataupun dilafalkan setiap kali upacara bendera.

Terlepas dari beberapa sisi negatif dari penanganan Covid-19 di negara ini, namun patut diapresiasi bahwa nilai-nilai dari Pancasila cukup sukses berperan dalam menghadang virus bermahkota tersebut. Lima sila dalam dasar negara berlambang burung garuda tersebut mungkin secara tidak sadar sudah dijalankan oleh masyarakat Indonesia di masa pandemi ini. Ini justru menjadi nilai lebih. Berikut ini uraian sederhananya.

Covid-19 dan Pancasila Sila Pertama

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama Covid-19 tanggal 2 Maret 2020 hingga sekarang, secara kebetulan hampir semua agama di Indonesia merasakan bahwa hari besarnya tidak dapat dijalankan sebagaimana biasanya. Secara berturut-turut pada 22 Maret adalah Isra Mi’raj, 25 Maret Hari Raya Nyepi, 10 April Wafat Yesus Kristus, 24 April awal puasa Ramadan, 7 Mei Hari Raya Waisak, 21 Mei Kenaikan Isa Al Masih, dan 24 Mei Idul Fitri.

Umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha secara legowo menjalani ritual ibadah dengan aturan ketat bahkan beberapa tidak terselenggara sebagaimana mestinya. Umat Hindu rela peringatan Nyepi diselenggarakan secara sederhana. Kebaktian para penganut Nasrani juga sebagian besar ditiadakan. Puasa Ramadan tanpa keramaian masjid. Umat Budha pun ikhlas saat Candi Borobudur diberlakukan lockdown. Hingga Shalat Id yang dilaksanakan di rumah pribadi.

Nyaris tidak terdengar ada upaya protes secara masif dari umat beragama di Indonesia ketika ibadah mereka harus ditangguhkan. Semua melakukan dengan kesadaran penuh bahwa kurva pasien Covid-19 di negeri ini harus ditekan laju kenaikannya. Keberagaman dalam keberagamaan di Indonesia berperan besar dalam penanggulangan persebaran virus dari keluarga Korona ini.

Bahkan Menteri Agama RI Fachrul Razi pada Sabtu (30/5) lalu melalui SE Nomor 15 Tahun 2020 menyatakan bahwa rumah ibadah harus bisa menjadi contoh yang baik. Hal ini disampaikan dalam protokol pembukaan tempat ibadah.

Kemanusiaan dan Persatuan

Saat Pandemi menggurita termasuk di negara ini, rasa kemanusiaan bangsa Indonesia benar-benar luar biasa. Tanggung jawab meredam efek negatif dari Covid-19 bukan hanya dibebankan kepada para tenaga medis saja. Masyarakat umum justru menjadi garda terdepan dalam pemberantasan virus yang mudah hancur karena sabun ini. Gotong royong, itu lah ciri khas dari bangsa Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain.

Sebagian besar masyarakat rela merogoh koceknya untuk didonasikan dalam penanggulangan Covid-19. Tidak hanya orang kaya, masyarakat yang secara ekonomi masih prasejahtera pun bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk memproduksi APD, pembagian masker, pembuatan sabun cair, maupun pemberian paket sembako kepada warga yang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Tahun 2019 adalah waktu yang paling melelahkan bagi bangsa ini. Perhelatan Pemilu termasuk Pilpres mengakibatkan masyarakat sempat terbelah. Setahun kemudian seakan semua membaur dan bersatu melawan Korona. Perbedaan afiliasi politik, suku, agama, maupun golongan seakan dinafikan. Semua bahu-membahu demi memulihkan Indonesia. Riak kecil memang sempat ada. Namun tidak lagi separah tahun lalu.

Kerakyatan Upaya dalam Penurunan Pasien

Para elit bangsa ini telah mempertontonkan spirit musyawarah yang baik selama pandemi. Padahal beberapa di antara mereka sebelumnya sulit untuk bersepakat bulat dalam beberapa kebijakan.

Terlepas dari beberapa kerikil yang pernah terasa, publik patut mengapresiasi komunikasi yang baik sebagai bentuk permusyawaratan antara Presiden Jokowi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat penanggulangan Covid-19. Terbukti dengan adanya penurunan pasien tambahan sebesar 17,6% pada 26 Mei 2020 lalu (CNN Indonesia, 27 Mei).

Sejumlah kepala daerah yang masih belum ‘akur’ dalam penanganan wabah ini sebaiknya lekas bermusyawarah dengan baik. Supaya wilayahnya tidak terjangkit lebih parah seperti Wuhan. Ego kepentingan dalam Pilkada di bulan Desember nanti sebaiknya disingkirkan terlebih dahulu.  

Sila Kelima dalam Penanganan Covid-19

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keputusan pemerintah mengucurkan dana BLT memang patut diacungi jempol. Meski kontroversi sempat mewarnai. Ini dilakukan sebagai upaya pemerataan kesejahteraan di tengah Pandemi Covid-19.

Kebijakan Kemendikbud RI yang belum memberikan kepastian waktu sekolah kembali dibuka juga bagian dari upaya pelaksanaan amanat sila kelima Pancasila. Kemendikbud berharap supaya semua institusi pendidikan di negeri ini dibuka bersamaan. Tidak ada yang masuk dahulu. Karena pasti pemerataan kualitas pendidikan menjadi tidak baik jika di satu wilayah sekolah sudah beroperasi, namun daerah lain belum.

Semoga dalam penanganan Covid-19 nilai-nilai Pancasila ini senantiasa membumi supaya Pandemi lekas pergi.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *