Kapolda Papua: Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI, Ada Catatan Sejarah yang Perlu Dikenang

Kapolda Papua: Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI, Ada Catatan Sejarah yang Perlu Dikenang

Coffee morning kebangsaan menyambut HUT ke 75 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Aston Jayapura, Jumat (17/7) menghadirkan  sebanyak 100 orang yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari Kapolda, Kabinda, Danlanud Silas Papare, staf khusus presiden, Ketua DPR, pemuda adat, tokoh agama, tokoh peremuan, hingga mahasiswa.

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw menyampaikan, refleksi 75 kemerdekaan RI bukan waktu yang singkat. Ada catatan sejarah yang perlu dikenang kembali sebagai refleksi bahwa perjuangan pahlawan terdahulu luar biasa. Dimana rela berkorban harta benda dan jiwa raga untuk kemerdekaan.

Dilain sisi lanjut Kapolda, hingga saat ini masih ada pihak yang tetap mengkritisi daripada kemerdekaan itu sendiri. Artinya, mereka masih menuntut berbagai hal yang terkait dengan keberadaan orang Papua. dimana minta  hak-hak mereka, bahkan ada yang meminta untuk memisahkan diri dari negara kesatuan RI

“Pandangan atau pendapat seperti itu silakan saja, tetapi kita juga harus jujur berkata kepada diri kita dan juga kepada semua anak bangsa. Kita ada di sini dalam keadaan negeri ini maju, generasi muda kita luar biasa karena adanya negara ini, diawali dengan perjuangan luar biasa dari para pendahulu kita dan sebentar lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan ke 75 tahun,” ucap Kapolda usai Coffee morning.

Kapolda menegaskan tidak boleh kalah dengan keinginan sekelompok orang yang mengatasnamakan rakyat, tetapi kemudian berkeinginan untuk memisahkan diri dan lain sebagainya yang mengatakan bahwa negara yang tidak adil atau negara tidak berpihak.

“Hari ini kita masuk ke dalam sebuah gerbang kemerdekaan Republik Indonesia, pertanyaan saya apakah kita baru mulai memasuki gerbang kemerdekaan bangsa ini, ataukah kita sudah ada berada di gerbang kemerdekaan itu atau kita sudah melewati pintu gerbang kemerdekaan bangsa Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Barisan Merah Putih Kota Jayapura Niko Mauri mengatakan, negara Indonesia merupakan rumah bersama yang harus dijaga. Sehingga jangan ada lagi kelompok yang dari luar masuk buat bangun rumah di dalam rumah.

“Apapun yang dilakukan oleh kelompok yang mau memisahkan diri dari bangsa dan negara ini, akan berhadapan dengan hukum. Karena negara kita ini negara hukum, tidak bisa seenaknya saja orang melakukan hal-hal yang tidak terpuji, lalu seenaknya dia boleh pergi tinggalkan jejaknya tanpa dihukum,” tegasnya.

Lanjutnya, menjelang 75 tahun Indonesia merdeka. Sebagai masyarakat Indonesia harus bersyukur karena para pendahulu berjuang dengan bersimbah darah, mengorbankan jiwa raga dan harta benda sehingga Indonesia bisa merdeka.

“TNI-Polri yang punya dedikasi bersama-sama dengan rakyat untuk membangun dan menjaga keutuhan bangsa ini, saya secara pribadi dan organisasi barisan merah putih memberikan apresiasi yang tinggi bagi TNI dan Polri sebagai pengawal Ibu Pertiwi,” ucapnya.

Sementara itu pak lau Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan Hak Asasi Manusia Laos DC Rumayom ingin melihat sejauh mana pemerintah mampu membangun masyarakat dengan merujuk kepada visi dan misi Presiden Joko Widodo.

Sebagaiman visi Presiden adalah mempercepat dan melanjutkan pembangunan infrastruktur,  pembangunan sumber daya manusia, reformasi birokrasi dan APBN yang fokus dan tepat sasaran.

“Aspek pengembangan sumber daya manusia di Papua menjadi satu hal yang sangat penting untuk kita refleksikan,” ucapnya.

Adapun yang menjadi atensi bersama yakni, menjelang 17 Agustus, perlunya melihat kembali keberadaan kita sebagai masyarakat Indonesia seperti apa dari aspek pembangunan. Hal ini bisa dilihat bagaimana pengembangan sumber daya manusia, sektor kesehatan, sektor kesejahteraan masyarakat dari sisi ekonomi dan lain-lain.

“Ini menjadi perhatian penting sehingga kita tidak hanya berbicara Otsus dari perspektif politik, tapi kita juga harus realistis dengan semua pembangunan yang ada di Papua hari in,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Asisten II Bidang Kesra Setda Provinsi Papua M Musaad menyampaikan,  dua hal penting yakni, perjuangan Para pendahulu kita telah mengantarkan kita kepada gerbang kemerdekaan Negara Republik Indonesia dan setelah kemerdekaan pasang surut kita hadapi ada suasana dimana kita berada pada posisi yang sangat memprihatinkan dan juga suasana dimana kita merasakan kenikmatan.

“Setelah 75 tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia, segala upaya pemerintah sudah dilakukan. Kita yang berada di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dari Sabang sampai Merauke adalah kodrat kita dimana ada yang berbeda suku, etnis, budaya, dan berbagai macam Ras serta Agama dalam satu Kebhinekaan Tunggal Ika,” ucapnya.

Sementara itu, Kabinda Papua Brigjen TNI Abdul Haris Napoleon menegaskan, sejak 92 tahun yang lalu dalam hal ini anak muda Papua sudah terlibat dalam sumpah pemuda pada Kongres pemuda kedua di Jakarta. Dimana saat itu, ada 3 pemuda Papua pelaku sumpah pemuda. “Jadi, kalau ada orang Papua yang tidak terlibat sumpah pemuda itu bohong,” tegasnya.

Dirinya berharap perlunya melakukan Proklamasi Kemerdekaan di tengah Pandemi Covid-19 yaitu peringatan di Kampung-kampung, seperti yang pernah dilaksanakan tahun-tahun lalu. Dimana para Kepala Suku yang menjadi Komandan Upacara dan yang menjadi Inspektur Upacara yaitu para Babinsa atau Satgas Teritorial yang berada di Wilayah setempat. “Hal itu yang sedang diusahakan sekarang, agar nilai kemerdekaan Indonesia bisa dirasakan oleh para pemuda yang berada di Kampung-kampung,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *