Generasi Millenial, Paham Radikal dan Duta Moderasi

Generasi Millenial, Paham Radikal dan Duta Moderasi

Generasi muda (millenial) memiliki posisi strategis. Jika digambarkan dalam sebuah piramida, maka posisi pemuda berada di tengah: di atas para penguasa (pemerintah) dan di bawah bersama rakyat jelata. Dalam banyak literatur, generasi muda disebut sebagai agent social of change dan lain sebagainya.

Begitu penting peran dan kontribusi generasi muda itu bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara ini, sehingga tak berlebihan jika sebagian besar rakyat dan umat ini berharap banyak akan sepak terjangnya. Namun, bagaimana jika generasi muda ini terpapar paham radikal?

Tentu saja kehidupan yang damai, produktif dan seimbang akan menjadi sebuah imajinasi belaka. Proses kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi ‘pincang’. Karena konflik yang mengerucut pada disintregasi akan semakin menjadi-jadi.

Pada tahun 2017 silam, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melakukan studi terhadap kalangan muda menunjukkan bahwa sebanyak 58% mereka memiliki opini radikal, 51% opini intoleransi internal dan 34,4% memiliki opini intoleransi eksternal.

Banyak analisis, bahkan studi yang mengkaji tentang faktor mengapa generasi millenial gampang terpapar paham radikal. Diantaranya ada yang menyebutkan karena mereka tidak memiliki basis ilmu atau wawasan keagamaan dan kebangsaan yang kuat. Pada saat yang sama, mereka mengkonsumsi wawasan tersebut di dunia maya. Sementara ruang maya saat ini didominasi situs-situs radikal.

Ada juga yang menyebutkan bahwa generasi muda rawan terpapar karena moderasi sebagai nilai yang harus dijunjung dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia belum menjadi gaya hidup dan mendarah daging.

Pada posisi inilah, artikel ini akan mengupas dari aspek moderasi sebagai vaksin ampuh dalam membasmi radikalisme yang menyerang generasi muda.

Internalisasi Moderasi di Kalangan Generasi Muda

Generasi muda di sini lebih mengarah pada mahasiswa yang berproses di perguruan tinggi. Dengan pengertian semacam ini, maka asumsi dasarnya adalah bahwa kampus harus berperan sebagai ‘menara air’ bagi masyarakat (Soemantri, 2011). Artinya, kampus mengaliri setiap hikmah bagi masyarakat, yang pada akhirnya menjadi center of exellence bagi pembangunan dan perbaikan umat. Dengan demikian, pemuda atau mahasiswa harus bebebas dari virus radikalisme dan sejenisnya supaya kiprah dan kontribusi mereka dapat berjalan dengan optimal.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, bagaimana pola internalisasi nilai-nilai moderasi di perguruan tinggi? Jawaban atas pertanyaan ini akan diuraikan sebagaimana berikut ini.

Asep Zaenal Usop menjelaskan bahwa proses internalisasi atau menjadikan mahasiswa memahami dan mempraktekkan nilai-nilai Islam (moderasi) setidaknya ada tiga macam.

Pertama, melalui mindset/pola pikir. Cara pertama ini bisa diformulasikan dalam berbagai bentuk, seperti memperkuat mata kuliah PAI, Pendidikan Kewarganegaraan dan lainnya. Artinya, kurikulum beserta dosen benar-benar harus menancapkan paradigma moderasi sebagai cara terbaik dalam menghadapi dan menjalani seluruh kehidupan beragama, bernegara dan bernegara.

Dengan penguatan nilai moderasi dalam kurikulum dan disampaikan oleh dosen yang berkompeten, maka mindset mahasiswa tentang pentingnya moderasi akan benar-benar membuahkan hasil yang maksimal.

Kedua, dengan cara mengubah perilaku (behavior change). Setelah cara berpikir sudah benar, dalam artian menganggap bahwa moderasi merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan untuk diterapkan dalam ranah privat maupun publik di negeri ini, maka proses selanjutnya adalah mengubah perilaku yang senafas dengan nilai-nilai moderasi. Di mulai dengan sikap saling menghargai perbedaan, toleransi, dan nilai-nilai moderasi lainnya.

Ketiga, perubahan sosial budaya. Dua poin di atas sifatnya masih berkaitan dengan aspek internal dalam diri generasi muda. Maka pada poin ketiga ini, setelah pola pikir dan perilaku sesuai dengan prinsip dasar moderasi, kemudian generasi muda didorong untuk menjadi ‘duta moderasi’ bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

Menjadi Duta Moderasi

Karena moderasi merupakan nilai yang sesuai dengan karkakter masyarakat Indonesia yang beragam namun niali ini belum mendarah-daging pada diri seluruh generasi muda saat ini, maka diperlukan ‘duta-duta moderasi’ yang tidak hanya mengkampanyekan nilai-nilai moderasi di ruang publik, melainkan juga melakukan beberapa gerakan konkret, yang diantaranya bisa dimanifestasikan dalam tugas-tugas duta moderasi sebagai berikut:

Pertama, menyebar perdamaian. Pengembangan karakter mulia seperti pengalaman sikap moderat, selalu menebar perdamaian dan memperkuat persaudaraan sangatlah penting, bahkan merupakan suatu pra-syarat utama dalam menopang kehidupan keragaman di Indonesia, khususnya generasi muda seperti mahasiswa (Haris & Morran: 1998).

Menyebar perdamaian dan mengkampanyekan pentingnya sikap moderat di ruang publik, baik secara online maupun offline merupakan tugas utama ‘duta moderasi’ tersebut. Dan langkah ini sekaligus sebagai upaya serius dan berkelanjutan dalam meminimalisir dampak negatif dari bahaya radikalisme, komunisme dan sejenisnya.

Kedua, menumpas paham radikal. Harus diakui dan disadari bahwa moderasi ini berkaitan erat dengan paham radikal karena paham atau kelompok ini selalu menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya, yang tentu saja sangat bertentangan dengan sikap moderat. Dengan kata lain, yang merusak nilai-nilai moderasi adalah kelompok radikal. Dengan demikian, maka tugas ‘duta moderasi’ adalah menumpas paham radikal sampai ke akar-akarnya. Di antara cara menumpasnya adalah dengan cara menyuntikkan vaksin ant-radikalisme, yakni moderasi itu sendiri. Keberadaan ‘duta moderasi’ di era saat ini semakin mendesak untuk terus diperbanyak dalam segi kuantitas dan kualitasnya. Terlebih gerakan-gerakan kelompok yang membawa ideologi trans-nasional semakin bergentayangan di jagat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *