BIN Bantu Penanganan Covid-19, Tjahjo: Patut Diapresiasi

BIN Bantu Penanganan Covid-19, Tjahjo: Patut Diapresiasi

Mantan Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo mengapresiasi inisiatif Badan Intelijen Negara (BIN) dalam membantu penanganan Covid-19. Menurut Menteri PAN dan RB tersebut, BIN berkewajiban membantu pemerintah dan siap mendukung seluruh kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Sebab, BIN merupakan lini terdepan dalam keamanan nasional sebagaimana amanat Undang-Undang (UU) 17/2011 tentang Intelijen Negara. “Inisiatif BIN secara proaktif sebagaimana peran Menteri PAN dan RB memberikan guidance kepada seluruh ASN (aparatur sipil negara) merupakan langkah nyata dari unsur-unsur pemerintah menghadapi pandemi Covid-19,” kata Tjahjo, Minggu (27/9/2020).

Tjahjo pun menyebut, “Peran BIN dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 terutama di klaster perkantoran patut kita apresiasi. BIN telah aktif mempercepat penanggulangan penanganan Covid-19. Mulai dari meriset obat Covid-19, membuat proyeksi puncak pandemi hingga menggelar tes polymerase chain reaction (PCR).

Tjahjo menjabarkan pandangannya mengenai peran BIN tersebut. Tjahjo sangat memahami terkait permasalahan akurasi hasil tes PCR oleh BIN. Tjahjo mengungkap, laboratorium BIN dalam melakukan proses uji spesimen menggunakan dua jenis mesin real time PCR. Pertama, jenis Qiagen dari Jerman. KeduaThermo Scientific PCR dari Amerika Serikat (AS).

Keduanya memiliki sertifikat Laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2) yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium. Selain itu proses sertifikasi dilakukan Lembaga Sertifikasi Internasional, World Bio Haztec (Singapura), dan kerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Dengan begitu layak digunakan untuk analisis Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Lebih Tinggi

Tjahjo menuturkan BIN juga menerapkan ambang batas standar hasil tes PCR yang lebih tinggi dibandingkan institusi/lembaga lain. Tercermin dari nilai Ct qPCR ambang batas bawah 35, tetapi untuk mencegah orang tanpa gejalan (OTG) lolos screening, maka BIN menaikkan menjadi 40. BIN pun melakukan uji validitas melalui triangulasi tiga jenis gen yaitu RNP/IC, N dan ORF1ab.

Tjahjo mengatakan Dewan Analis Strategis Medical Intelligence BIN termasuk jaringan intelijen di WHO, telah menjelaskan fenomena hasil tes swab positif menjadi negatif bukan hal baru. Hal itu dapat disebabkan oleh RNA/Protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit, bahkan mendekati hilang pada threshold, sehingga tidak terdeteksi lagi.

“Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan dites pada hari yang berbeda. OTG/asimptomatik yang mendekati sembuh berpotensi memiliki fenomena tersebut. Berikutnya, terjadi bias pre-analitik yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda, dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP (standar operasional prosedur) berbeda pada laboratorium yang berbeda,” ujar Tjahjo.

Dengan begitu, menurut Tjahjo sampel swab sel yang berisi Covid-19, tidak terambil atau terkontaminasi. Faktor lainnya, sensitivitas reagen dapat berbeda terutama untuk pasien yang nilai Cq/Ct-nya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN menggunakan Reagen PerkinElmer (AS), A*Star Fortitude (Singapura), Wuhan Easy Diagnosis (Tiongkok).

Reagen ini lebih tinggi standar dan sensitivitasnya terhadap strain Covid-19 dibandingkan merk lain seperti Genolution (Korea Selatan) dan Liferiver (Tiongkok) yang digunakan beberapa rumah sakit (RS). “Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan uji swab antara lain adalah kondisi peralatan, waktu pengujian, kondisi pasien, dan kualitas test kit,” imbuh Tjahjo.

Tjahjo mengatakan BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah Gold Standard dalam pengujian sampel covid-19. Kasus false positive dan false negatif sendiri telah banyak dilaporkan di berbagai negara seperti AS, Tiongkok, dan Swedia. Pada bagian lain, Tjahjo menuturkan BIN tentu berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda).

Hal itu terkait pelaporan untuk menggelar kegiatan tes massal di berbagai titik. BIN pun berkoordinasi dengan dinas kesehatan serta Satuan Tugas (satgas) Penganan Covid-19 di daerah. Tujuannya untuk membantu menentukan titik-titik lokasi yang menjadi klaster penyebaran Covid-19. Satgas Intelijen Medis, beroperasi pada April 2020.

Melaporkan Hasil

Sejak dibentuk pada April 2020, menurut Tjahjo, Satgas Intelijen Medis selalu melaporkan hasil tes swab yang selama ini dilakukan kepada Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19. Tjahjo menegaskan BIN diberi kewenangan UU 17/2011 untuk membentuk Satgas Intelijen Medis. Ancaman kesehatan, lanjut Tjahjo, tentu bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia.

“Dengan dasar tersebut BIN turut berpartisipasi secara aktif membantu Satgas Penanganan Covid-19 dengan melakukan Operasi Medical Intelligence di antaranya berupa gelaran tes swab di berbagai wilayah, dekontaminasi, dan kerja sama dalam pengembangan obat dan vaksin,” ungkap Tjahjo.

Hal serupa, menurut Tjahjo, dilakukan negara-negara lain seperti AS yang memiliki National Center for Medical Intelligence (NCMI). Badan itu melakukan surveillance penyakit menular di dunia. Kemudian juga NATO di Eropa yang melibatkan aktivitas intelijen dalam pengkajian infrastruktur kesehatan.

Tjahjo menyatakan kehadiran Satgas Intelijen Medis telah mendapat apresiasi positif dari kementerian/lembaga (K/L) dan pemda. K/L dan pemda, menurut Tjahjo, menyampaikan permohonan kepada BIN untuk membantu pelaksanaan tracing di wilayah/institusinya dengan melakukan tes swab dengan beban anggaran operasi BIN.

Upaya-upaya yang dilakukan BIN, semata-mata untuk membantu pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19 antara lain melalui 3T atau testing, tracing dan treatment. Selain itu juga untuk memperbanyak kapasitas tes di Indonesia yang saat ini masih di bawah rata-rata tes harian sebagaimana ditetapkan WHO (1000 tes per 1 juta penduduk).

“Karenanya BIN bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas yang memiliki fasilitas laboratorium BSL-2 dan 3 di berbagai daerah. Utamanya yang masuk dalam zona merah Covid-19, untuk meningkatkan kapasitas uji spesimen dengan memberikan berbagai bantuan alat laboratorium,” ujar Tjahjo.

Selain Itu, BIN juga membangun 1 Laboratorium Stasioner Berstandar BSL-2+ dan empat Unit Laboratorium Mobile Berstandar BSL-2. Tujuannya untuk membantu memercepat dan memperbanyak kapasitas tes yang mampu menjangkau zona-zona merah. Sebab sebelumnya zona-zona merah itu tidak dapat dijangkau.

Upaya 3T dimaksudkan untuk mencegah OTG/asimptomatik agar tidak menjadi spreader menjadi perhatian bersama. Selain itu penting juga mengobati pasien Covid-19 kondisi ringan dan sedang yang dideteksi sejak dini dari tes swab. “Jangan sampai stigmatisasi masyarakat yang kuat melekat menjadi bagian dari polemik hasil tes positif-negatif,” tegas Tjahjo.

Tjahjo menilai standar tes tinggi yang dipakai oleh BIN akan memiliki hasil akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. “Karena itu keberadaan BIN dalam mempercepat penanggulangan penanganan Covid-19 sangat diperlukan. Salah satu fungsi BIN adalah mampu mendeteksi segala ancaman terhadap negara, termasuk dalam hal ini ancaman penyebaran Covid-19,” kata Tjahjo.

Tjahjo yang juga mantan Menteri Dalam Negeri menyebut, “Data intelijen yang diperoleh di lapangan pada akhirnya penting dalam hal memberi masukan kepada pemimpin negara untuk mengambil kebijakan yang tepat. Sebab sekali lagi hal yang perlu diingat, jika data salah, maka pengambilan kebijakan juga akan salah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *