Bersatu Lawan Corona

Bersatu Lawan Corona

“Satu batang lidi tidak akan kuat dan tidak berarti apa-apa. Paling tidak sebatang lidi hanya bisa dipakai untuk melecut atau untuk mencungkil sisa-sisa makanan yang tersangkut di antara gigi kita, atau bisa dijadikan tusuk sate cuma”.

Namun lidi ini jika dikumpul/disatukan menjadi satu ikatan, lidi-lidi ini akan menjadi bermanfaat dan berguna untuk menyapu membersih halaman rumah, halaman kantor, dan jalan sekalipun. Itulah sebabnya ada pepatah mengatakan “ Bersatu kita teguh, bercerai kita akan runtuh”.

Jadi, jikalau kita tidak ada kesatuan, maka kita akan mudah dihancurkan, dikalahkan. Tetapi jika ada kesatuan maka, perlu usaha besar untuk menghancurkannya. Bahkan begitu pentingnya kesatuan, pemimpin bangsa kita terdahulu merumuskan persatuan di dalam ideologi negara kita yaitu Pancasila, di mana sila ketiga disebut “Persatuan Indonesia”.

Banyak di antara kita yang alergi untuk bersatu dengan berbagai alasan. Alasan yang paling utama adalah karena kita berbeda dengan orang lain. Padahal beda itu biasa, tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak berteman, tidak bekerja sama. Justru dari sanalah kita punya sudut pandang yang lain. Dan bukankah tidak akan pernah ada orang dengan tipe yang sama?

Tidak bisa disangkal bahwa tidak sedikit orang Indonesia alergi kalau diajak bersatu. Ada kecenderungan bahwa sebagian bangsa ingin membangun tembok-tembok kesendirian/kelompok, memperbesar jurang pemisah atau bahkan meruntuhkan jembatan-jembatan penghubung yang selama ini telah dicoba untuk dirintis. Maka muncullah banyak kelompok dengan ekslusivitasnya masing-masing; yang ingin menang sendiri, yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, yang menganggap kebenaran bisa dimonopoli.

Fenomena itu nyata dalam suasana menghadapi penyebaran virus corona, Covid-19. Perbedaan yang diikuti dengan penolakan kebijakan pemerintah dalam rangka memutus rantai penularan covid-19 terjadi di hampir setiap lapisan masyarakat. Dari rakyat biasa, dari yang berpendidikan rendah, sampai ke tingkat sarjana masih ada yang membangun tembok pemisah, semuanya hanya mementingkan diri sendiri/mementingkan kelompoknya sendiri.

Padahal kita semua butuh kesatuan, butuh bekerja sama, bukan hanya untuk satu kelompok yang sama, bukan sekadar demi satu komunitas yang sama, tapi bagi negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai. Bersatu dalam pikiran dan tindakan sangat kita butuhkan dalam rangka menghentikan penyebaran virus Covid-19 ini.

Bersatu membutuhkan energi yang besar, juga butuh keinginan dan komitmen dari semua pihak yang terkait, sehingga dalam penegakan program pemerintah pusat dalam memerangi Covid-19 ini TNI dan Polri menjadi ujung tombak kebijakan pemerintah #DiRumahAja serta pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Persatuan memang mahal harganya, apalagi bagi kita yang masih menganggap perbedaan sebagai jalan untuk merendahkan orang lain. Sudah saatnya kita saling menghargai perbedaan, dengan itu kita bisa bersatu, bekerja sama bahu membahu, saling menjaga dan saling menguatkan. Semoga bisa kita teruskan, karena kita berada dalam tempat yang sama, maka sewajarnyalah kita bisa terus bekerja sama.

Wabah Covid-19 ini, persatuan dan kebersamaan sangat kita butuhkan. Kita tidak musti serahkan sepenuh kepada kepala negara dalam hal ini Presiden Joko Widodo. bukan cuma Pak Idham Azis sebagai Kapolri atau Pak Royke sebagai Kapolda Sulut yang turun ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak bergerombol/berkumpul bersama di suatu tempat.

Mari kita bersama dukung kebijakan pemerintah untuk tetap #DiRumahAja, dan patuhi program PSBB untuk menyelamatkan negeri kita ini dari serangan Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *