Categories Politik Sleman

Bawaslu DIY Ajak Influencer Muda Kumpul Bantu Awasi Pilkada, Sebut ‘Perang’ Bergeser di Sosial Media

Bawaslu DIY mengumpulkan 33 anak muda dari seluruh DIY yang memiliki pengikut puluhan ribu di sosial media, Senin (12/8/2024). Mereka diminta membantu pengawasan pemilihan kepala daerah (pilkada) November mendatang yang prosesnya sudah dimulai saat ini.

Anak-anak muda tersebut dikumpulkan di Rich Jogja Hotel dalam acara Pengembangan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Pemilu Partisipatif (P2P). Tajuk yang dipilih bernarasi Partisipasi Kelompok Muda melalui Aktivisme Digital untuk Mengawal Pilkada 2024.

Ketua Bawaslu DIY, Mohammad Najib, mengatakan generasi muda saat ini memegang peran penting karena mendominasi dunia digital. Saat ini di masa pilkada, Najib mengajak anak muda untuk mengambil peran positif dalam masyarakat.

“Pada momen ini kami harapkan teman-teman muda membawa peran di masyarakat. Media sosial saat ini memegang peran penting karena begitu masif diakses masyarakat. Hoax politik, masih terjadi sampai saat ini, dan kami berharap anak-anak muda ini ikut berjuang. Komitmen menjadi bagian mengawal pilkada kami harapkan untuk digelorakan,” ungkap Najib.

DIY menurut Najib menjadi daerah dengan sumber daya manusia unggul sehingga banyak dinamika yang muncul. Dengan bergabungnya anak-anak muda dalam pengawasan pilkada, diharapkan Bawaslu DIY bisa maksimal dalam melakukan tugas dan kinerja.

“Harapannya teman-teman ini ada bersama kami mewujudkan pilkada berintegritas. Kami berharap di pilkada kita mendapat indeks terbaik lagi seperti yang diraih saat pemilu lalu, di mana pemilu berjalan sesuai aturan berlaku,” lanjutnya.

Sementara, Koordinator Divisi Pencegahan Pengawasan dan Humas Bawaslu DIY, Ummi Illiyana, menambahkan bahwa peserta berasal dari seluruh DIY, didominasi anak-anak muda dengan followers puluhan ribu di sosial media.

“Kami rekrut jadi peserta karena tren saat ini berubah. Pilkada dan pemilu sebelum 2019 riil di lapangan, media sosial belum jadi pilihan utama meraih simpati pemilih. Tapi 2019 dan 2024 media sosial jadi ruang kampanye dan perang yang sesungguhnya. Kami juga berubah pola pengawasan menjadi digital,” lanjutnya.

Ummi berharap anak-anak muda bisa menjadi agen mensosialisasikan hal-hal positif, memberikan pendidikan politik dan menggelorakan semangat anti hoax melalui platform sosial media. Jangan justru menurut Ummi anak-anak muda menjadi buzzer politik yang menyampaikan informasi tak baik.

“Kami harapkan teman-teman meski jadi buzzer tapi yang positif, mengedukasi, konter isu dengan positif untuk mengingatkan masyarakat. Ganteng atau cantik itu bonus tapi kapabilitas politik baik dan benar itu yang paling utama,” pungkas Ummi.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *