Upaya Pemkot Yogyakarta Menekan Angka Kemiskinan di Tengah Pandemi

Suara Yogyakarta – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta senantiasa menekankan aspek pemulihan ekonomi dalam upaya penanganan COVID-19.

Alhasil, angka kemisikinan di kota pelajar pun tidak melonjak sepanjang pandemi yang melanda lebih dari satu tahun terakhir ini.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, peningkatan angka kemiskinan memang tak bisa dihindari dan terjadi di wilayahnya.

Tapi, dengan berbagai antisipasi, pihaknya bisa meminimalisir dampaknya, supaya warga masyarakat tidak tercekik situasi pandemi.

Ia pun memaparkan, angka kemiskinan yang sebelumnya  berada di angka 6,8 persen, saat ini meningkat menjadi 7,25 persen.

Hal tersebut, karena banyak warga yang bermata pencaharian di sektor industri pariwisata. Walau begitu, peningkatan itu cenderung sangat minim.

“Kemiskinan cuma naik 0,4 persen. Ada keterlibatan warga masyarakat dalam mengatasi pandemi. Semuanya mampu merespon dengan baik,” ungkap Wawali.

“Sehingga, meski sebagian besar warga Kota Yogyakarta  berada dalam lingkungan industri pariwisata, atau yang berkaitan dengan zona pendidikan, dampak dan efek pandemi bisa diminimalisir,” tambahnya.

Menurutnya, sebelum diterpa pandemi, Yogyakarta sudah terbiasa dihidupi oleh industri pariwisata, ditambah sektor pendidikan, dengan melimpahnya jumlah universitas dan mahasiswa yang datang setiap tahunnya.

Namun, kedua sektor itu harus terhenti akibat corona.

“Saat pandemi, dua-duanya tidak ada semua. Makanya, kita berupaya mendorong, agar bagaimana masyarakat  saling peduli, antara satu sama lain,” katanya.

Bukan isapan jempol belaka, Pemkot sukses mengajak masyarakat, untuk bahu-membahu menangani pandami berkepanjangan.

Hal itu sesuai dengan tema HUT Pemkot Yogyakarta ke-74, ‘Bersama Melanjutkan Penanganan COVID-19 untuk Pemulihan Ekonomi’.

“Kalau kita lihat perkembangan, daya tahan masyarakat, khususnya dalam memberikan kepedulian untuk kelompok miskin, saya rasa partisipasinya itu, nilainya bisa miliaran rupiah yang berputar,” tambah Heroe.

Menurutnya, langkah yang paling simple terkait upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi ini adalah dengan menerapkan selogan ‘Jogja untuk Jogja’ dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, sekecil apapun yang dikeluarkan, tetap memberikan manfaat bagi sesamanya.

“Misalnya, dengan merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar, maupun berbelanja kebutuhan hidupnya di warung-warung di lingkup terdekat. Tunjukkan, bahwa sumber daya yang ada di Yogyakarta inu bisa menghidupkan fungsi perekonomiannya sendiri,” terangnya.

“Saat ini, Pemkot sudah mencoba menghidupkan teman-teman yang tergabung dalam Gandeng Gendong di tingkat wilayah, untuk memenuhi kebutuhan warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah,” lanjut Heroe.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Yogya, Aman Yuriadijaya mengungkapkan, program pemerintah dalam penanganan COVID-19 tergambar dalam tematik HUT Pemkot tahun ini. Artinya, hal itu berkesinambungan dengan apa yang dilaksanakannya sejak awal pandemi.

“Kita ingin memastikan, apa yang sudah kita lakukan pada tahun yang relatif terkendali ini. Insyaallah, dengan momen ulangtahun Pemkot Yogyakarta, semua hal baik yang telah ditempuh bisa berlanjut,” ungkapnya.

Menurutnya, penanganan COVID-19 tidak semata-mata di aspek kesehatan saja, tetapi juga pemulihan ekonomi yang merupakan substansi dasar menyejahterakan masyarakat. Walau begitu, ia tidak menampik, kesehatan merupakan modal dasar pemulihan ekonomi itu.

“Secar operasional teknis perlu dicari keseimbangan, ya, supaya suasana yang bernaluri penanganan kesehatan jadi kondusif untuk pemulihan,” katanya.

“Nah, itu telah dijabarkan dalam apa yang dinamakan kebijakan politik anggaran. Khususnya di 2021 ini sangat menggambarkan kepentingan itu. Sudah kita siapkan agar tetap terjaga untuk mengoperasionalkan apa yang tertuang di tema tematik,”

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *