August 9, 2020

Pemerintah Yakini Perekonomian akan Pulih di Kuartal III 2020

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan akan ada peningkatan laju perekonomian pada kuartal III 2020. Hal ini dilihat berdasarkan komponen ekspor impor maupun penerimaan pajak.

“Kami sedang meneliti sangat dalam saat ini karena di satu sisi ada tanda-tanda yang membuat kami berharap ada suatu tren yang kita lihat sebagai pembalikan di bulan Juni. Kami harap di kuartal ketiga terjadi pembalikan yang akseleratif,” ucap Sri Mulyani dalam Konferensi Pers secara virtual pada Senin (6/7).

Diharapkan periode kuartal III pada Juli sampai September jadi momentum untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Meskipun ia tidak menampik bahwa kuartal II-2020 ini pertumbuhan ekonomi akan mengalami kontraksi 3,8%. Pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional juga menyalurkan insentif untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19

“Program-program yang bisa dilakukan baik melalui perbankan, Baik kredit modal kerja, penempatan dana pemerintah di perbankan, maupun dari belanja-belanja pemerintah yang melalui kementerian, lembaga dan daerah,” ucap Sri Mulyani.

Sementara itu Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menuturkan dengan adanya pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta maka ada tanda-tanda perekonomian akan lebih baik dari kondisi Maret sampai Mei.

“Dengan catatan kondisi pada Mei memang menjadi titik terendah. Diharapkan kondisi perekonomian pada bulan Juni tidak lebih buruk daripada Mei,” ucap Febrio .

Namun kondisi perekonomian belum bisa dibilang ke kondisi normal seperti sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Dengan kondisi normal baru atau new normal pertumbuhan ekonomi tidak akan kembali ke 5% serta merta.

“Kuartal III kami masih akan melihat pertumbuhan ekonomi di kisaran 0%, mudah-mudahan ini perkiraan yang salah. Lalu kuartal IV lah mungkin ada peluang untuk bisa di atas lagi misalnya 3%,” ucap Febrio.

Pelonggaran PSBB yang terjadi di Jakarta tidak langsung membawa dampak positif untuk perekonomian domestik. Sebab bisa saja terjadi episentrum baru penyebaran Covid-19. Bila melihat dari sisi spasial DKI Jakarta berperan terhadap 18% pertumbuhan ekonomi domestik. Lalu diikuti Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan dengan proporsi masing-masing 14,9%, 13,4%, 8,6% dan 3,2%.

“Inilah yang menjadi risiko ke depan walaupun Jakarta mulai melonggarkan PSBB. Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan ini akan jadi tantangan baru sehingga aktivitas ekonomi juga akan cukup terhambat. Belum akan bisa normal ini kalau kita bicara ekonominya di sisi lain kalau bicara kesehatannya tentu kita serahkan ke pihak yang berwenang dan ahli,” ucap Febrio.

Ia mengatakan langsung mengantisipasi di Jakarta saat ini yang sudah dilonggarkan PSBB-nya harus terus dijaga supaya protokol kesehatannya benar-benar bisa dilakukan. Sehingga tidak menyebabkan terjadinya gelombang kedua dari pandemi Covid-19.

“Harapannya tidak terjadi tapi tantangan kita di Indonesia sekarang adalah episentrumnya bergeser ke Jawa Timur Jawa Tengah Sulawesi Selatan dan sebagainya,” pungkas Febrio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *