Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan tidak boleh ada kelalaian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terlebih jika menyangkut keselamatan dan nyawa anak-anak.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat meninjau korban yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG di Rumah Sakit Haji Medan, Minggu (16/8/2026).
Sudaryono mengaku prihatin sekaligus geram atas kembali terjadinya insiden tersebut. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MBG.
“Ini masalah nyawa seseorang. Bayangkan kalau itu adikmu, anakmu. Kita tidak bisa main-main lagi,” ujar Sudaryono.
Ia pun telah menginstruksikan seluruh jajaran BGN agar memperketat pengawasan dan memastikan setiap dapur MBG menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara disiplin.
“Kepada seluruh kepala dapur dan pengelola di seluruh Indonesia, pastikan SOP dilaksanakan. Jangan ada kelalaian, sekecil apa pun, karena ancamannya adalah nyawa,” tegasnya.
Sudaryono memastikan sanksi tegas akan diberikan kepada pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Dapur yang bermasalah akan langsung disuspensi, sementara kepala satuan pelayanan (satpel) yang terbukti melakukan pelanggaran berat akan dicopot dan diproses pemecatannya dari status ASN melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Sanksinya jelas, dapurnya disuspend, dan kepala satpelnya akan saya copot dan pecat dari status ASN-nya melalui BKN, karena ini sudah menyangkut nyawa manusia,” katanya.
Dalam kunjungannya, Sudaryono juga memastikan kondisi korban berangsur membaik meski masih menjalani perawatan intensif di ruang PICU anak. BGN, kata dia, akan bertanggung jawab penuh terhadap biaya perawatan korban.
Selain itu, BGN telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memastikan penanganan korban berjalan maksimal.
Sementara itu, hasil penyelidikan sementara mengarah pada dugaan kelalaian dalam proses pengolahan bahan baku makanan. Salah satunya, ikan disebut tidak disimpan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Sudaryono menegaskan, kejadian tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan teknis di lapangan.
“Insiden ini bukan sekadar masalah operasional, melainkan kegagalan dalam menjaga amanah besar dalam program nasional ini,” pungkasnya.
