Muh. Nur Aris Shoim, Ketua Bidang Kewirausahaan dan UMKM PB HMI, melihat kondisi HMI diumur 74 tahun hari ini, terhitung sejak 5 Februari 1947, sedang tidak baik-baik saja atau mengalami kejumudan baik di internal maupun di eksternal.
Shoim mengungkapkan kemandekan mengelola HMI menjadi organisasi transformatif dan moderen serta mempertahankan diri sebagai organisasi pembaharu disebabkan dua faktor paling fundamental, yaitu kader dan globalisasi.
“Pertama, extremely crisis spirit atau krisis spirit sacara ekstrim telah melanda internal kita. Banyak kader yang tidak semangat lagi atau loyo memperdalam dan meningkatkan kualitas keislaman, keintelektualan dan keindonesiaan di era saat ini, globalisasi,” tutur Shoim di Jakarta (12/03/21).
Shoim yang pernah mengenyam ilmu agama di Pondok Pesantren Abu Dzarrin Kendal Dander Bojonegoro resah atas keringnya pemahaman kader soal keislaman dan buntunya kader menjalankan ajaran Islam. Contoh kecil, lanjutnya, banyak kader yang tidak teratur sholatnya dan mengajipun sudah jarang.
“Di HMI, memahami dan menjalankan prinsip dan nilai keislaman secara mendalam dan utuh adalah keniscayaan. Islam secara substantif perlu dipahami, dimengerti dan dijalankan sebaik mungkin, tapi bukan berarti hal yang sudah wajib ditinggalkan seperti sholat dan puasa,” ungkapnya.
Kemunduran budaya literasi (membaca, menulis dan berdiskusi) di HMI, Shoim yang lahir dan tumbuh di Cabang Yogyakarta menyatakan itu sangat terasa dan telah berdampak pada kerdilnya kualitas kader dan HMI tidak garang lagi di eksternal, bahkan sudah tidak terlalu dilirik atau seksi.
Penurunan ini, lanjut Shoim, mengantarkan kader kurang inovatif dan kreatif dalam berkarya, jika dibandingkan dengan para anak muda hari ini yang begitu inovatif dan kreatif, mereka tidak perlu berorganisasi tapi mereka bisa eksis dan mandiri secara ekonomi. Hal yang paling mendasar kedepannya, tandasnya, yakni mengembalikan budaya literasi serta bagaimana bisa berinovasi dan berkreasi.
“Selanjutnya soal wawasan keindonesian yang seharusnya tidak diragukan lagi ada pada diri kader HMI. Namun semangat patriotisme dan nasionalisme kader HMI perlu dipertanyakan dengan terbawanya kader HMI kedalam arus globalisasi, mengikuti kebiasaan atau budaya luar,” ujarnya.
Poin kedua, lanjutnya, yakni arus globalisasi semakin kencang karena didukung oleh perkembangan teknologi, informasi, dan transportasi canggih. Hari ini industri 4.0 membawa kehidupan manusia dalam kondisi serba cepat dan jika tidak mampu beradaptasi maka resikonya terbelakang, apalagi tidak lama lagi society 5.0 akan booming.
“Kemajuan teknologi, informasi dan transportasi sebagai efek dari era 4.0 menjadi tantangan bagi himpuman, namun persoalannya adalah bagaimana kita memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan itu. Yakin dan percaya, kita pasti bisa, apalagi jika kita kedepannya komitmen dan istiqomah menjadikan organisasi ini jauh lebih moderen dan transformatif,” imbuhnya.
Dalam rangka lepas landas dari kejumudan HMI, jawabannya adalah realisasi Nur HMI. Shoim menjelaskan bahwa Nur HMI memuat keindahan, keharuman, keseimbangan dan kebaikan. Hal ini, tuturnya, dimaksudkan agar HMI selalu membawa kesejukan, keindahan bagi bangsa dan masyarakat serta seharusnya disetiap kiprah organisasi dan kadernya.
“Nur dalam bahasa arab memiliki arti cahaya. Dalam Al-Qur’an kata Nur disematkan kepada Allah Swt. Dan setiap manusia menurut filsafat isyroqi memiliki cahaya ke-Tuhan-an yang mendorong mereka berbuat baik. Harapannya gerakan Nur ini sebagai upaya mendorong HMI menuju kebaikan dan kebenaran hakiki,” yakinnya.
Spirit Nur HMI, tegas Shoim, yaiti mengembalikan semangat HMI pada 1947 menjadi sumber gerakan HMI saat ini yang berusia 74 tahun (74/47), tidak lain dan tidak bukan, untuk menjawab tantangan jaman dan mengantarkan kejayaan HMI yang akan beririsan dengan Indonesia Unggul dan Indonesia Emas.
