Milenial melawan hoaks : Upaya Menjaga Toleransi Untuk Negeri

Milenial melawan hoaks : Upaya Menjaga Toleransi Untuk Negeri

Dalam upaya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penyaringan informasi di media konvensional dan media “baru”, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia wilayah DKI Jakarta (ISKI) menggelar seminar dengan tema “Milenial melawan hoaks : Upaya Menjaga Toleransi Untuk Negeri”.

Seminar yang digelar di Auditorium lt 4 Perpustakan Nasional  tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Komisi Peniyaran Indonesia pusat, Agung Suprio, dan praktisi Media Communication Strategist, Romano Negara sebagai narasumber (22/02/2020)

Bertepatan dengan pelantikan pengurus baru ISKI DKI Jakarta periode 2019-2022, Ketua terpilih ISKI DKI Jakarta, Anita Prasojo, mengajak kepada segenap pengurus baru yang notabene merupakan kumpulan praktisi komunikasi dan para dosen untuk turut menjaga toleransi untuk negeri melalui industri komunikasi. 

Sebagai praktisi yang malang melintang di dunia media televisi, Anita Prasojo berharap dengan diadakannya seminar tersebut dapat meningkatkan literasi digital media para tamu undangan yang hadir pada saat itu, yaitu mahasiswa Vokasi Hubungan Masyarakat Universita Indonesia, LSPR Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, dan Polimedia Kreatif.

Pada seminar tersebut Romano Negara, sebagai praktisi komunikasi yang berpengalaman dalam bidang komunikasi media memaparkan bahwa saat ini portal media daring maupun platform media digital di Indonesia seperti Youtube dipenuhi dengan banyak judul-judul yang sangat click bait dengan mendramatisir judul berita, namun setelah di-crosscheck lebih lanjut, ternyata isi artikel tersebut tidak segenting sebagaimana yang dimuat pada judulnya.

Menurut pengamatan beliau di lapangan, hal tersebut terjadi disebabkan oleh upaya dari jurnalis ataupun content creator saat ini menggunakan segala cara untuk  menaikkan jumlah pembaca dan rating penonton mereka.

Hal tersebut sangat disayangkan oleh beliau karena cara yang dilakukan para insan media tersebut dapat berdampak menurunnya asupan literasi media masyarakat luas.

Beliau juga mendorong kepada para jurnalis dan conten creator yang saat ini berkecimpung di dunia media online dapat merubah pola produksi mereka, tidak hanya fokus untuk lebih aktual, melainka juga memberikan materi yang faktual demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Di bidang penyiaran nasional, Komisi Penyiaran Indonesia sebagi regulator industri penyiaran di Indonesia berupaya maksimal dalam mengawasi konten-konten yang bermuatan hoaks yang mengudara di Indonesia.

Contohnya seperti peristiwa krisis sosial yang terjadi di Wamena pada tahun lalu, Agung Suprio selaku Ketua KPI Pusat mengumpulkan seluruh pimpinan redaksi media resmi di Indonesia untuk melakukan technical brief.

Hal itu dilakukan KPI Pusat demi mengurangi ketegangan sosial yang terjadi agar tidak merembet ke daerah-daerah lain melalui media.

“Kami panggil seluruh pimpinn redaksi media resmi di Indonesia, kami sepakat untuk tidak mempublikasikan berita-berita yang cenderung memanaskan ketegangan pada saat itu. Demi mencairkan krisis sosial yang terjadi , saya berpesan untuk para redaksi mempublikasikan berita-berita yang menjunjung tinggi toleransi. Hasilnya, headline media nasional dipenui dengan berita yang positif sehingga krisis sosial yang terjadi tidak merembet ke daerah lain”, ujar Agung Suprio dalam seminar di Auditorium Perpustakan Nasional, Sabtu (22/2/2020)

Selain itu, menjawab pertanyaan peserta seminar yang berasal dari Universitas Indonesia tentang bagaimana cara KPI melakukan pencegahan penyebaran hoaks melalui media baru, seperti Youtube, Agung Suprio mengatakan bahwa saat ini UU media nasional yang baru tengah di godok di parlemen.

Namun sampai sejauh ini, KPI berperan untuk menegur jajaran direksi platform tersebut untuk mengawasi konten-konten yang terpublikasi melalui media mereka.

Acara tersebut diakhiri dengan foto bersama dengan para jajaran pengurus baru Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Wilayah DKI Jakarta (ISKI) dengan para narasumber seminar dan para mahasiswa perserta seminar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *