Mengenal Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar

Mengenal Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar

Tidak sembarang orang bisa menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Kiai NU yang menjadi Rais Aam haruslah orang yang betul-betul mumpuni dan sudah tidak lagi memiliki ambisi.

Figur kiai ini sangat berpengaruh di kalangan NU. Rais Aam PBNU sekarang ini adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, KH Miftahul Akhyar. Ia merupakan salah satu ulama yang sangat dihormati, terutama bagi kalangan Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur.

Ilmu agamanya tak perlu diragukan lagi. Kiai Miftah lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran jika hari ini Kiai Miftah mengemban puncak kepemimpinan NU. Kiai Miftah menggantikan KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam sebelumnya.  

Sekretaris Pimpinan Wilayah Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur (PW LTN NU Jatim), Ahmad Karomi mengatakan, Kiai Miftah adalah putra pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Dia lahir pada 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

“Di NU dia pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur dan Wakil Rais Aam PBNU yang selanjutnya didaulat sebagai Rais Aam PBNU,” ujar Karomi.

Berdasarkan catatan PW LTNNU Jatim, genealogi keilmuan Kiai Miftah tidak diragukan lagi. Dia tercatat pernah menjadi santri Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri, Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah.

Kiai Miftah juga mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. Karomi mengatakan, penguasaan ilmu agama Kiai Miftah membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga dia diambil menantu oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

Mulai dari nol, kemudian Kiai Miftah mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Menurut Karomi, awalnya Kiai Miftah hanya berniat mendiami rumah sang kakek. Namun, setelah melihat fenomena pentingnya nilai religius di tengah masyarakat setempat, maka Kiai Miftah mulai membuka pengajian. 

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun, berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftah, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu, sehingga kampung yang gelap menjadi terang dan sejuk seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” kata Karomi.

Selain itu, tambah Karomi, kesederhanaan Kiai Miftah terlihat jelas saat menghormati tamu. Kiai Miftah bahkan tidak segan-segan menuangkan minuman dan camilan kepada tamunya. Akhlak seperti itu ia dapatkan dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni.

“Ayah Kiai Miftah merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem, sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar,” jelas Karomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *