Categories Yogyakarta

KTD GMNI Filsafat UGM: Membumikan Pikiran, Menyatu dengan Rakyat

Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) merupakan denyut nadi pengkaderan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). KTD bukan sekadar agenda formal untuk menambah kuantitas kader, melainkan ajang menyiapkan calon kader yang kritis, progresif, militan, dan revolusioner. KTD ini menjadi ruang ideologis untuk membentuk kader yang berpikir tajam dan siap turun ke medan juang bersama rakyat.

DPK GMNI Filsafat UGM, dengan dukungan dari DPC GMNI Yogyakarta, menunaikan mandat organisasi ini dengan menyelenggarakan KTD sebagai upaya menjaga kesinambungan dan kualitas kaderisasi. Acara ini diikuti sekitar dua puluh peserta dari berbagai komisariat: DPK Filsafat UGM, DPK FIB UGM, DPK Biologi UGM, hingga peserta dari Universitas Terbuka Kabupaten Temanggung. Kegiatan berlangsung selama dua hari, pada Sabtu dan Minggu, 23–24 Agustus 2025, yang digelar di Omah Dongeng, Kalasan, Sleman, Yogyakarta

Tema yang diangkat dalam KTD adalah “Berpikir Untuk dan Berjuang Bersama Rakyat”. Tema itu sendiri memiliki makna memengikat nalar pada praksis pembebasan. Pikiran bukan lagi menara gading, melainkan senjata ideologis yang berpihak; menjadi daya revolusioner yang menyatu dengan penderitaan rakyat, mengubah kesadaran menjadi aksi kolektif menuju tatanan sosial yang adil. Melalui tema ini GMNI Filsafat UGM ingin menegaskan bahwa intelektualitas tidak boleh tercerabut dari kenyataan sosial. Berpikir hanyalah pelarian akademis bila steril dari praksis rakyat. Tema ini sekaligus menjawab situasi bangsa di mana krisis ekonomi dan politik semakin menindas rakyat, terutama kaum tani yang menjadi tulang punggung kehidupan.

KTD dibuka dengan sambutan semangat perjuangan dari Steve Laurent Montong selaku ketua Komisariat GMNI Filsafat, dan Muh Jamaludin, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Organisasi DPC GMNI Yogyakarta. Steve menegaskan bahwa kader GMNI adalah abdi rakyat, dan hanya dengan berpihak kepada rakyatlah Sosialisme Indonesia dapat diwujudkan. Jamal menambahkan pentingnya ketajaman intelektual yang bersenyawa dengan daya juang tanpa kompromi.

Tidak berhenti pada ruang pemaparan materi saja, KTD ini juga menghadirkan praktik analisis sosial. Para peserta KTD turun langsung ke sawah, ikut menanam padi, merasakan jerih payah dan keringat rakyat, dan berdialog dengan petani. Dari sana terungkap kenyataan pahit bahwa harga panen masih ditentukan oleh tengkulak yang tidak membawa kesejahteraan kepada petani, terutama buruh tani yang tidak punya lahan sendiri. Nasib petani tetap terpasung, nyaris tak berubah sejak jaman kang Marhaen hingga kini.

Melalui KTD ini, GMNI Filsafat UGM berusaha meneguhkan diri sebagai gerakan mahasiswa yang tidak larut dalam pragmatisme kampus. Dari ruang diskusi hingga lumpur sawah, satu tekad sebagai manifestasi tema KTD kembali digelorakan: Pikiran yang berpihak adalah senjata revolusioner untuk menumbangkan penindasan.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *