Kisah Frans Kaiseipo dan Akronim Irian Jaya Pemersatu Papua-Indonesia

Kisah Frans Kaiseipo dan Akronim Irian Jaya Pemersatu Papua-Indonesia

Kalian tahu gak bahwa nama Provinsi Papua dulunya bernama Irian Jaya. Bahkan sempat diberi nama Irian Barat. Perlu tahu nih, sebelum berubah nama menjadi Papua pada 2001, sesuai dengan kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, provinsi paling timur dari Indonesia ini dikenal dengan nama ‘Irian’.

Provinsi Papua bernama Irian Jaya. Sebuah sebutan pulau Papua yang diucapkan pertama kali oleh Frans Kaisiepo.

Frans adalah pahlawan nasional yang lahir 10 Oktober 1921 di Biak, Papua, dari keluarga yang sederhana dan tinggalnya di Pedesaan. Namun, keterbatasan itu membuat ia tumbuh menjadi sosok pemuda pemberani dan lantang menyuarakan pendapatnya di Konferensi Malino.

Kala itu Frans dipercaya Belanda menjadi perwakilan Papua atau Nederlands Nieuw Guinea di  Konferensi Malino, Sulawesi Selatan pada 15 Juli-25 Juli 1946. Konferensi itu membahas, salah satunya, rencana pembentukan negara yang meliputi daerah-daerah Indonesia bagian Timur.

Alih-alih membantu Belanda memperjuangkan Papua Merdeka yang membentuk negara sendiri, Frans malah melakukan sebaliknya. Ia mendukung wilayah Papua masuk dalam Negara Indonesia bagian Timur (NIT).

Dalam Konferensi Malino itulah untuk pertama kalinya Frans Kaisiepo mengusulkan penggantian nama Papua dan Nieuw Guinea menjadi Irian pada 16 Juli 1946. Perlu diketahui, Irian merupakan akronim dari ‘Ikut Republik Indonesia Anti Nederland’.

Hal ini juga diabadikan dalam Monumen Pembebasan Irian Barat, dimana dalam monument tersebut dikatakan bahwa Irian merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland.
Sementara itu, dalam Bahasa Biak, Irian berarti sinar yang menghalau kabut atau cahaya yang mengusir kegelapan.

Sedangkan dalam Bahasa Merauke, Irian terdiri atas kata ‘Iri’ yang berarti ditempatkan atau diangkat tinggi, dan ‘an’ yang artinya bangsa.  Sehingga Irian memiliki nama sebagai bangsa yang diangkat tinggi.

Siapa Frans Kaisiepo?

Putra asli Papua itu bukan orang sembarangan. Di Papua ia termasuk orang terdidik yang mengenyam sekolah dengan sistem Belanda, mulai dari Sekolah Rakyat, kemudian lanjut ke LVVS di Korido, dan Sekolah Guru Normalis di Monokwari. Ia juga mengikuti kursus kilat Sekolah Pamong Praja di Kota Nica, sekarang menjadi Kampung Harapan Jaya.

Tak ayal, kecerdasannya tersebut dimanfaatkan pihak Belanda  membantu memerdekakan tanah Papua. Sikapnya yang diambil Frans pada saat Konferensi Malino, membuat Belanda yang hadir saat itu dibuat kesal.

Mereka tidak menyangka putra terbaik Papua itu malah berhaluan kanan mendukung Indonesia. Sebagai hukumannya, Frans tidak dilibatkan lagi pada konferensi-konferensi selanjutnya.

Besar tekadnya mempersatukan Pupua dengan Indonesia hingga rela mengelilingi wilayah di Papua. Tujuannya untuk mendapatkan hati orang-orang Papua agar mendukung penyatuan dengan Indonesia. Ia juga menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih sekaligus menyanyikan lagu Indonesia Raya di tanah Papua.

Perjuangannya dalam mempersatukan Papua dengan Indonesia patut kita kenang sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia, sekaligus putra terbaik yang dimiliki negara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *