Categories Gunungkidul kesehatan

Kementan Turunkan Tim Kesehatan Tangani Antraks Gunungkidul

Suara Yogyakarta – irektur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Nuryani Zaenudin mengatakan, pemerintah bergerak cepat melakukan penanganan penyakit zoonosis antraks yang ditemukan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Di antaranya dengan upaya mitigasi dan isolasi wilayah, serta menurunkan tim kesehatan hewan ke lokasi untuk investigasi. 

Selain itu, pemerintah telah mendistribusikan logistik obat-obatan antibiotik, vitamin, serta cairan disinfektan sebagai perangkat utama dinas setempat dalam penanganan kasus. Investigasi kasus juga telah dilakukan dengan mengambil dan memeriksa sampel untuk diagnosis, komunikasi dan advice strategist.

“Termasuk menghentikan lalu lintas keluar dan masuk (ternak) di lokasi tertular. Sampai saat ini kasus pada ternak dan manusia terlokalisir di satu padukuhan yaitu Dukuh Jati, Desa Candirejo, Kecamatan Semanu,” ujar Nuryani lewat keterangannya.

Dia mengonfirmasi, pihaknya telah menyuntik antibiotik pada semua hewan yang rentan tertular pada daerah terancam. Kemudian, melakukan dekontaminasi dengan desinfektan pada lokasi penyembelihan dan penguburan ternak. 

Adapun vaksin yang telah disuntikan di Gunungkidul mencapai 78 ekor sapi dan 286 ekor kambing.

“Jadi sejak kami terima laporannya pada 15 Juni 2023 lalu, kami langsung melakukan sosialisasi dan komunikasi informasi edukasi bersama Dinas Gunungkidul,” katanya.

Sejauh ini, tambahnya, vaksin operasional yang telah didistribusikan ke Gunungkidul mencapai 96.000 dosis. Sementara, pihaknya juga telah mengambil sampel sebanyak 5.707 dan stok vaksin yang tersedia saat ini mencapai 110.000 dosis.

Nuryani berharap, kepedulian masyarakat terhadap antraks dapat terus meningkat dengan memperkuat surveilans pada area endemik dan terancam. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk menginfomasikan kejadian dan temuan antraks di wilayahnya.

“Jadi, jika ada kematian mendadak pada hewan, masyarakat bisa melakukan pelaporan ke petugas terdekat untuk dilakukan penelusuran,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syamsul Ma’arif menyatakan, penyakit antraks merupakan penyakit zoonosis yang mampu bertahan hingga puluhan tahun, apabila hewan ternak yang terpapar tidak dilakukan penanganan yang tepat.

Syamsul menekankan, bakteri antraks bersifat sangat berbahaya. Karena itu, pihaknya menegaskan, hewan yang terpapar bakteri antraks tidak boleh dibuka. 

“Kalau dibuka bakterinya bisa jadi spora dan bertahan bertahun-tahun. Jadi direbus saja tidak aman karena spora bisa bertahan hingga bertahun tahun,” ucap Syamsul.

Berisiko Jika Dikonsumsi Manusia
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menggarisbawahi, daging terdampak penyakit antraks yang dikonsumsi manusia dapat berisiko menyebabkan kematian. Mulanya, penyakit tersebut menyerang paru-paru, lalu setelahnya akan melepuh dan berujung pada kematian.

“Dampak ke manusia bila daging antraks tetap dimakan maka akan merusak paru paru lalu melepuh. Jadi saya mengimbau kepada semua puskesmas di gunung kidul untuk lebih waspada mengingat spora antraks bisa hinggap di mana-mana,” sebut Imran. 

Sebagai langkah lanjutan, pihaknya juga telah melakukan penyidikan terpadu. “Sejauh ini kita sudah melakukan penyidikan terpadu melalui satgas. Kemudian, survei terhadap yang berisiko dan pengobatan kepada yang terpapar,” jelasnya.

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *