Kalimantan Miliki Potensi Pasar Industri Ekonomi Berbasis Digital

Kalimantan Miliki Potensi Pasar Industri Ekonomi Berbasis Digital

Perbaikan kualitas infrastruktur teknologi serta meningkatnya penetrasi internet di Indonesia membuat daya saing digital di daerah ikut mengalami perkembangan yang signifikan. Seperti di Pulau Kalimantan, misalnya, sejumlah provinsi tercatat memiliki potensi yang cukup bagus dalam hal pengembangan sektor yang satu ini, khususnya untuk peningkatan pasar industri ekonomi berbasis digital.

Data ini terungkap laporan pemetaan East Ventures-Digital Competitiveness Indes (EV-DCI) yang digelar tahun 2020 ini. Perusahaan modal ventura itu memetakan daya saing digital secara nasional hingga ke 34 provinsi di Indonesia.

Adapun di Pulau Kalimantan, laporan EV-DCI 2020 menyebut Provinsi Kalimantan Timur menjadi daerah yang memiliki skor daya saing digital yang tinggi dengan nilai 37,9. Kaltim bahkan masuk dalam urutan 10 besar nasional, tepatnya menduduki posisi delapan.

Skor itu didapat dari banyak indikator. Diantaranya, Kaltim memiliki performa paling baik di pilar penggunaan ICT dengan skor 72,8. Apalagi hal tersebut didukung karena rasio kepemilikan handphone dan komputer di provinsi ini tergolong tinggi.

Selain penggunaan ICT, Kaltim juga memilki skor cukup tinggi dalam hal regulasi dan kapasitas pemda. Pilar ini mendapatkan dukungan dari indikator angka partisipasi kasar SMA/ SMK yang memiliki skor tertinggi di Indonesia, yakni 100.

Sementara dukungan infrastruktur digital di Kaltim memiliki skor menengah yaitu 43,5. Sedangkan, untuk inklusi keuangan masih memiliki ruang untuk berkembang. Dari semua pilar input yang dinilai, hanya SDM merupakan pilar dengan nilai terendah. SDM yang masih rendah dikarenakan perguruan tinggi dengan program studi digital masih sangat rendah sehingga jumlah mahasiswa yang diharapkanmenjadi sumber SDM juga rendah.

Keterbatasan di SDM membuat perekonomian di sektor digital juga kurang berperforma baik dan mendapatkan skor 19,9. Kewirausahaan sektor informasi dan komunikasi juga memiliki skor rendah, tetapi relatif lebih baik dibandingkan kebanyakan provinsi.

Menyusul Kaltim, di urutan 11 nasional ada Kalimantan Utara dengan skor 34,1. Kemudian ada, Kalimantan Selatan pada urutan 14 skor 30,7. Di urutan 21, ada Kalimantan Timur dengan skor daya saing digital sebesar 27,4 dan Kalimantan Tengah menduduki urutan 32 nasional dengan skor 23.6.

Menurut Co-founder & Managing Partner East Ventures, Wilson Cuaca, perkembangan ekonomi digital yang cukup pesat di daerah jelas memberikan dampak positif, seperti tumbuhnya berbagai platform jual-beli online (e-commerce), transportasi online (ride hailling), jasa keuangan
online (financial technology), hingga digitalisasi pariwisata (online travelling). Ini membuat ekosistem ekonomi digital Indonesia semakin beragam.

Adapun untuk dampak positif bagi tenaga kerja adalah perubahan pola penyerapan dan komposisi tenaga kerja. Dalam tiga tahun terakhir, porsi tenaga terampil dan profesional tercatat meningkat hampir di semua sektor lapangan usahayang terkait digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa dengan kemajuan digital, persaingan di pasar kerja lebih kompetitif dan pekerja terampil dapat lebih unggul. Sektor Informasi dan Komunikasi yang menjadi tulang punggung ekonomi digital mencatatkan peningkatan tertinggi dengan 15,8%.

“Industri digital adalah perekonomian yang berbasis penguasaan teknologi dan pengetahuan (knowledge basedeconomy), bukan bertumpu pada penguasaan aset. Ini membuka kesempatan yang sama bagi perusahaan- perusahaan rintisan untuk mengambil peran sentral dalam membangun ekonomi digital Indonesia bersama korporasi raksasa dan perusahaan multinasional,” kata Willson dalam rilis yang diterima starbanjar, pada Sabtu (11/4/2020).

Dia menambahkan ekonomi digital Indonesia harus hadir dengan semangat inklusif. Para pengguna baru internet di Tanah Air tidak hanya merasakan perubahan gaya hidup, tetapi juga menikmati manfaat ekonominya. Pedagang kecil yang membuka lapak di e-commerce, mitra pengemudi layanan on-demand, hingga pemilik warung yang menerima pembayaran listrik kini ikut berkontribusi menggerakan ekonomi Indonesia.

Adapun East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) menurutnya merupakan upaya perusahaan untuk memetakan dampak perkembangan ekonomi digital di seluruh Nusantara. Ekonomi digital menjanjikan inklusivitas, pemerataan peluang ekonomi bagi seluruh penduduk Indonesia. Indeks ini adalah indikator dari keberhasilan industri digital dalam mewujudkan janjinya.

“Data yang dikumpulkan dalam EV-DCI bukan ditujukan sebagai sebuah kesimpulan. Indeks ini adalah titik awal yang memulai fase berikut dari transformasi digital Indonesia. Kami ingin mendorong semua pemangku kepentingan untuk ikut terlibat dan turut menikmati dampak positif ekonomi digital,” katanya.

Dari data yang disajikan oleh EV-DCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing. “Harapan kami, para pemimpin di tiap daerah semakin terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *