Jamaah Masjid Suciati Saliman Tolak Radikalisme hingga Komunisme

Jamaah Masjid Suciati Saliman Tolak Radikalisme hingga Komunisme

Jamaah Masjid Suciati Saliman, di Desa Pandowoharjo, Kabuparen Sleman, kemarin malam mengikuti pengajian dengan tema: Jalin Ukhuwah Islsmiyah demi Tegaknya NKRI. Dalam pengajian tsrsebut, secara tegas menolak paham radikalisme, komunisme, dan terorisme.

Menurut pemilik masjid, Riyanto, bahwa selain sebagai rumah ibadah umat muslim, masjid harus menjadi tempat yang mampu memberikan kedamaian. Bukan malah sebaliknya menjadi tempat untuk mengajarkan paham sesat maupun radikal kepada jamaahnya.

Materi kotbah, ceramah maupun kajian yang diberikan di dalam masjid harus menyejukkan. Pihak pengelola masjid juga harus selektif dalam memilih penceramah, bila perlu diberikan rambu-rambu tentang apa saja materi yang akan diberikan.

“Mari kita dukung aparat Pemerintah untuk memberantas terorisme di Indonesia khususnya di wilayah Yogyakarta. Stigma Masjid yang selalu dijadikan tempat untuk mendoktrin jamaah untuk menjadi ekslusif atau lebih ke arah pemahaman yang tidak benar dan dilarang oleh negara akan kita hilangkan.

Dia menegaskan, Masjid Suciati Saliman dalam mendatangkan para ustadz untuk mengisi kajian di masjid selalu selektif. Jangan sampai mengundang ustadz yang kontroversi atau banyak ditentang oleh masyarakat.

“Kalau kami mendatangkan ustadz yang banyak ditolak oleh masyarakat itu malah bikin kami repot sendiri, kami tidak mau seperti itu.

Dia mengharapkan, dengan adanya kegiatan seperti ini ke depan para jamaah dapat paham akan bahaya radikalisme, terorisme, dan Komunisme. Karena hal tersebut dapat merongrong NKRI.

Hal senada disampaikan Kasibinturmas Dit Binmas Polda DIY, Kompol Handiko Widiyanto SH MH mengajak, jamaah untuk menghargai adanya perbedaan yang dimiliki Indonesia. Radikalisme, terorisme, dan terorisme sangat tidak menghargai keberagaman dan perbedaan seperti bangsa tercinta yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.

“Marilah kita tingkatkan rasa toleransi atas keberagaman dengan membawa rahmat kepada seluruh manusia. Mari kita menjaga kerukunan bangsa Indonesia,” terang Kompol Handiko.

Handiko menuturkan, rasa aman menjadi tanggungjawab bersama. Dengan terciptanya keamanan dan ketertiban maka gangguan yang bisa memecah belah warga dapat ditangkal.

“Paham radikal maupun gerakan terorisme tidak akan tumbuh dalam lingkungan aman. Aman tidak bisa tercipta dengan sendirinya tanpa ada peran serta bersama dan kesadaran untuk menciptakannya.

Sementara Ustadz Hanan Yasir MA mengatakan, kalau ada rasa nikmat aman di masyarakat dan tidak ada gejolak ibaratnya kita punya isi dunia. Aman akan bisa membuat kita bisa beribadah karena kita tidak takut untuk ke masjid.

“Namun, kalau di dalam masyarakat ada paham radikalisme, komunisme, dan terorisme, niscaya kehancuran hanya tinggal tunggu waktunya. Rasa aman membuat kita tidak merasa khawatir ada serangan bom misalnya. Kita punya kewajiban untuk sama-sama menjaga keamanan dan menjaga ketertiban.

Menurut Ustadz Yasir, Islam selalu mengajarkan kedamaian dan jauh dari kekerasan. Jika ada tindak kekerasan dengan mengatasnamakan Islam, maka itu jelas sudah keluar dari konteks Islam.

“Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme apalagi tindak terorisme. Jika ada yang melakukan hal tersebut dengan mengatasnamakan Islam, maka itu bukanlah bagian dari Islam dan harus ditanyakan kembali ke Islamannya.

Ustadz Yasir mengingatkan, aman merupakan nikmat besar yang diberikan Allah kepada umatnya. Bahkan hal itu diabadikan dalam Alquran ketika Nabi Ibrahim selesai membangun Ka’bah. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT agar menjadikan tempat ini (Makah) menjadi negeri yang aman. Kenapa Nabi Ibrahim bedoa seperti itu, karena aman adalah nikmat yang paling agung.

“Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menciptakan rasa aman bagi dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Keberadaan umat muslim di manapun harus bisa menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk menciptakan rasa aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *