August 12, 2020

Islam Indonesia Itu Moderat dan Inklusif

Islam moderat dan inklusif adalah ciri Islam yang seyogianya dianut oleh warga muslim Indonesia, kini telah memberikan ciri tersendiri yang membedakan dari ciri Islam di seluruh dunia. Islam Indonesia menjadi model yang banyak dijadikan acuan umat Islam di berbagai belahan dunia, karena melalui sifatnya yang moderat lagi inklusif itu kemudian menciptakan toleransi yang tinggi antarumat beragama.

Karakter Islam Indonesia yang moderat dan inklusif serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan ini menjadi karakter praktik keagamaan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga terkait erat dengan masyarakat Indonesia yang majemuk sehingga menerapkan nilai Islam moderat dan inklusif adalah representasi ajaran agama Islam yang sesungguhnya yakni agama yang memberikan kebebasan, persaudaraan, dan persamaan kepada sesama.

Kemajemukan masyarakat Indonesia adalah sunnatullah yang harus diterima sebagai fitrah manusia Indonesia. Beragam suku, agama, ras, budaya, sosial dan lain sebagainya adalah ketetapan Tuhan yang harus kita syukuri dan jadikan motivasi untuk membangun kehidupan yang rukun antarsesama manusia Indonesia. Setiap warga negara yang hidup dalam bingkai NKRI seyogianya bisa saling memahami keragaman itu tanpa ada tindakan diksriminatif yang destruktif.

Oleh karenanya, upaya-upaya rasional harus terus dilakukan dalam rangka menghadapi persoalan keagamaan berupa ketegangan seperti belakangan terjadi. Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa melepaskan diri dari kebodohan dan cara pandang yang fanatis dan pemahaman lain yang hanya memperburuk situasi sosial keagamaan bangsa. Dengan begitu Indonesia sebagai sebuah bangsa akan tetap utuh dan tidak ternoda oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat.

Penting ditegaskan lagi bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang damai. Islam Indonesia adalah Islam yang disebarkan oleh walisongo yang kemudian diteruskan oleh para ulama. Ciri Islam ini adalah menekankan pada praktik keagamaan yang ramah dan penuh dengan keadaban, harmoni, dan toleransi. Ciri Islam ini sangat berbeda jauh dengan cara beragama sektarian yang fundamental, resisten, dan penuh dengan kekerasan serta intimidasi yang berkepanjangan.

Representasi sejarah Islam Indonesia adalah Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai tawazun (moderat), tasamuh (toleran), dan tawasuth (tidak berlebihan). Representasi Islam seperti inilah yang akan memberikan pondasi bagi terbangunnya iklim Islam Indonesia yang menciptakan kebiasaan hidup yang santun dan menjunjung tinggi basis moralitas yang luhur.

Ciri beragama seperti inilah yang tidak hanya meletakkan Islam sebagai instrumen belaka, tetapi lebih dari itu, Islam hadir sebagai sebuah keluhuran bersama dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, makmur, demokratis, yang anti-diskriminasi. Dengan demikian, Islam Indonesia bukan hanya agama yang menjunjung universal formalistiknya, tetapi lebih pada sumber inspirasi, motivasi, landasan etik, serta memiliki spirit ruhiyah menciptakan kondisi keluhuran bangsa Indonesia.

Sebab itulah, agama Islam pada hakikatnya adalah sejalan dengan spirit kemanusiaan yang universal. Menjunjung tinggi moderasi dan inklusivitas dalam beragama akan memberikan kontribusi bagi kehidupan semua manusia yang menjadi penganutnya. Di sinilah letak korelasi Islam dengan kenyataan masyarakat Indonesia yang plural. Watak inklusif Islam akan menjadi kekuatan untuk merekatkan ikatan sosial di tengah karakter masyarakat yang plural.

Manusia sebagai makhluk sosial adalah fitrah yang harus menjadi pemantik dalam menjalin ikatan sosial yang inklusif. Di situlah Islam hadir sebagai nafas yang menciptakan pandangan mantap tentang pluralisme sosial kemudian dijiwai oleh sikap saling menghargai antarkelompok masyarakat yang berbeda. Islam datang menjadi ruh bagi integrasi dalam hubungan sosial yang beragam.

Dari sinilah Islam menemukan karakter keagamaan yang oleh Nurcholis Majid disebut sebagai al-hanifiyyah al-samhah, yakni suatu ajaran yang bersemangat mencari kebenaran secara lapang, toleran dan inklusif tanpa ada sedikit pun kefanatikan. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *