Gunungkidul, 4 Mei 2026. Edukasi recycle sampah plastik & bijaksana dalam penggunaan plastik di umur “Emas” sangatlah penting untuk membangun kesadaran akan pentingnya bumi dengan minim plastik/mikroplastik. Generasi yang bertanggung jawab dengan tindakan & resikonya membuat bumi ini semakin indah. Umur emas adalah istilah untuk puncak pertumbuhan otak anak terutama otak bawah sadar menyimpan memori positif & negatif. Kegiatan edukasi mendaur ulang di SD Muhammadiyah Jarah, Gunung Kidul adalah salah satu solusi memecahkan sampah plastik/non-organik yang cepat, karena mudah mendapatkan material, aman & kreatif. Efek positif bagi siswa-siswa SD adalah dimasa pertumbuhan otak, badan fisik & mentalnya, anak-anak membutuhkan kegiatan yang merangsang syaraf-syaraf di otak terutama otak bawah sadar sehingga tersimpan dalam memori (yang mendalam) tentang bagaimana mengembangkan cara mengatasi masalah dengan kreatif. Juga badan fisik dilatih bergerak kreatif membentuk model-model mainan yang menarik & menstimulus syaraf-syaraf di tangan dan 4 indra (mata, telinga, hidung & perasaan).

“Jika otak bawah sadar anak-anak dipenuhi memori-memori positif maka akan sedikit tersedia tempat/space untuk memori negatif sehingga mental anak akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan karena sudah terbiasa & mempunyai jalur komunikasi di syaraf untuk membentuk kegiatan yang positif/ide/solusi. Jadi kegiatan daur ulang sampah plastik/non-organik ini bukan hanya untuk memecahkan masalah sampah yang makin berlimpah & belum ada solusi yang optimal karena selama ini masih dibakar menjadi racun dioksin yang merusak paru-paru anak-anak/guru & warga sekitar. Residunya menjadi mikroplastik yang menghambat mikroorganisme di tanah sehingga menghambat petani mendapatkan tanah yang subur & hasil panen menurun tiap tahunnya. Juga kita mengkonsumsi padi/sayur-mayur yang mengandung mikroplastik sehingga menyebabkan kanker & penyakit modern lainnya. Atau kalau dimakan ternak, sama halnya kita makan daging yang mengandung mikroplastik & tubuh kita menumpuknya menjadi residu yang tidak terurai tubuh.” Kata Ira (Pendiri Jiwa Laut)

“Anak-anak yang antusias menonton film “Wisata Plastik” (tersedia di Youtube) tentang solusi sampah plastik, juga membuat prakarya robot, mobil, roket & bunga dari sampah plastik/non-organik dengan bimbingan teman-teman dari Sanggar Lumbung Kawruh & Komunitas Deruk Cemung, serta mas Dian Adi. Juga membuat ecobric; batu bata dari sampah botol plastik yang diisi sampah plastik kering. Ini bisa dipakai untuk pondasi rumah, pagar, tapak jalan & pagar tanaman seperti yang sudah dilakukan di LSM Jiwa Laut di pantai Watukodok & sudah bertahan selama 10 tahun tanpa kerusakan.” Imbuhnya.

Guru-guru yang antusias & aktif mengiringi workshop ini mempunyai andil yang penting membangun semangat anak didik supaya bergairah terhadap prakarya yang memanfaatkan barang terbuang menjadi bernilai bagi anak-anak & orang tua (bisa menghemat pengeluaran tidak membeli mainan baru yang akan membuat sampah baru & beban baru bagi bumi). Diakhir acara diadakan pemilihan produk yang menarik paling kreatif & mendapatkan hadiah kado dompet daur ulang plastik bergambar kucing (bekas pakan), kantong tempat minum/thumbler (bekas packing semen) & buku cerita tentang hewan lumba-lumba. Pada dasarnya semua hasil prakarya bagus & kreatif. Hadiah kado hanyalah tambahan daya tarik untuk wacana baru bagi anak-anak untuk mendapat ide lebih luas untuk membuat prakarya lebih bermacam bentuk.
“Terimakasih untuk teman-teman Sanggar Lumbung Kawruh, Deruk Cemung, mas Dian Adi, anggota LSM Jiwa Laut & murid-murid serta Kepala Sekolah, Guru-guru SD Muhammadiyah Jarah Gunung Kidul yang sudah memberikan kontribusinya bagi kedamaian di bumi.” Tambah Ira.
