BPIP: Internalisasi Nilai-nilai Pancasila Melalui Keteladanan Kaum Intelektual

BPIP: Internalisasi Nilai-nilai Pancasila Melalui Keteladanan Kaum Intelektual

Yogyakarta – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Lia Kian mengatakan proses internalisasi Pancasila dapat dilakukan melalui ketauladanan dari kaum intelektual.

Hal itu disampaikannya dalam Sosialisasi Pancasila kepada Ikatan Sarjana Republik Indonesia (ISRI) bertema ‘Internalisasi Nilai-nilai Pancasila: Keteladanan Kaum Intelektual dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara’ di Hotel Novotel Yogyakarta, Sabtu (14/12/2019).

“Sesuai dengan tema hari ini, bagaimana Pancasila mampu diinternalisasikan dalam jati diri kita baik pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Internalisasi ini tentu bicara keteladanan,” katanya.

Ia mengakui proses internalisasi nilai-nilai Pancasila tak semudah membalikkan telapak tangan.

Namun, ia meyakini adanya lembaga BPIP membawa harapan tetap tegaknya Pancasila di bumi pertiwi.

“Kami di BPIP yang baru lahir dari amanat Perpres nomor 7 tahun 2018, naik jadi badan, baru genap dua tahun melakukan kerja sama soisalisasi Pancasila dengan berbagai elemen bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Profesor Wuryadi menyoroti cara berpikir kalangan milenial yang cenderung pragmatis.

Ia melihat saat ini mayoritas pelajar dan mahasiswa tidak berpikir secara ilmiah seperti bagaimana nilai-nilai Pancasila itu digali dari kebudayaan masyarakat Indonesia.

“Enggak sabar mereka. Mereka ingin langsung pada tujuannya, untuk apa sih Pancasila, maka kita orang yang lebih tua harus lebih paham, kita mulai dari apa yamg harus mulai dilakukan dengan Pancasila,” katanya.

Karena itu, ia merumuskan tiga program aksi yang bisa dilakukan untuk membumikan Pancasila dalam sanubari milenial.

Pertama adalah program aksi pendidikan rakyat.

Ia mengatakan pendidikan bukan sekadar pendidikan formal di sekolah.

Namun yang menciptakan karakter bersatu, merdeka dan bercita-cita kesejahteraan yang adil.

Kedua adalah program aksi menggalang persatuan untuk merdeka bersatu dan berdaulat

Ketiga, yakni program aksi menuju kesejahtersan yang adil dengan bermodal pada kekayaan sumber daya alam.

Untuk program aksi yang ketiga, ia menyebut bisa melalui cara memperkuat Maritime, Agriculture dan Niaga (MAN).

“Kalau kita bisa mengkonvergensikan ketiga ini maka program untuk kesejahteraan bisa kita lakukan. Bagian-bagian tertentu kita sudah lakukan yaitu bagaimana membina sistem maritim kita, agriculture kita sudah menjadi bagian dari kehidupan yang lumrah tapi mempersatukan dengan niaga kita masih kocar kacir,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *