Bos CBC Puji Langkah Erick Kebut Holding Asuransi

Bos CBC Puji Langkah Erick Kebut Holding Asuransi

Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC) Achmad Deni Daruri memastikan langkah pemerintah untuk penyehatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sudah tepat. 

Solusi pemerintah saat ini adalah persiapan membentuk anak perusahaan bernama Jiwasraya Putra, holding asuransi dan kerja sama reasuransi. 

“Langkah yang diambil sudah sesuai, kita tidak usah panik karena sudah punya pengalaman Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Gerak pemerintah menyelamatkan Jiwasraya, semakin cepat semakin baik,” ujar Deni dalam keterangan resminya, kemarin. 

Ia juga meminta seluruh pihak tidak saling menyalahkan. Tidak perlu menuding OJK lamban dalam menjalankan pengawasan, atau menuduh investasi Jiwasraya di PT Mahaka Media Tbk (ABBA) adalah salah satu pemicu gagal bayar Jiwasraya. 

“Tidak perlu digoreng-goreng. Karena hanya akan menimbulkan kepanikan. Jiwasraya jangan menjadi bola liar akibat pernyataan yang makin tidak jelas dan tidak bertanggung jawab muncul di berbagai media,” papar Deni. 

Pembina Indonesia Murojaah ini juga menjabarkan, pada kenyataannya investasi Jiwasraya di ABBA telah menghasilkan Rp 2,8 miliar. 

Karena menjual saham pada saat yang tepat. Sampai 2017, lanjut Deni, Jiwasraya tetap solvent dan tidak melanggar ketentuan tentang investasi. 

Misalnya, ketentuan saham maksimal 10 persen dari total investasi per emiten, serta reksadana maksimal 20 persen dari total investasi untuk setiap Manager Investasi. 

Agar tidak membuat panik stakeholder terkait, Deni mengurai sejumlah catatan Jiwasraya. Pada 2006-2008, OJK sudah mengetahui defisit di Jiwasraya per 31 Desember 2006 sebesar Rp 3.29 triliun. 

Pada ada akhir 2008, defisit naik menjadi Rp 5,7 triliun. Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan Jiwasraya pada 2006 dan 2007 pendapat disclaimer. 

Periode 2009-2010, defisit Jiwasraya per 31 Desember 2009 mencapai Rp 6,3 triliun. Kala itu, pemegang saham mengusulkan mengatasi insolvent melalui penyelamatan dengan APBN. 

“Namun tidak jadi. Setahun berikutnya, manajemen Jiwasraya mengusulkan penyehatan jangka pendek dengan mereasuransikan sebagian kewajiban pemegang polis ke perusahaan reasuransi. Dan mendapat persetujuan oleh otoritas dan pemegang saham,” ujarnya. 

Saat itu, kata Deni, Jiwasaraya menjadi solvent. Jumlah kekayaannya menjadi Rp 5,5 triliun dan kewajiban Jiwasraya Rp 4,7 triliun (dari seharusnya Rp 10,7 triliun).“Saat itu ekuitas Jiwasraya surplus Rp 800 miliar,” kata Deni. 

Periode 2018-sekarang, OJK mencatat adanya defisit Jiwasraya per 31 Desember 2018 sebesar Rp 10,2 triliun. Seiring pergantian direksi Jiwasraya di awal 2018, dilakukan evaluasi menyetop penjualan JS Saving Plan, sehingga menimbulkan tekanan likuiditas.

Akhir 2018, lanjut Deni, kondisi keuangan Jiwasraya semakin tidak kondusif. Terjadi pelepasan aset investasi Jiwasraya untuk membayar klaim. 

“Prediksi otoritas, rasio kecukupan modal untuk menanggung risiko atau risk based capital (RBC) di atas 120 persen baru tercapai tahun 2028. Jiwasraya mengajukan dispensasi untuk mencapai kesehatan RBC di 2028,” tegasnya. 

Kejaksaan Agung sebelumnya mengumumkan kerugian negara lebih dari Rp 13,7 triliun akibat tindak pidana korupsi di tubuh Jiwasraya.“Sampai Agustus 2019, Jiwasraya menanggung kerugian negara hingga Rp 13,7 triliun, ini baru perkiraan awal. Diduga (nilai aslinya) akan lebih dari itu,” ujar Jaksa Agung ST Burhanuddin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *