Upaya menciptakan suasana damai di masa Pemilu 2024 tidak hanya di dunia nyata. Tetapi juga di dunia maya atau ranah digital. Upaya mewujudkan pemilu damai di ruang digital diantara dengan membasmi peredaran hoax atau berita-berita bohong.
Pentingnya suasa damai di masa pemilu itu disampaikan pegiat media sosial Delianda. Dia mengatakan, pemilu merupakan tonggak penting dalam demokrasi. Namun penyebaran hoaks dengan menciptakan polarisasi politik dapat merusak integritas proses demokratis.
“Melalui seminar ini, kami bertujuan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat khususnya Kota Lhoksumawe dalam konteks Pemilu,” katanya dalam seminar Literasi Digital dengan tema Pemilu Damai Tanpa Hoaks secara virtual dari Kota Lhoksumawe pada Senin (29/1).
Menurut dia, suasana damai di dunia nyata maupun maya sangat penting. Supaya masyarakat dapat mengikuti proses pemilihan dengan pemikiran yang cerdas. Serta terhindar dari informasi palsu atau hoaks.
Lebih lanjut Delianda mengatakan penggunaan media sosial di Indonesia sudah sangat masif. Untuk itu masyarakat harus sangat bijak menghadapi hal tersebut. Ia melansir data Reportal pada tahun 2023, dimana pengguna aktif media sosial Indonesia mencapai 167 juta dari total populasi. Hal tersebut setara dengan 60,4 persen dari total populasi.
Pada kesempatan yang sama, Herlin selaku dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Albanna Lhokseumawe mengatakan hoaks atau berita bohong dapat melahirkan polarisasi politik yang dapat memecah belah bangsa Indonesia menjelang perhelatan Pemilu 2024. Terlebih lagi jika hoaks tersebut disebarkan di ruang digital yang sangat masif.
Oleh karena itu penting sekali bagi setiap elemen masyarakat untuk mewujudkan Pemilu yang damai. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat tentang pentingnya Pemilu yang bersih dari isu politik identitas, politisasi SARA, hoaks, dan ujaran kebencian,” ujarnya.
Pemilu yang damai, lanjut Herlin, tanpa hoaks dan ujaran kebencian merupakan hal yang penting dalam rangka mewujudkan pemilu yang berintegritas. “Kita harus dapat melawan itu semua agar terhindar dari polarisasi politik yang dapat memecah belah bangsa,” tuturnya.
Herlin juga menekankan di era digital masyarakat harus pintar memilah informasi yang diterima. Karena banyak disinformasi yang beredar khususnya mendekati Pemilu 2024. Masyarakat harus bijak dan cerdas dalam menerima informasi yang didapat di ruang digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, dirinya menekankan pentingnya pemahaman mengenai literasi digital agar terhindar dari bahaya hoaks di ruang digital.
Seperti diketahui dalam rangka mewujudkan dan menciptakan ruang digital yang sehat dalam pelaksanaan pesta politik lima tahunan itu, Kementerian Kominfo hadir mendorong agenda Pemilu Damai 2024. Agenda ini akan menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dengan tujuan mewujudkan Pemilu yang damai, bermartabat, dan berkualitas. Sebagai tolak ukur kedewasaan demokrasi, dengan menciptakan ruang digital yang sehat.
