Aktivitas manufaktur lemah, omnibus law dan penurunan biaya logistik dibutuhkan

Aktivitas manufaktur lemah, omnibus law dan penurunan biaya logistik dibutuhkan

Suarayogyakarta.com – Aktivitas manufaktur Indonesia masih melemah. Ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 49,3 pada Januari 2020 atau berada di bawah batas level ekspansi yang sebesar 50,0.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy, penurunan pertumbuhan industri manufaktur ini salah satunya disebabkan permintaan masyarakat yang masih belum membaik. Oleh karenanya, Yusuf mengimbau agar pemerintah bisa melakukan usaha untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Karena misalnya industri manufaktur bisa memperbaiki produksi, kalau tidak ada yang mau beli bagaimana? Jadi memang dari sisi penawaran dan dari sisi permintaan harus diseimbangkan,” kata Yusuf, Selasa (4/2).

Usaha meningkatkan aktivitas manufaktur, kata Yusuf, bisa dengan dorongan beleid Omnibus Law yang sedang digodok oleh pemerintah. Menurutnya, beleid ini bisa menciptakan respons positif dari dunia usaha dan investor asing untuk masuk ke Indonesia, juga ke dalam sektor manufaktur.

Selain itu, Yusuf juga mengimbau pemerintah untuk memperhatikan ongkos logistik. Menurutnya, ongkos logistik yang ada saat ini masih tinggi dan tentunya, ongkos logistik merupakan salah satu hal yang menjadi perhitungan dalam penyaluran barang.

“Dan beberapa saat lalu pemerintah juga sudah menyinggung tentang penurunan harga gas, semoga ini bisa direalisasikan,” tuturnya.

Hanya saja, ia juga mengingatkan bahwa perbaikan industri manufaktur ini tidak akan serta merta bisa langsung di atas level ekspansif. Pasalnya, perbaikan aktivitas manufaktur akan bertahap.

Namun, ia yakin, kalau usaha pemerintah telah dilakukan dengan baik, maka ini bisa meningkatkan level aktivitas manufaktur menjadi kembali ekspansif di pertengahan tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *