Suarayogyakarta – Setelah sempat hiatus beberapa bulan pasca pilpres, kini mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mulai eksis lagi. Terutama semenjak Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) resmi dideklarasikan pada 18 Agustus 2020 lalu. Ia seakan kembali mendapat panggung.
Nafsu politiknya ternyata masihlah berapi-api. Padahal ia sudah gagal total untuk menjadi calon presiden di pilpres lalu.
Ia mulai bergerilya mencari simpati serta dukungan masyarakat luas lewat wadah bernama KAMI tersebut. Tanpa mempedulikan himbauan pemerintah untuk tidak berkerumun, Gatot beserta dedengkot lainnya nekat dan ngeyel mengumpulkan orang-orang guna mendeklarasikan organisasi ini di berbagai daerah.
Dengan tetap memaksakan agenda pribadi dan kelompoknya untuk mengumpulkan massa, terlebih di situasi pandemi seperti ini, secara tak langsung ia sudah tega mengorbankan rakyat. Ini dikarenakan disana, resiko penularan Covid-19 menjadi lebih besar. Maka makin jelas terlihat bahwa Gatot adalah seorang oportunis yang sudah kebelet ingin berkuasa.
Dari dulu sang panglima pecatan ini selalu menyebarkan ketakutan akan bangkitnya komunisme. Tetapi tidak pernah sekalipun ia secara gamblang mengungkapkan dimana markasnya atau siapa orangnya. Tak penting siapa dan dimana PKI, yang penting hembuskan bola panas itu ke masyarakat, syukur-syukur kalau mereka berhasil dihasut, mungkin seperti itu harapannya.
Baru-baru ini ia juga menyinggung masalah pemecatan dirinya sebagai panglima TNI pada 2017 lalu. Dalam kanal Youtube Harsubeno Point, Gatot menjelaskan bahwa karena berupaya membasmi gerakan PKI serta inisiatifnya mengadakan nonton bareng film G30S/PKI, maka dirinya dicopot oleh Jokowi. Dengan blak-blakan ia juga menyeret nama PDIP.
Ia hendak membingkai seolah dirinya menjadi korban. Padahal Jokowi memecatnya karena ambisi politiknya makin terlihat walau masih mengemban jabatan panglima TNI yang seharusnya mendukung pemerintah dan bersikap netral.
Bahkan setelah kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gatot ikut-ikutan mendukung narasi tersebut. Ia seolah-olah berdiri di barisan 212 dan berseteru dengan Kapolri saat itu, Tito Karnavian mengenai aksi ricuh 212. Sontak saja banyak kampret yang kini berganti nama menjadi kadrun memuja-muja dirinya.
Sadar bahwa dukungan terus menguat, ia pun makin besar kepala dan mulai cari panggung. Akhirnya, seperti yang bisa diprediksi, Jokowi pun segera menggantinya dengan Marsekal Hadi Tjahjanto.
Meski namanya melambung, ia lupa satu hal yang sangat penting untuk bisa berlaga di gelaran pilpres, yakni kendaraan politik. Ya, saat itu ia tak memiliki partai sehingga gencar melakukan lobi-lobi politik kesana-kemari agar bisa diusung. Namun nahas, ternyata upayanya gagal. Tak ada parpol yang meliriknya sedikitpun.
Pada akhirnya, yang berlaga di partai puncak masihlah berupa El Classico antara Jokowi dan Prabowo, beserta K.H. Maruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai calon wakil presidennya. Gatot mesti gigit jari, ekspektasinya yang sudah kadung melambung ternyata terbentur kenyataan yang pahit. Ibarat kata, nafsu gede tenaga kurang.
Saya sempat berpikir bahwa setelah pilpres berakhir, Gatot akan mundur dari politik dan menikmati masa tuanya dengan tenang bersama keluarganya. Tapi ternyata saya keliru. Ia masih penasaran untuk mencicipi nikmatnya kekuasaan.
Dan modalnya pun masih itu-itu saja, yakni isu PKI beserta citranya sebagai pembela ulama dan umat Islam. Dan kita sendiri tahu ulama dan umat Islam mana yang ia bela.
Namun ia sadar, kegagalannya diusung menjadi capres tahun lalu karena tak memiliki partai politik. Tak ingin kecolongan lagi, maka saya yakin bahwa KAMI cepat atau lambat akan bertransformasi menjadi parpol olehnya.
Sekarang dan untuk jangka waktu tertentu, KAMI masih akan berupa organisasi masyarakat yang sok mengklaim bahwa negara ini sedang berada dalam bahaya sehingga perlu diselamatkan oleh mereka.
Ia masih akan menjadi organisasi masyarakat sambil perlahan berupaya meraup simpati dan dukungan publik, bagaimanapun caranya. Ia masih malu-malu kucing untuk mengungkapkan tujuan yang sebenarnya, sambil menunggu momen yang tepat disertai dukungan yang banyak.
Dengan kapasitas yang menurut saya standar alias tak ada yang spesial, sulit bagi Gatot untuk mampu mendapatkan posisi RI 1 di tahun 2024. Apalagi harus bersaing dengan nama-nama beken macam Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, atau Prabowo. Bahkan melawan Giring atau Dokter Tirta saja saya tak yakin ia akan menang, hahaha.
Saya beberapa kali melihat dan mendengarkan ketika ia sedang berbicara entah di acara bincang-bincang, penggalan pidato dan lainnya. Dan dilihat dari isi serta caranya menjawab, saya berpikir bahwa kapasitasnya biasa-biasa saja.
Tetapi, mau tak mau sepertinya kita masih akan mendengar ocehan seorang Gatot Nurmantyo untuk beberapa waktu ke depan. Bagi saya, apapun perkataan beserta tindak-tanduknya, Gatot hanyalah sosok yang oportunis sekaligus ambisius.
