Zero Case Covid-19 di Sleman Buah dari Kedisiplinan Warga

Zero Case Covid-19 di Sleman Buah dari Kedisiplinan Warga

Sejumlah kecamatan di wilayah Sleman dilaporkan masih berstatus zero case virus Covid-19. Kondisi ini satu sisi disebabkan karena warga menerapkan protokol penanganan Covid-19 dengan ketat.

Menurut Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo salah satu faktor tidak adanya kasus positif Covid-19 di sejumlah kecamatan di Sleman buah dari kedisiplinan warga menerapkan himbauan pemerintah. Mereka tetap memperhatikan physical distancing, menggunakan masker dan tidak berkerumun. “Memang kuncinya [tidak terpapar Covid-19] seperti itu, karena kuncinya memang disiplin diri.

Meski begitu, kata Joko, kondisi tersebut tidak bisa digeneralisir. Sebab kasus-kasus positif Covid-19 yang ditemukan di sejumlah kecamatan lebih diakibatkan pengaruh dari luar. “Tapi belum bisa digeneralisir juga karena kasus positif yang terjadi saat ini sebagian besar karena ada riwayat kunjungan ke daerah terjangkit.

Seperti diketahui, dari 37 kasus positif Covid-19 di Sleman hanya enam dari 17 kecamatan yang sampai hari ini belum ditemukan warganya positif Covid,-19. Kecamatan tersebut meliputi, Prambanan, Cangkringan, Tempel, Turi, Minggir dan Seyegan.

Meskipun begitu, keenam kecamatan ini memiliki pasien dalam pengawasan (PDP). Sebagian masih dirawat, sebagian dinyatakan sembuh tetapi ada juga yang meninggal sebelum diketahui hasil swabnya.

Di Prambanan dan Cangkringan, tercatat masing-masing PDP sebanyak tiga kasus, dua kasus dirawat dan satu kasus meninggal. Di Turi ditemukan dua kasus PDP, satu kasus meninggal dan satu lainnya masih dirawat. Adapun di Turi, ditemukan lima kasus PDP, yang semuanya masih dirawat.

Untuk di Minggir satu kasus PDP masih dirawat, dan di Seyegan, ditemukan enam kasus PDP, lima kasus masih dirawat dan satu kasus lainnya meninggal.

Koordinator Posko Satgas Covid-19 Desa Girikerto Turi Sleman Teguh Raharjo mengatakan pihaknya memang menerapkan protokol penanganan Covid-19 secara ketat. Setiap perantau yang pulang harus melalui screening yang tegas. Warga juga mematuhi imbauan pemerintah terkait physical distancing dan menggunakan masker saat ke luar rumah.

“Mereka yang datang dari luar daerah, apalagi dari daerah terjangkit, langsung kami beri status ODP.

Hingga kini, jelas Teguh, mereka yang menjalani masa karantina terus dimonitor. Bahkan, katanya, warga yang akan ke luar kota diwajibkan untuk melaporkan keberadaannya setelah kembali ke desa. Kemudian melakukan isolasi mandiri.

Dari 54 warga perantau yang tiba ke desa, sebanyak 44 warga sudah menjalani masa karantina. “10 warga masih menyelesaikan proses karantina selama 14 hari, tiga orang di antaranya merupakan TKI asal Jepang,.

Sumber : https://jogjapolitan.harianjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *