Wapres Ajak Kampus di NTB Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Wapres Ajak Kampus di NTB Tangkal Radikalisme dan Terorisme

Agenda pertama kunjungan Wapres selama dua hari di NTB dimulai dari Universitas Mataram. Di perguruan tinggi negeri terbesar di NTB tersebut, Wapres menyampaikan kuliah umum tentang “Penangkalan Paham Radikalisme di Kalangan Mahasiswa”.

Kuliah umum digelar di Auditorium M Yusuf Abubakar. Sebanyak 1.500 mahasiswa hadir dalam kuliah umum tersebut. Kata Wapres, saat ini maraknya isu radikalisme dan intoleransi yang merebak di tengah masyarakat. Tak terkecuali di lingkungan kampus.

“Kampus selain tempat belajar juga sebagai tempat yang tepat membangun karakter anak bangsa,” terang Wapres.

Ia menjelaskan, radikalisme dalam pengertian negatif, yaitu seseorang atau kelompok tertentu yang memanfaatkan kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. “Pemerintah sepakat menyebutnya dengan radikal terorisme,” sambungnya.

Ada beragam jenis radikal terorisme. Radikal terorisme mengenai agama, supermasi etnis, kelompok tertentu, dan lain sebaginya. “Akan tetapi saat ini radikalisme agama menjadi yang paling sering digunakan untuk menjustisifikasi penggunaan kekerasan,” tegas Ma’ruf.

Ulama kharismatik tersebut tegas menyampaikan, radikalisme adalah cara berpikir sedangkan radikalisasi adalah transfer. Cara berpikir untuk mencapai tujuan tertentu.

Karena itu upaya menangkalnya, harus dimulai dari upaya menangkal cara berpikir radikal dan memutus proses transfer cara berpikir radikal tersebut dari satu orang ke orang lain. Atau dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Cara menangkal radikalisme yang bisa diterapkan, dengan memberikan imunisasi kepada masyarakat agar tidak mudah menerima pikiran-pikiran radikal tersebut. “Dengan dalih apapun termasuk dalih agama,” kata dia.

Sebab, proses transfer cara berpikir radikal, selalu dimulai dengan penyampaian pesan dan misi, yang bersifat kekerasan tetapi di kemas sedemikian rupa, sehingga dimengerti dan di terima.

Ditambah lagi, masifnya penyebaran paham tersebut bisa melalui mana saja. “Utamanya yang saat ini adalah media sosial, twitter, Whatsapp, Youtube, Facebook dan lainnya,” kata dia.

Ma’ruf menyebut ciri-ciri orang yang kerap paham radikal. Mulai dari orang yang termarginalkan, mengalami kemiskinan atau dipengaruhi kelompoknya.

Dengan memahami hal itu, ia mengajak semua pihak untuk mawas diri dan memastikan bahwa tidak sedang berada dalam proses transfer tersebut.

“Jika kita melihat dan mengetahui proses tersebut, kita dapat menghindari dan menghentikannya,” jelas Ma’ruf.

Dirinya juga membeberkan lima kelompok yang sudah terpapar paham radikalisme. Kelompok pertama adalah kelompok indifference atau kelompok yang tidak memiliki pikiran atau paham radikal, terorisme, tetapi mungkin terekspos pada narasi-narasi radikal, terorisme.

“Kelompok ini tidak bisa kita identifikasi,” terangnya.

Kedua, ada kelompok laten. Artinya, seseorang yang dalam hati menyetujui adanya tindakan radikal. Tetapi tidak mengekspresikan persetujuannya dalam bentuk apapun.

“Cara menangkalnya memperkuat imunitas dan memperbanyak narasi positif agar tidak mudah menerima pikiran radikal,” tegasnya.

Kelompok ketiga ekspresif. Kelompok yang menyetujui tindakan radikal. Kelompok keempat adalah involvement group atau kelompok yang sudah mulai terlibat turut serta dalam tindakan-tindakan yang memiliki unsur radikal terorisme melalui penegakan hukum dan deradikalisasi. Dan kelompok terakhir adalah action group atau kelompok yang telah terlibat aksi terorisme.

“Penanganan untuk kelompok ini dilakukan melalui penegakan hukum dan deradikalisasi serta bagi korban dilakukan upaya pemulihan, dan penanganan pascakrisis,” tegasnya.

Ia berharap, dengan memahami framework ini, semua pihak bisa memahami, tahapan perubahan seseorang, yang tadinya tidak memiliki pikiran radikal.

“Perlahan dicuci otaknya melalui proses radikalisasi, sehingga menjadi pelaku terorisme,” terangnya.

Dengan memahami frame work ini, diharapkan kalangan kampus bisa membantu pemerintah, dalam melakukan penangkalan radikalisme dan terorisme.

Wapres juga menyinggung soal intoleransi. Pasalnya, salah satu unsur radikal terorisme adalah intoleransi. Orang yang sudah terpapar paham radikal dan terorisme cenderung memiliki sikap yang intoleran.

“Cendrung tidak bisa menerima perbedaan. Terutama perbedaan agama dan keyakinan,” kata dia.

Pemerintah telah melalukan berbagai upaya dalam menanggulangi hal ini. Seperti, moderasi beragama untuk mencegah timbulnya sikap intoleran dan memperbanyak wawasan kebangsaan.

“Upaya-upaya ini melibatkan kementerian, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan serta dilakukan dari hulu hingga ke hilir,” tegasnya.

Selain itu, lingkungan pendidikan harus turut serta dalam upaya penanganannya. Menurut Ma’ruf, peran kampus sangat penting. Karenanya, ia menginginkan, Unram bisa menyampaikan lebih banyak hal positif kepada mahasiswa.

“Tentang cinta kepada sesama, nasionalisme, patriotisme dan bela negara,” harapnya.

Wapres juga membahas isu Khilafah yang sempat memanas di tanah air. Dirinya meminta, agar masyarakat tidak lagi meributkan tentang itu. Ditegaskannya, khilafah bukan ditolak di Indonesia, melainkan tertolak.

“Karena kita sudah punya kesepakatan mitzah alwatoni yaitu sebagai NKRI. Umat Islam tidak boleh melanggar kesepakatan itu,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah yang menyampaikan sambutan sebelum Wapres menyampaikan Kuliah Umum mengatakan, mengubah cara pandang atau cara berpikir merupakan fungsi pendidikan. Menjadikannya pengalaman, dan teman berinteraksi.

“Pemerintah Provinsi NTB dalam salah satu program unggulannya memberikan beasiswa kepada 1.000 putra putri terbaik daerah untuk menuntut ilmu di luar negeri,” tegasnya.

Politisi PKS ini berujar, pemberian beasiswa tersebut, bukan karena NTB kelebihan uang atau kualitas pendidikan dalam negeri yang tidak lebih baik. Namun, salah satu upaya Pemprov untuk menangkal radikalisme dan intoleransi.

“Saat di luar negeri anak-anak tidak lagi menyebut suku mereka tetapi sebagai bangsa Indonesia. Rasa Nasionalisme jadi lebih besar,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Unram H Lalu Husni mengatakan, upaya menangkal paham radikal sudah dilakukan sejak awal dilantik menjadi pimpinan kampus. Seperti mengambil alih aktivitas masjid Baabul Hikmah di bawah kendali rektorat.

“Dalam artian, menata siapa penceramah dan beribadah bersama dengan unsur pimpinan,” tegasnya.

Begitu juga pada saat penerimaan mahasiswa baru. Unram selalu menggelar ikrar kebangsaan, pada kegiaatan masa orientasi. Berisi anti radikalisme, anti terorisme, anti narkoba dan lainnya.

“Bahkan kami juga meminta pernyataan sikap mahasiswa lalu diteken, mengetahui orang tua,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *