Pesan Persatuan dari Presiden

Pesan Persatuan dari Presiden

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan masyarakat untuk menghindarkan diri dari perasaan paling benar, perasaan paling agamis, dan perasaan paling pancaliais. Di alam demokrasi yang menjamin kebebasan, kebebasan yang harus diusung adalah yang menghargai pandangan dan hak orang lain, bukan kebebasan yang memaksakan kehendak dan pandangannya sendiri.

Peringatan tersebut disampaikan Presiden dalam pidato kenegaraan yang disampaikan di hadapan Sidang Tahunan MPR, dalam rangka HUT ke-75 Kemerdekaan RI, Jumat (14/8). Masyarakat diharapkan memupuk semangat kebersamaan, persatuan, toleransi, dan saling peduli, yang sangat dibutuhkan dalam masa-masa sulit menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Peringatan yang disampaikan Presiden tersebut sangat relevan dalam menyikapi kondisi kebangsaan saat ini. Pada kenyataannya, ancaman fanatisme yang berlebihan terhadap pandangan agama dan pandangan kebangsaan, sangat berpotensi melahirkan sikap radikal di tengah masyarakat.

Apalagi ancaman radikalisme berbasis agama masih membayangi perjalanan bangsa kita sejak beberapa tahun lalu. Tak hanya itu, bangsa Indonesia beberapa kali menjadi korban gerakan terorisme yang disulut oleh paham radikalisme.

Pesan kebangsaan itu sangat tepat disampaikan pada momentum menjelang peringatan HUT kemerdekaan. Secara objektif, Presiden menyinggung dua kubu yang selama ini seolah terbelah secara tajam, yakni kubu yang merasa paling benar dalam menafsirkan dan menjalankan perintah agama, serta kubu yang merasa paling benar dalam menafsirkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Sebagai Kepala Negara, Presiden Jokowi dengan kearifannya berdiri di tengah-tengah kedua kubu. Dia tidak berpihak kepada kubu pancasilais dan menghujat kelompok agamis, demikian pula sebaliknya. Presiden merangkul dan mengingatkan kedua kubu untuk menurunkan tensi fanatismenya.

Kita menyadari, dalam beberapa tahun terakhir terjadi dialektika yang sangat tajam antara kaum agamis dan pancasilais. Fenomena ini merupakan warisan dari kontestasi politik yang akhir-akhir ini kerap memainkan isu agama dan kebangsaan. Masing-masing kelompok merasa pandangannya paling benar.

Jika dibiarkan, sikap fanatisme yang berlebihan ini akan sangat kontraproduktif terhadap integrasi nasional serta persatuan dan kesatuan nasional. Pandangan agama adalah wilayah privat seseorang dengan sang penciptanya, yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Demikian pula Pancasila merupakan ideologi dan pandangan hidup seluruh bangsa Indonesia.

Memaksakan pandangan terhadap agama dan pandangan terhadap Pancasila kepada orang lain, adalah pengingkaran terhadap nilai-nilai agama serta nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Semua agama mengajarkan kebaikan, menghargai orang lain, dan semangat untuk tidak memaksakan kehendak. Ajaran yang sama menjadi nilai-nilai luhur dari Pancasila.

Pesan persatuan Presiden tersebut perlu terus disampaikan. Apalagi situasi sosial dan politik di masyarakat diwarnai oleh polarisasi yang tajam, yang dilatari fanatisme agama dan kebangsaan. Apalagi, polarisasi tersebut diwarnai oleh ujaran kebencian yang sengaja diproduksi dan direproduksi melalui media sosial. Kondisi ini jangan sampai dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang ingin mengoyak kebangsaan.

Pesan-pesan damai yang harus diperbanyak, bukan pesan-pesan kekerasan. Setiap kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Sejarah mengajarkan bahwa senjata dan kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme. Pemikiran yang keliru hanya dapat diubah dengan berpikir yang benar.

Beredarnya provokasi hasutan kebencian yang dilatari fanatisme berlebihan, tentunya tidak akan mendapat respons jika di masyarakat sudah tertanam sikap toleran. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang toleran, dengan berpijak pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Di usia kemerdekaan yang ke-75, upaya memperkuat rajutan persatuan di tengah perbedaan harus diperkuat. Pancasila harus menjadi pandangan hidup yang menyatukan, bukannya dipertentangkan. Demikian pula, agama harus hadir menyamai benih toleransi dan saling menghargai. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *