Suara Yogyakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj berniat maju kembali dalam perebutan kursi Ketua Umum dan Muktamar NU ke-34. Kiai Said, sapaan akrabnya bertekad melanjutkan pencapaiannya yang dapat dikatakan berhasil selama dua periode memimpin PBNU.
“Baru kali ini sejak NU berdiri, keuangan organisasi dapat diaudit dan mendapatkan WTP (wajar tanpa pengecualian),” ujar Kiai Said dalam video yang diunggah YouTube TVNU, Minggu (12/12/2021).
Lebih spesifik, Kiai Said memastikan bahwa di Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) saat ini telah mencapai 1,8 trilliun yang awalnya hanya 500 juta. Keberhasilan tersebut, menurut Kiai Said tak lepas dari dukungan dan kinerja dari pengurus NU dalam menyelesaikan program kerjanya.
“Saya beri motivasi agar lembaga semuanya bekerja sesuai dengan program yang mereka lakukan,” kata Kiai Said.
Selain keuangan, sektor pendidikan juga telah terbukti berhasil dicapai oleh kepengurusan NU. Di mana, dalam dua periode Kiai Said, PBNU telah mendirikan 43 Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang secara resmi berada di bawah badan hukum NU.
Tak hanya berfokus pada fasilitas pendidikan, selama ini PBNU telah aktif memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Maroko, Mesir, China, India, Australia dan Amerika.
“Cita-cita besar saya, setiap cabang harus memiliki Universitas NU dan Rumah Sakit NU,” tutur alumnus Universitas King Abdul Aziz tersebut.
Sebelumnya, Kiai Said menyampaikan kesediaannya untuk menjadi calon Ketua Umum PBNU atas dasar permintaan dari beberapa Kiai sepuh Nahdlatul Ulama.
“Alhamdulillah siang hari ini saya bisa bersilaturahmi di tempat ini dalam rangka niat saya menjawab permintaan-permintaan dari para Kiai sepuh agar saya bersedia untuk mencalonkan diri kembali sebagai ketua umum PBNU di periode yang akan datang,” ujar Kiai Said di Jakarta, Rabu (8/12/2021).
Kiai Said menyebut, permintaan dari Kiai sepuh itu datang diantaranya adalah Maulana Habib Luthfi Pekalongan, Tuan Guru Turmudzi Lombok, KH Muhtadi Banten, Hadratusyaikh KH Dimyati Rohis Kaliwungu Kendal, Kiai Ali Masyhuri Tulangan Sidoarjo, Kiai Basuni Tasikmalaya dan KH Kafabihi Mahrus Lirboyo Kediri.
“Semuanya saya anggap memiliki maqam khusus di mata Allah,” ucap Kiai Said.
