August 9, 2020

New Normal Jadi Peluang Bagi UMKM

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang paling terpukul dari adanya pandemi Covid-19. padahal sektor tersebut merupakan yang paling banyak menyerap tenaga kerja sekitar 97% dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 60%. Karenanya, salah satu fokus pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) adalah memulihkan sektor UMKM. Dari total anggaran penanganan Covid-19 yang akan ditingkatkan menjadi Rp 695,2 triliun, dukungan untuk UMKM sebesar Rp 123,46 triliun.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki menyampaikan, dampak yang diterima sektor UMKM pada krisis kali ini memang sangat berbeda dengan yang dialami saat krisis tahun 1998, di mana saat itu sektor UMKM tampil menjadi pahlawan ekonomi. Sedangkan saat ini UMKM menjadi sektor yang paling terpukul, baik dari sisi supply maupun demand.

“Pemerintah meyakini, bila kita bisa membantu menyelesaikan masalah UMKM pada saat ini, paling tidak kita bisa mengurangi angka kemiskinan dan angka penganguran agar tidak jatuh terlalu dalam,” kata Teten Masduki dalam acara Zooming with Primus dengan tema “New Normal Peluang Bagi UMKM?” yang disiarkan langsung Selasa (16/6/2020).

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sejak Maret 2020, Teten mengatakan sektor-sekor yang paling terdampak pandemi adalah UMKM sektor makanan dan minuman, penyediaan akomodasi, perdagangan, dan juga industri pengolahan. Namun Teten melihat sebetulnya masih ada peluang bagi sebagian UMKM untuk tetap bertumbuh di tengah pandemi Covid-19, khususnya bagi UMKM yang bisa menyesuaikan perubahan perilaku masyarakat.

“Sebenarnya masih ada peluang bagi UMKM, bahkan ada beberapa yang masih bisa tumbuh. Kita melihat sejak diterapkannya social distancing dan work from home, lalu dengan PSBB, ini memang ada perubahan perilaku di mana aktivitas lebih banyak di rumah, lalu belanja online dan konsumsi produk kesehatan serta daya tahan tubuh. UMKM yang bisa melakukan adaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat ini yang bisa tumbuh,” kata Teten.

Selama masa PSBB, Teten mengatakan transaksi di berbagai platform e-Commerce meningkat tajam. Penjualan bulanan di e-Commerce naik 26% dibandingkan rata-rata transaksi bulanan di kuartal kedua tahun sebelumnya. Begitu juga dengan transaksi harian yang naik menjadi 4,8 juta transaksi dari rata-rata 3,1 juta transaksi. Bahkan konsumen baru naik 51%. Sayangnya peluang ini belum ditangkap oleh sebagian besar UMKM yang saat ini berjumlah sekitar 64 juta.

“UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital baru 13% atau sekitar 8 juta pelaku usaha. Sedangkan 87% masih offline,” kata Teten.

Dukungan Pemerintah

Untuk membantu sektor UMKM agar bisa segera bangkit, Teten menyampaikan pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk membantu dari sisi supply dan juga demand. Untuk UMKM yang memiliki masalah cashflow, bantuan diberikan dalam bentuk insentif pajak, serta program relaksasi dan restrukturissi kredit selama enam bulan. Ada juga pembiayaan baru yang dipermudah bagi UMKM yang membutuhkan.

“Beberapa produk UMKM di sektor pertanian dan perikanan atau peternakan yang tidak diserap pasar, juga bisa diserap oleh opteker BUMN pangan. Untuk koperasi, yang sekarang mendapatkan kesulitan pembiayaan, ini kita berikan pinjaman lunak dengan periode satu tahun dan bunga rendah 3%,” papar Teten.

Dari aspek demand, salah satunya adalah membuat kampanye Belanja Produk Indonesia. “Presiden sudah memerintahkan agar belanja pemerintah, lembaga BUMN dan juga daerah memprioritaskan produk UMKM. Kami sedang berusaha dengan LKPP agar ada laman khusus e-katalog produk UMKM. Tahun ini ada Rp 1.100 triliun, di mana Rp 400 triliun belanja pemerintah bisa diarahkan untuk UMKM. Kami juga membuat kampanye Belanja Produk Indonesia supaya dari aspek demand bisa sedikit menolong,” papar Teten.

Di dalam tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal, menurutnya pelaku UMKM bisa segera melakukan aktifatas usaha dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 untuk bisa menangkap peluang-peluang yang ada.

“Di dalam new normal ini, yang juga diperlukan adalah pelatihan dan pendampingan. Sebab UMKM yang bisa tetap bertahan adalah yang bisa melakukan adaptasi bisnis. Dari tadinya jualan offline ke online, dari tadinya jualan produk tertentu beralih ke produk-produk yang saat ini banyak permintaannya,” ujar Teten.

Teten berharap pada tahun ini pelaku UMKM yang go online bisa mencapai 10 juta. Berbagai pelatihan dan pendampingan juga akan terus dilakukan, serta mendorong adanya kemitraan. Apalagi baru sekitar 5% pelaku UMKM yang terhubung dengan korporasi.

“Di situasi pandemi ini, kita memang harus tetap punya spirit untuk tetap bisa bertahan, melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan market, perubahan permintaan dan melakukan inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekarang, serta mulai go online,” ujar Teten.

Kemandirian Ekonomi

Acara Zooming with Primus kali ini juga menghadirkan Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira, serta Founder Aplikasi Titipku Ong Tek Tjan.

Menurut Anggawira, seluruh sektor seharunya bisa menangkap peluang dengan adanya pandemi Covid-19. Melihat pasar dalam negeri yang begitu besar, poteni di sektor pangan, perikanan dan pertanian menurutnya harus diperkuat.

“Kolaborasi pemerintah dengan seluruh stakeholder harapannya bisa tepat, sehingga memang bukan hanya dalam konteks pemanfaatan platform digital, tetapi bagaimana penguatan dari produk itu sendiri. Sebab sekarang ini impor itu sulit. Market share yang besar di dalam negeri harus bisa dimanfaatkan oleh kita semua. Harusnya momentum ini bisa kita jadikan untuk memperkuat kemandirian,” kata Anggawira.

Dukungan yang diberikan kepada pelaku usaha menurutnya juga harus komprehensif, di mana seluruh stakeholder harus memiliki tujuan yang sama. “Kita harus pro terhadap perizinannya, harus dipermudah. Tetapi jangan sampai perizinan usahanya mudah, tetapi di sisi sertifikasi produknya lamban dan sangat sulit. Ini juga yang akan menjadi kendala,” ujarnya.

Inovasi Titipku

Salah satu platform yang mendapatkan berkah dari perubahan perilaku masyarakat dari offline ke online adalah aplikasi Titipku. Dalam satu bulan selama masa pandemi, pertumbuhan transaksi di Titipku bahkan naik hingga 600%.

“Keterbatasan UMKM kita masuk ke digital salah satunya karena faktor pendidikan. Untuk itulah kami membantu mendigitalkan pengusaha UMKM. Di Titipku, kami mengajak para pengguna untuk datang ke setiap UMKM, lalu mereka bantu para UMKM tersebut untuk posting produk-produknya di Titipku. Dengan demikian UMKM ini bisa ada di dunia online, meskipun pemilik UMKM-nya tidak mengerti online. Dengan munculnya produk mereka di dalam aplikasi Titipku yang berbasis kawasan, orang-orang yang berada di kawasan yang sama bisa langsung melihat kemunculan produk UMKM tersebut,” papar Ong Tek Tjan.

Tidak seperti platform online kebanyakan, aplikasi Titipku ini menyediakan layanan titip belanja di pasar atau tempat-tempat usaha pelaku UMKM.

“Platform ini tidak disebut sebagai toko online, sebab pembuat tokonya adalah orang lain karena tidak semua pelaku UMKM bisa melakukan. Sehingga kita sebut namanya Titip. Jadi nantinya pembeli masuk dalam aplikasi, membeli, dan meminta jasa titip kepada orang yang datang ke UMKM tersebut,” jelas papar Ong Tek Tjan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *