Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XVIII resmi dibuka oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X tadi malam (30/1). Mengusung tema Bangkit Jogjaku untuk Indonesia, PBTY berlangsung hingga 5 Februari 2023 di Kampoeng Ketandan, Jogja.
Gubernur DIJ HB X mengatakan, PBTY dapat menjadi peristirahatan sejenak untuk merenungkan dan membangun semangat ke-Indonesiaan. “Setiap pekan budaya yang digelar setiap tahun ini, hendaknya selalu diusahakan sebagai media yang mengarah ke integrasi sosial-budaya,” ujarnya.
Menurut Raja Keraton Jogjakarta ini, PBTY juga menjadi momentum akulturasi. Apabila budaya memang menjadi ciri suatu bangsa yang diperoleh lewat proses belajar dan interaksi, maka proses itu tentunya proses integratif dalam hidup yang penuh toleransi. Proses akulturasi itu lantas menghasilkan berbagai ragam bahasa, masakan, kesenian, dan hasil karya-karya unik dan diakui.
“Upaya saling memahami budaya antaretnik sungguh penting. Sebab merupakan cikal-bakal terciptanya kedamaian permanen dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” jelas bapak lima putri ini.
Sementara itu, PBTY juga diharapkan memiliki dampak ekonomi yang tidak hanya berputar di seputar Kampung Ketandan saja. Tetapi juga juga bisa menjadi sarana mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi dan kesalahpahaman sosial-budaya.
“Dengan visi dan harapan seperti itulah, pekan budaya ini sudah selayaknya diwujudkan sebagai integrasi sosial, ekonomi dan budaya menuju Indonesia baru yang lebih menyatu,” tandas HB X.
Ketua Penyelenggara PBTY XVIII Sugiarto berharap seluruh masyarakat dapat menikmati serangkaian acara yang digelar. Terlebih dua tahun terakhir tidak bisa digelar luring karena pandemi Covid-19. “Diharapkan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, baik hiburan, pengenalan dan pelestarian budaya serta membangkitkan perekonomian dari sebelumnya,” ujarnya.
Selama sepekan, berbagai acara menarik disiapkan. Mulai PBTY food bazaar, kesenian dan atraksi barongsai, panggung musik, lomba bahasa Mandarin, lomba karaoke Mandarin dan Malioboro Imlek Carnival.
Empat maestro keturunan Tionghoa di Jogja juga ikut meramaikan dengan menggelar pameran. Mereka adalah Didik Nini Thowok, Koh Hwat, Sidik Martowidjoyo, dan Johnny Hendarta. Selain itu juga ada pertunjukan wayang potehi dan Malioboro Imlek Carnival pada 4 Februari 2023 di sepanjang Jalan Malioboro hingga Titik Nol Km.
