Masyarakat Harus Berperan Aktif dalam Pencegahan Radikalisme

Masyarakat Harus Berperan Aktif dalam Pencegahan Radikalisme

Masyarakat tidak boleh acuh tak acuh terhadap terorisme dan radikalisme, karena ini merupakan paham yang merusak negara dan ketentraman publik serta membahayakan hak asasi manusia.

Sebaliknya, masyarakat justru harus berperan aktif dalam pencegahan terorisme dan radikalisme. Dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga, RT, RW, dan lingkungan di atasnya.

Kepedulian masyarakat terhadap pencegahan terorisme akan radikalisme dapat menekan aksi-aksi teror yang sangat merugikan masyarakat dan negara.

Hal itu menjadi salah satu poin penting dalam Acara Diskusi Publik bertema Mitigasi dan Diseminasi Penanggulangan Terorisme di Indonesia yang berlangsung di Hotel The Sultan, Jakarta.

Acara tersebut diselenggarakan berkat kerja sama DPR dan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika ini diikuti ratusan pelajar, mahasiswa dan generasi muda yang ada di wilayah Jawa Barat melalui saluran daring atau webinar.

Narasumber dalam acara itu yakni Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, anggota Komisi I DPR Sjarifuddin Hasan, Staf Ahli Menteri bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Informastika (Kemkominfo) Widodo Muktiyo, dan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Pendis Kemag) Muhammad Ali Ramdhani.

Jangan Acuh
Hendri Paruhuman Lubis dalam kesempatan itu mengharapkan masyarakat berperan aktif dalam mencegah aksi terorisme agar tidak terjadi lagi di Indonesia.

“Kita seluruh warga negara Indonesia harus berperan aktif untuk mencegah masuknya paham tersebut. Tentunya dimulai dari tingkat keluarga, saya sampaikan tadi kondisi negara Indonesia seperti ini adalah cerminan keluarga-keluarga yang ada di Indonesia ini,” ujar Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis.

Deputi I BNPT meminta masyarakat untuk tidak bersikap acuh terhadap situasi yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Semua komponen masyarakat harus berperan dalam rangka untuk memitigasi dan desiminasi masalah penanggulangan terorisme.

“Paling tidak kalau kita tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi kalau kita melihat hal hal yang mencurigakan, tentunya sebagai warga negara, kita harus melapor kepada RT atau lapor kepada polisi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang penting kita ada kemauan untuk berbuat yang terbaik dalam hal mencegah aksi maupun mencegah masuknya paham radikal terorisme di Indonesia,” tuturnya.

Sesuai dengan Undang-undang No. 5/2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, BNPT lebih mengedepankan terhadap upaya pencegahan yang meliputi tiga hal yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.

“Yang mana kesiapsiagaan ini kami juga melibatkan para masyarakat, kita saat ini memiliki 32 FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) di 32 provinsi,” katanya.

Tokoh Masyarakat
Di masing-masing provinsi tersebut, BNPT melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama maupun tokoh pemuda, membuat kegiatan di masing-masing bidang untuk melakukan upaya pencegahan.

Selain itu, BNPT sejak 2016 lalu juga telah membentuk Duta Damai di Dunia Maya di 13 regional.

Duta Damai tersebut bertugas untuk memberikan pencerahan dengan menebarkan pesan-pesan perdamaian di dunia maya dalam upaya untuk mengkonter konten-konten hoaks, provokasi, hasutan atau ajakan kekerasan yang dihembuskan oleh kelompok radikal terorisme itu.

“Generasi milenial selama ini menjadi sasaran rekrutmen kelompok radikal terorisme dengan konten-konten atau narasi kerasnya, maka Duta Damai Dunia Maya ini hadir untuk memberikan pencerahan terhadap generasi seusianya baik itu dengan tulisan, video, poster untuk mengimbangi konten-konten negatif yang disebarkan kelompok radikal tadi agar generasi milienial ini tidak terjerumus terhadap hal-hal yang tidak benar,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga berpesan kepada para generasi milenial untuk mencegah masuknya radikalisme pada diri mereka.

Anggota Komisi I DPR Sjarifuddin Hasan mengatakan dengan berkembangnya teknologi informasi yang begitu pesat, generasi muda Indonesia diharapkan bisa bangkit melakukan kreativitas dan berinovasi terhadap hal-hal yang positif. Hal ini agar generasi muda terhindar dari pengaruh bahayanya paham radikal terorisme.

“Saya mendorong kepada generasi milenial untuk tetap kreatif dan berinovasi, tentunya yang produktif. Jangan yang destruktif, karena terorisme itu adalah destruktif yang dapat membahayakan diri anda sendiri, membahayakan keluarga anda sendiri, membahayakan masyarakat dan membahayakan bangsa,” katanya,

Dia menyadari pentingnya sosialisasi terhadap penanggulangan terorisme oleh BNPT.

Pemahaman
Menurut dia, penanggulangan terorisme dan radikalisme tersebut dapat dilakukan dengan penguatan pemahaman terhadap UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika agar lebih efektif.

Sementara itu, Widodo Muktiyo mengatakan, pihaknya sebagai institusi yang menyediakan infrastruktur dan juga mengelola komunikasi publik mendukung upaya BNPT yang selama ini telah memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia mengenai bahayanya paham radikal terorisme.

“Artinya memang terorisme itu adalah musuh kita semuanya. Dan satu pun itu tidak boleh. Kita harus menihilkan masyarakat Indonesia yang kemudian melakukan kegiatan kegiatan perusakan. Inilah yang saya kira menjadi tantangan kita semuanya,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Ali Ramdhani yang hadir sebagai nara sumber secara virtual menyampaikan bahwa terorisme itu adalah nyata yang ada di depan kita.

Menurut dia, salah satu upaya menanggulangi hal tersebut adalah menjadikan masyarakat juga sebagai duta-duta perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *