Manuver Sang Perongrong Ideologi Edy Mulyadi dan Tokoh Islam Radikal Dalam Polemik RUU HIP

Manuver Sang Perongrong Ideologi Edy Mulyadi dan Tokoh Islam Radikal Dalam Polemik RUU HIP

Pemerintah melalui Menkopolhukam RI Mahfud MD telah menyatakan sikap dan menegaskan menolak RUU HIP dan telah mengembalikannya kepada DPR. Pemerintah juga meminta DPR menyerap aspirasi masyarakat terlebih dahulu sebelum membuat RUU.

“Kondisi politik kita banyak demo menolak RUU HIP di berbagai daerah. Saya berbicara dengan BIN bahwa RUU ini bikin situasi panas. Apalagi urgensinya apa, saat kita sibuk dengan urusan COVID-19 masak urus ini (RUU HIP),” kata Mahfud.

Mahfud bahkan buka-bukaan bahwa dirinya disuruh secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo untuk mengecek RUU HIP. Lalu melaporkannya kepada presiden kembali. (sumber)

Namun apa yang terjadi dilapangan masih berlawanan dengan sikap pemerintah yang sudah berupaya mendengarkan kritik dan saran masyarakat untuk menghentikan/menolak pembahasan RUU HIP ini.

Adalah Edy Mulyadi sang penggerak aksi – aksi penolakan terhadap RUU HIP di beberapa wilayah. Salah satu karya besar Edy dalam upaya penolakan RUU HIP ini yaitu pada 05 Juli 2020 lalu dengan mengusung tema Apel Siaga Ganyang Komunis yang sedianya dilaksanakan di Seluruh Wilayah Indonesia. Namun realitanya animo masyarakat tidak sebesar yang ia harapkan yaitu melebihi massa aksi Reuni 212.

Kini Edy Mulyadi dan sekumpulan Eks HTI serta ormas radikal lainnya kembali menggagas aksi untuk menolak RUU HIP melalui kedok Aksi Apel Siaga Ganyang PKI di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada 10 Juli 2020. Namun seperti pengalaman yang sudah terjadi, aksi serupa pasti akan disusupi muatan politik dan gagasan untuk mengganti Ideologi Bangsa oleh oknum oknum – tersebut.

Muatan politik ?

Ya tentu saja, dibalik ormas – ormas islam radikal tersebut terdapat motif politik yang menggerakkan mereka, yaitu ingin memakzulkan Presiden Jokowi, dengan tuduhan – tuduhan bahwa Presiden Jokowi Pro terhadap PKI atau Komunis, hal ini karena mereka masih ada rasa sakit hati atas hasil pilpres 2019.

Mengganti Ideologi ?

Sudah jelas, Eks-HTI dan oknum ormas islam garis keras menuntut untuk penggantian sistem ideologi, mereka menginginkan tegaknya sistem khilafah di Indonesia. Namun secara halus mereka menyampaikan keinginan mereka yaitu untuk kembali kepada Sila Pertama Pancasila pada Piagam Jakarta, 22 Juni 1945 yaitu Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk – pemeluknya.

Jadi masih mau percaya sama aksi – aksi tolak RUU HIP ? Coba pahami dulu sebelum ikut aksi, jangan sampai anda terjebak dalam narasi – narasi para perongrong Ideologi Pancasila yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *