Provinsi Papua Selatan sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) dihadapkan pada permasalahan pembangunan di segala bidang, baik pada bidang ekonomi, SDM, maupun penyelenggaraan pemerintah daerah.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diwakili oleh Sekretaris Deputi Wiwiek Joelijani dalam tinjauan hasil inovasi bersama Staf Ahli Gubernur dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), menyampaikan komitmen BRIN sebagai pembina teknis turut serta mendampingi pemerintah daerah melalui Bapperida. Untuk meningkatkan kualitas SDM maupun kualitas produk berbasis riset dan inovasi, agar mampu menjadi penggerak perekonomian Papua Selatan.
Masyarakat Papua Selatan sudah menghasilkan Banyak produk hasil inovasi yang jika dikembangkan dapat mendorong perekonomian Papua Selatan, seperti produk kerajinan lokal dan produk olahan pangan berbasis ikan. Produk ini juga bisa mendukung pengembangan destinasi wisata yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.
Pemaparan tersebut disampaikan Wiwiek saat menghadiri Rapat Koordinasi dan Pameran Inovasi Daerah Provinsi Papua Selatan 2024 selama dua hari 21-22 Mei 2024 di Kabupaten Merauke, pada Selasa (22/05).
Dalam paparannya Wiwiek menyampaikan, terdapat 4 kunci berjalannya proses bisnis dalam inovasi daerah. Pertama, Fokus pada potensi daerah dengan memperhatikan kelayakan, rantai nilai, nilai tambah, pemanfaatan, dan akses pasar yang harus tersedia bahkan memiliki potensi berkembang.
“Kedua, fasilitasi kebijakan yang dilakukan oleh pemda pada proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan konsistensi program sehingga keberlanjutan program dapat menghasilkan impak untuk daerah. Ketiga, yang perlu diperhatikan yaitu kolaborasi, terutama untuk mendapatkan kemudahan akses permodalan dan akses pasar, meningkatkan nilai tambah, riset, serta pengembangan,” tambahnya.
Kolaborasi ditekankan oleh Wiwiek sebagai satu-satunya jalan menyelesaikan permasalahan di daerah. Menurutnya, di tengah keterbatasan adalah dengan kolaborasi.
“Bapperida harus terbuka, mau berkolaborasi dengan universitas, kelompok masyarakat, juga dengan BRIN terkait dengan teknologi dan inovasi. Kemudian dirumuskan sebagai suatu aksi nyata yang dapat dilakukan oleh daerah dan masyarakat,” tegasnya.
Terakhir, lanjut Wiwiek, inovasi perlu dipahami sebagai bentuk berkelanjutan, invensi terhadap produk baru. Kemudian, pentingya peningkatan nilai tambah yang berorientasi pasar, dan pemanfaatan maupun komersialisasi.
“Peran Bapperida sangat besar dalam proses bisnis inovasi ini, Bapperida sebagai badan yang melakukan perencanaan pembangunan di daerah. Sekaligus sebagai pelaksana koordinasi dan sinkronisasi riset dan inovasi di daerah, yang akan menjadi aktor utama terjadinya proses ini,” ujar Wiwiek.
Kepala Bapperida Provinsi Papua Selatan Ulmi Listianingsih, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran riset dan inovasi sebagai bagian dari penggerak pembangunan.
“Tujuan Rakor untuk meningkatkan layanan publik, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat guna peningkatan daya saing daerah. Sasaran spesifik yang ingin dicapai adalah tersusunnya arah dan kebijakan terkait inovasi daerah. Terciptanya SDM yang menangani dan mengimplementasikan inovasi daerah di Provinsi Papua Selatan, dan tercapainya mutu inovasi daerah pada penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Papua Selatan,” jelasnya.
Willem Andrew Da Costa Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Papua Selatan, dalam pembukannya menyatakan, untuk mempercepat tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan, maka riset dan inovasi mutlak dilaksanakan oleh pemda.
“Secara umum rakor dilakukan untuk terstrukturnya arah dan kebijakan inovasi daerah, terciptanya SDM yang memahami dan mengimplementasikan inovasi daerah dan tercapainya mutu inovasi daerah. Diharapkan semua program yang dihasilkan akan sesuai kebutuhan prioritas yang dibutuhkan Masyarakat,” ungkap Willem.
Penguatan bagi pelaku riset dan inovasi di Papua Selatan ini merupakan bagian dari rangkaian Sosialisasi dan Pameran Inovasi yang telah dilakukan pada 21 Mei 2024. Acara dihadiri oleh seluruh perangkat daerah Provinsi Papua Selatan, Bapperida Kabupaten se Papua Selatan, dan perguruan tinggi di Papua Selatan.
Sedangkan untuk Rapat Koordinasi dan Pameran Inovasi yang dilaksanakan selama dua hari selama dua hari pada 21-22 Mei 2024 diikuti oleh 4 Kabupaten di dalam cakupan Provinsi dan Universitas Musamus Merauke. Dihadiri oleh BRIN dan BSKDN Kemendagri selaku pembina riset dan inovasi di pemda, serta seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan.
Provinsi Papua Selatan merupakan Daerah Otonomi Baru hasil pemekaran Provinsi Papua yang baru terbentuk pada 2022. Provinsi ini membawahi 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Asmat.
Provinsi Papua Selatan saat ini sedang meletakkan dasar-dasar pembangunan di segala bidang untuk mempersiapkan Papua Selatan sebagai provinsi yang maju dan sejahtera. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemprov berupa peningkatan kualitas SDM, dan pemberdayaan masyarakat berbasis produk yang memiliki nilai ekonomi
