Kisah Toleransi Beragama Bersemi di Perkampungan Jogja

Kisah Toleransi Beragama Bersemi di Perkampungan Jogja

Suara Yogyakarta – Bangunan joglo seluas 225 meter persegi berdiri megah di tengah perkampungan padat penduduk di Jalan Setiyaki, Wirobrajan, Kota Jogja. Dikelilingi pekarangan seluas lebih dari 1.700 meter persegi dan pepohonan rindang, cuaca panas Jogja Selasa (17/1) siang tak terasa kala menginjakkan kaki di bangunan yang telah berusia 49 tahun atau hampir setengah abad ini.

Meski dimiliki dan digunakan sebagai tempat ibadah para penghayat kepercayaan dari Paguyuban Sumarah DIY, Pendapa Sumarah telah berkali-kali menjadi tempat ibadah warga dari beragam agama. Mulai dari Kristen, Katolik hingga Islam.

Kisah berseminya kerukunan beragama di tengah perkampungan Jogja itu diceritakan Nugroho, pengelola Pendapa Sumarah sekaligus Sekretaris Paguyuban Sumarah DIY. Masih lekat di ingatan lelaki 49 tahun ini, sejak pendapa pertama kali didirikan oleh ayahnya Sukinohartono pada 1974. Kala itu, setiap bulan Ramadan tiba, umat Islam di kampungnya berbondong-bondong menunaikan salat tarawih di pendapa ini. “Pengajian dulu juga pernah dilakukan di sini, saya waktu itu masih kecil, di sini sudah ramai [warga dari beragam agama beribadah di pendapa],” tutur Nugorho ditemui di Pendapa Sumarah saat acara peluncuran dan diskusi buku berjudul Derita Kelompok Minoritas Agama, Penghayat Kepercayaan dan Transgender yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Selasa.

Salat tarawih berjemaah di pendapa itu terus berlangsung hingga awal 2000-an, dan baru berhenti setelah sebuah masjid berdiri di kampung Wirobrajan.

Tak hanya umat Islam yang beribadah di tempat ini. Ningrum, istri Nugroho yang juga pengelola Pendapa Sumarah menceritakan hingga saat ini, Pendapa Sumarah masih digunakan oleh umat Kristiani untuk menggelar ibadah Natal dan misa. “Kalau Natal dan misa masih sering, hanya sempat berhenti waktu pas pandemi,” ungkap Ningrum.

Pada malam-malam tertentu, terutama setiap Kamis malam dan pada malam 17 Agustus, para penghayat kepercayaan dari Sumarah Jogja juga beribadah di tempat ini. Ibadah para penghayat kepercayaan biasanya dimulai pukul delapan hingga 12 malam.

Bagi ibu tiga anak ini, praktek kerukunan beragama sudah berurat akar di Wirobrajan. Saat momen Idulfitri, giliran suaminya dan warga Kristiani lainnya yang membantu persiapan salat Id berjemaah di lapangan untuk warga muslim. “Warga penghayat dan nonmuslim juga membantu menyiapkan masjid saat hari raya,” kata Ningrum yang juga merupakan warga penghayat kepercayaan.

Ningrum dan suaminya Nugroho yang menganut agama lokal minoritas menilai perbedaan pandangan antar-umat beragama merupakan hal biasa. Sesekali pernah muncul riak konflik dari warga agama mayoritas yang menyoal aktivitas peribadatan warga penghayat di Pendapa Sumarah. Namun hal itu bisa diselesaikan dengan baik. Terpenting menurut Nugroho, adalah cara kita membuka diri, berkomunikasi yang baik serta berbaur di masyarakat.

“Pernah dulu ada warga luar yang mengontrak di sini, bilang di sini [Pendapa Sumarah] tempat orang musyrik. Tapi akhirnya kami jelaskan, bahwa warga penghayat kepercayaan itu dilindungi undang-undang. Kebetulan saya juga pengurus RW di sini. Akhirnya setelah dijelaskan tidak masalah. Mungkin mereka protes karena tidak tahu saja. Tapi kalau dijelaskan dengan baik pasti mereka akan mengerti,” kata Nugroho.

Nugorho tak memungkiri beberapa tahun belakangan, ektremisme dan konservatisme beragama menguat di Tanah Air. Kondisi itu sedikit banyak memunculkan stigma-stigma negatif terhadap kelompok minoritas seperti kalangan penghayat kepercayaan. Padahal kata dia, di Paguyuban Sumarah tidak ada paksaan bagi anggotanya untuk memilih menganut kepercayaan atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *