Jogja Tidak Pernah Menyerah

Jogja Tidak Pernah Menyerah

Kita pernah hidup dibawah penindasan dan penjajahan Belanda dan Jepang. Apakah kita menyerah ? Tidak !
Jiwa raga dikorbankan untuk meraih yang namanya kemerdekaan. Alhamdulillah pengorbanan itu tidak sia sia. 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diraih. Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan didukung 100% Rakyat Indonesia yang tidak menyerah melawan penjajahan. Mengapa tidak menyerah ? Karena punya cita cita: Merdeka. Mari belajar bagaimana berjuang dan tidak pernah menyerah dari banyak kusuma bangsa Indonesia dari Jogja. Mari kita belajar dari Sultan Hamengkubowono IX, KGPAA Pakualam VIII. Mari kita belajar untuk tidak menyerah dari Ki Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Kahar Muzakir, Ki Hajar Dewantoro dan banyak tokoh pejuang kemerdekaan yang lain.

Sesaat setelah kemerdekaan, penjajah Belanda kembali datang. Apakah kita menyerah ? Tidak. Letnah Abdul Jalil dan Letnan Husen meninggal dalam pertempuran melawan Belanda di Sleman. Apa yang membuat tidak menyerah? Cinta kemerdekaan. Sekarang bisa lihat semangatnya di monumen Plataran, Selomartani, Kalasan. Sejarah membuktikan Jogja tidak pernah menyerah

Waktu berlalu … Belanda beserta sekutunya terus mencoba menjajah Indonesia. Ibukota Jakarta genting dan tidak aman. Apakah Jogja menyerah? Tidak ! Dengan jiwa besar, Jogja menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, dipindahkan dari Jakarta. Sultan Hamengkubuwono IX dan KGPAA Pakualam VIII bersama rakyat bahu membahu bergotong rotong menjaga Ibukota yang baru dipindah dari Jakarta ke Jogja. Kembali sejarah membuktikan Jogja tidak pernah menyerah.

Waktu berjalan … Gempa 2006, Merapi 2010. Bencana alam. Banyak korban jiwa, sakit dan rumah bangunan sarana prasarana rusak. Apakah kita menyerah? Tidak. Gotong royong, kerja keras, keikhlasan menolong, kesukarelawanan dan doa nyenyuwun lan memuji kepada Allah, menjadi kekuatan yang sangat hebat sehingga kita bisa keluar dari dampak buruk bencana alam. Kita mampu bangkit. Untuk yang kesekian kembali terbukti Jogja tidak pernah menyerah.

Waktu terus melangkah … sekarang 2021.

Sudah lebih 16 bulan kita dihadapkan pada Pandemi Covid19. Ada yang positif dan isolasi mandiri dirumah. Ada yang positif dan tinggal dishelter shelter. Ada juga yang sakit dan dirawat dirumah sakit. Tidak sedikit pula yang meninggal akibat Covid19.


Apakah kita menyerah? Tidak ! Para dokter dengan penuh kasih sayang merawat pasien, perawat menjaga pasien. Relawan kerja siang malam membantu mulai penyemprotan disinfektan, pembagian masker, makanan. Relawan yang siang malam berjuang, ada yang vaksinasi, ada juga yang memakamkan jenazah yang sebelumnya terpapar Covid. Apakah tidak dengan resiko mereka berjuang? Sangat beresiko terpapar Covid.

Sudah ada dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang meninggal karena Covid. Mereka selama ini dengan sukarela menolong pasien yang terpapar Covid.

Matur nuwun para dokter dan perawat yang terus berjuang membantu menyembuhkan pasien yang terpapar Covid19.

Tapi apa yang membuat mereka tidak menyerah? Keikhlasan menolong sesama.

Perjuangan para dokter, perawat, sopir ambulan, relawan, dan banyak lagi orang orang yang ikhlas menolong harus kita dukung penuh dengan usaha kerja perjuangan dan doa.

Mari kita buktikan seperti sejarah sejarah sebelumnya, bahwa Jogja tidak pernah menyerah.

Kita punya semangat, kita punya jiwa tidak pernah menyerah dan kita punya keyakinan, bahwa kita akan bangkit dan menang !

Kita, adalah Jogja yang tidak pernah menyerah.

Kita, adalah Merah Putih yang pantang menyerah

Semoga Allah membantu menolong kita semua yang siang malam berjuang melawan Pandemi Covid19.
Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *