Ironi Aksi Gejayan yang Tak Pro Rakyat

Ironi Aksi Gejayan yang Tak Pro Rakyat

Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) kembali turun ke jalan dan menggelar aksi penolakan terhadap RUU Omnibus Law di pertigaan Jalan Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman pada Kamis (16/7/2020) siang mulai pukul 14.00 WIB.

Humas ARB Revo mengatakan, “aksi ini tetap menerapkan protokol kesehatan bukan karena menerima anjuran pemerintah, namun karena kepedulian peserta aksi terhadap kesehatan”. Pernyataan ini akankah menuai banyak pertanyaan bagi semua orang ? benarkah protokol kesehatan atau hanya syarat untuk aksi ???

Pada kenyataannya banyak protokol kesehatan yang terabaikan dan tidak tertangkap kamera media, mulai dari tidak mengenakan masker hingga mengabaikan physical distancing, hal tentu saja hal ini tidak lepas dari lensa kami.

Dalam aksinya Revo mengatakan, penolakan terhadap RUU Cipta Kerja digelar karena rancangan aturan itu akan merampas hak-hak dasar warga negara dari sisi ketenagakerjaan, lingkungan, keamanan dan pendidikan.

Kembali lagi, meski tajuk yang diusung adalah demi menyelamatkan nasib rakyat, buruh atau pekerja, namun ironisnya aksi tersebut justru mempersulit warga masyarakat disikitar jalan Gejayan untuk mencari rezeki, menutup akses jalan, dan membuat warung atau pertokoan sepi pembeli.

Salah satu netizen @kula_wong_ndeso yang mengaku sebagai tukang parkir melalui media sosial instagram pada postingan @jogja24jam mengeluhkan sepinya pelanggan parkir, ia mengatakan “Mesake aku le njogo parkir dadi sepi, kenapa ga langsung ke DPRD aja, kalian menuntut pemerintah ya di pusat pemerintahan jangan di pusat orang cari duit, jaman reformasi aku Yo melu medun neng alun2 mbengok2 og”

Banyak driver ojek online (ojol) yang mengaku kesulitan untuk menuju resto maupun menjemput penumpangnya. “wah mumet tenan (pusing sekali) mbak , jalan e ditutupi mau ke resto susah, ga tau kalo di gejayan ada demo, untungnya saya ga dikasih bintang satu sama customer” kata Nugroho, salah satu pengemudi ojek online yang saat itu diminta untuk memutar balik oleh polisi lalu lintas yang mengamankan jalannya aksi.

Selain itu pemilik pertokoan di wilayah gejayan, ernie mengatakan “kalo ada demo pasti sepi mba tokonya, apalagi kalo yang aksi mahasiswa itu biasanya lama, apalagi aksinya mulai siang – siang gini, bisa sampe sore. Padahal toko itu mulai rame ya jam segini (14.30).”

Dari dua pernyataan masyarakat sekitar tersebut bisa kita ketahui bahwa maksud baik tidak selamanya baik, semua aspek harus diperhatikan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Mahasiswa harus lebih peka lagi terhadap lingkungan dan kondisi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *